Dewan Pers

Dark/Light Mode

Menteri Bahli: Saat Ini Investasi Bukan Lagi Jawa Sentris, Tapi Indonesia Sentris

Rabu, 25 Januari 2023 20:56 WIB
Menteri Investasi/Kepala BKPM, Bahlil Lahadalia. (Foto: Ist)
Menteri Investasi/Kepala BKPM, Bahlil Lahadalia. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Bahlil Lahadalia menyebut, kondisi ekonomi dunia di 2023 sedang tidak baik-baik saja. Mulai dari adanya permasalahan konflik Rusia-Ukraina, perubahan iklim, pasca pandemi Covid-19, hingga yang sedang panas adalah potensi konflik China-Taiwan.

Meski begitu, Bahlil meyakini, perekonomian Indonesia memiliki harapan karena pertumbuhan di kuartal III-2022 pertumbuhan ekonomi masih di angka 5,72 persen dan inflasi di bawah angka 6 persen. “Kalau bisa dibilang sebenarnya ekonomi Indonesia masih baik-baik saja kalau dikelola secara baik,” katanya dalam Sharia Economic dan Investment Forum 2023 secara virtual, Rabu (25/1).

Menurut Bahlil, pertumbuhan ekonomi di Indonesia dipacu oleh investasi dalam negeri yang sudah menyebar di seluruh Indonesia. Sejak tahun 2020 lalu, realisasi investasi dalam negeri sudah diarahkan ke luar Pulau Jawa. Di tahun 2022, realisasi investasi di Indonesia mencapai Rp 1.207 triliun melebihi target yang ditetapkan oleh presiden di angka Rp 1.200 triliun.

Berita Terkait : Jokowi: Tak Ada Resesi Seks Di Indonesia

Untuk kebijakan negara ke depan adalah membangun investasi dengan basis hilirasi, karena mampu menciptakan lapangan kerja, memberi nilai tambah, dan memberikan kesejahteraan pada masyarakat.

Diungkapkan Bahlil, sampai tahun 2019 investasi di Pulau Jawa masih lebih besar. Tapi sudah ada instruksi dari Presiden Jokowi di tahun 2020 kita melakukan penetrasi dan sejak kuartal III-2020 investasi di luar Pulau Jawa lebih besar investasinya.

“Dulu saya selalu berpikir bahwa seolah-olah keadilan ekonomi tidak merata dan terkesan Jawa sentris, tapi sekarang investasi kita buat menjadi Indonesia sentris. Sekarang 5 besar realisasi investasi asing berada di Provinsi Sulawesi Tengah, Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten, dan Maluku Utara,” ujarnya.

Berita Terkait : Bahlil Happy, Realisasi Investasi 2022 Lampaui Target Presiden Jokowi

Investasi di Aceh, kata Bahlil, masih jauh dari kata maksimal. Karena di tahun 2022 lalu investasi Tanah Rencong hanya Rp 6,2 triliun dan menempati urutan ke 27 dari 34 provinsi di Indonesia.

Ia juga menyebut bila Aceh dan Papua memiliki kemiripan yang sangat kental. Otonomi khusus yang didapatkan kedua provinsi tersebut sekarang adalah hasil dari yang proses panjang, dan salah satu yang terus dikejar adalah kesejahteraan.

Indonesia menurut Bahlil, merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia makanya sekarang kita sedang coba untuk investor dari Timur Tengah, tapi yang datang malah dari Korea Selatan, Jepang, Eropa, dan Amerika, mereka-mereka ini yang malah agresif.

Berita Terkait : Pengamat UMKM Apresiasi Perhatian Presiden Ke Startup Dan UMKM Di Indonesia

“Makanya sekarang kita sedang cari formulasi lain. Saya akan menawarkan industri di aceh tapi keuangannya dari bank syariah, fokusnya pada hilirasi, smelter, atau yang lain dari bahan baku yang ada di Aceh,” kata dia.