Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- UGM Pastikan Penanganan Kasus Kekerasan Berbasis Gender Online Adil & Transparan
- Hati-Hati Penipuan Jalur Masuk UI, Warga Semarang Rugi Rp 380 Juta
- Tiga Singa Terkam Narodak, Harry Kane Ikut Cetak Gol
- Marko Dugandzic Jadi Rekrutan Terakhir Bali United
- Jeda Liga Dimanfaatkan Persebaya Buat Genjot Fisik Pemain
Kolintang Indonesia Bersiap Tampil di Paris Usai Diakui UNESCO
Kamis, 17 September 2026 20:16 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Musik Kolintang Indonesia bersiap tampil di Paris, Prancis, setelah mendapat pengakuan UNESCO sebagai warisan budaya takbenda dunia. Persatuan Insan Kolintang Nasional Indonesia (PINKAN) akan membawa grup Rhythm of Minahasa (RoM) untuk memperkenalkan musik tradisional asal Minahasa tersebut kepada publik internasional.
RoM dijadwalkan berada di Paris pada 27 September hingga 2 Oktober 2026. Dalam kunjungan tersebut, RoM akan tampil dalam sejumlah agenda yang digelar Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) dan kantor pusat UNESCO di Paris.
Ketua Umum PINKAN Indonesia Penny Iriana Marsetio mengatakan, keberangkatan RoM merupakan kesempatan penting untuk memperkenalkan kemampuan musik Kolintang di panggung internasional.
"Kami mendapat undangan dari KBRI dan kantor pusat UNESCO di Paris. Ini menjadi kesempatan bagi Kolintang Indonesia untuk tampil sekaligus memperkenalkan kekayaan musik asal Minahasa kepada masyarakat internasional," ujar Penny dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (17/9/2026).
Selain agenda KBRI dan UNESCO, RoM juga mendapat undangan dari Wali Kota Paris untuk tampil di Place des Muguets. Ruang terbuka tersebut digunakan sebagai sarana edukasi budaya bagi generasi muda.
Penny berharap penampilan tersebut dapat membuka perhatian publik internasional terhadap Kolintang. Para pemain akan menunjukkan bahwa alat musik tradisional Indonesia itu mampu memainkan berbagai jenis musik.
"Dengan adanya kesempatan untuk menunjukkan kehebatan musik Kolintang, diharapkan mata dunia akan terbuka," katanya.
Baca juga : Cegah Karhutla Sepanjang Tahun, Pakar: Penanganan Jangan Menunggu Musim Kemarau
RoM dipimpin Ferdinand Soputan. Sementara muhibah musikal ke Paris dipimpin Dr. Franki Raden, komponis dan etnomusikolog yang turut terlibat dalam perjalanan pengakuan Kolintang di UNESCO.
Untuk penampilan di Paris, RoM menyiapkan repertoar yang beragam, mulai dari musik nasional, lagu daerah, jazz hingga musik klasik. Salah satu karya klasik yang akan dimainkan menggunakan Kolintang adalah Alla Turca.
Penny mengatakan, pemilihan repertoar tersebut sengaja dilakukan untuk memperlihatkan kemampuan Kolintang memainkan berbagai genre musik.
"Kolintang bukan hanya bisa memainkan lagu-lagu tradisional. Kami ingin menunjukkan bahwa Kolintang juga dapat memainkan jazz, musik klasik, lagu daerah, maupun musik nasional," ujarnya.
Pengakuan UNESCO terhadap Kolintang diberikan pada 5 Desember 2025. Pengakuan tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan panjang musik Kolintang menuju panggung budaya dunia.
Kementerian Kebudayaan RI kemudian menetapkan 5 Desember sebagai Hari Kolintang Nasional.
Pelatih Senior Kolintang IPKOLINDO Frans Ratag mengatakan, perjalanan Kolintang ke berbagai negara sebenarnya telah berlangsung sejak lama. Frans yang kini berusia 82 tahun masih aktif mengajar Kolintang di Jakarta, Bogor, Depok hingga Bandung.
Baca juga : Karhutla Belum Padam Total, BNPB Siaga Hingga Musim Hujan Datang
Ia juga pernah mengajar dan memainkan Kolintang di sejumlah kota di luar negeri, antara lain Amsterdam, Manila dan Madrid.
"Saya pernah mengajar Kolintang di Amsterdam, di Manila, sampai ke Madrid, Alhambra," ujar Frans.
Menurut Frans, pengalaman tampil di luar negeri memberikan pelajaran penting bagi pemain Kolintang, termasuk dalam memilih repertoar yang akan dibawakan.
Ia mengingatkan para pemain yang akan tampil di Paris untuk memperhatikan ketentuan penggunaan karya musik. Pengalaman tersebut pernah dialaminya ketika tampil di Amsterdam pada era 1970-an bersama grup Kolintang Gema Welang.
Saat itu, grupnya sempat mendapat teguran karena hendak membawakan lagu populer yang memiliki ketentuan penggunaan tertentu.
"Kalau tampil di luar negeri, kita harus memperhatikan lagu yang dibawakan. Jangan sampai karena tidak memahami ketentuannya, justru menimbulkan persoalan," kata Frans.
Sementara itu, Franki Raden mengatakan, keberangkatan Kolintang ke Paris memiliki arti khusus setelah musik tersebut memperoleh pengakuan UNESCO sebagai warisan budaya takbenda dunia.
Baca juga : BMKG: Musim Hujan Baru Datang pada Pertengahan Oktober
Ia meminta dukungan masyarakat dan media untuk ikut memperkenalkan kunjungan Kolintang ke Paris.
"Sekarang Kolintang sudah menjadi milik dunia. Walaupun tetap aslinya punya kita, Minahasa, Indonesia," kata Franki.
Menurut Franki, pengakuan UNESCO membawa konsekuensi bagi Indonesia untuk menerima posisi Kolintang sebagai bagian dari warisan budaya dunia. Namun, pengakuan tersebut tidak menghilangkan asal-usul dan identitas Kolintang yang melekat pada masyarakat Minahasa dan Indonesia.
Pengusulan Kolintang ke UNESCO sebelumnya berasal dari komunitas Kolintang di Minahasa. PINKAN kemudian menjadi organisasi tingkat nasional yang berperan dalam proses perjuangan pengakuan tersebut bersama Perwakilan Indonesia untuk UNESCO di Paris.
Kini, setelah pengakuan UNESCO diperoleh, rangkaian penampilan di Paris menjadi salah satu langkah lanjutan untuk memperkenalkan Kolintang kepada masyarakat internasional.
Melalui RoM, musik Kolintang akan hadir dalam sejumlah agenda budaya dengan membawakan repertoar lintas genre. Penampilan tersebut sekaligus menjadi kesempatan bagi para pemain untuk menunjukkan perkembangan musik tradisional Indonesia di panggung internasional.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya