Dark/Light Mode

Demi Keselamatan, Dirjen Hubud Terus Pantau Aktivitas Gunung Anak Krakatau

Rabu, 2 Januari 2019 13:43 WIB
Erupsi Gunung Anak Krakatau, beberapa hari setelah longsorannya menimbulkan bencana tsunami Selat Sunda.
Erupsi Gunung Anak Krakatau, beberapa hari setelah longsorannya menimbulkan bencana tsunami Selat Sunda.

RM.id  Rakyat Merdeka - Pasca tsunami Selat Sunda yang meluluhlantakkan sebagian wilayah Banten dan Lampung, Dirjen Perhubungan Udara (Hubud) Kementerian Perhubungan (Kemenhub) terus memonitor aktivitas Gunung Anak Krakatau, yang longsorannya menimbulkan tsunami Selat Sunda.

Apalagi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi telah menaikkan status Gunung Anak Krakatau menjadi level III Siaga. Sebab, gempa letusan dan semburan abu vulkanik yang dikeluarkan berpotensi membawa dampak terhadap operasional penerbangan di wilayah tersebut.

Baca juga : Kawal Keselamatan Penerbangan, Ditjen Hubud Intensifkan Rampcheck

Namun hingga Selasa (1/1), Ditjen Perhubungan Udara belum mendapat laporan Notam khusus penutupan bandara dari AirNav Indonesia selaku pengatur lalu lintas udara. Pengalihan dan reroute penerbangan sempat dikeluarkan pihak Airnav Indonesia melalui NOTAM A5440/18 perihal Penutupan dan Reroute akibat sebaran abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau. Namun, hanya beberapa saat saja seiring menurunnya aktivitas gunung tersebut.

Dalam hal koordinasi dan komunikasi penanganan abu vulkanik, Ditjen Hubud melalui Direktorat Navigasi Penerbangan telah membangun sistem informasi yakni I-WISH (Integrated Webbased aeronautical Information System Handling). Dalam sistem ini, stakeholder menyampaikan informasi yang dikuasai terkait tugas dan fungsi serta kewenangannya dalam hal penanganan abu vulkanik atau yang lebih dikenal dengan CDM (Collaborative Decision Making).

Baca juga : Pagi Ini, Status Anak Krakatau Level 3 Siaga

Dirjen Perhubungan Udara, Polana B. Pramesti meminta jajarannya untuk intensif memonitor secara berkala sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau, dan selalu berkoordinasi dengan pihak terkait. “Operasional di bandara terdekat masih berjalan normal. Namun, saya tetap minta untuk selalu memonitor informasi yang disampaikan. Baik dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), BMKG, maupun dari sumber lain. Termasuk, aplikasi I-WISH. Selanjutnya, Airnav agar mendistribusikan informasi tersebut melalui NOTAM kepada airlines dan bandara”, pungkas Polana. [HES]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.