Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Prabowo di KTT BRICS: Indonesia Tidak Suka Didikte Kekuatan Tertentu
- Hari Ke-6, Tim SAR Perluas Pencarian 5 Jurnalis-3 Kru Kapal di Selat Sunda
- Telkomsel Luncurkan Halo Optima Hadirkan Kuota Hingga 2.000 GB
- Luka Menalo Kecewa, Igor Tolic Minta Maaf
- Roll To Glory FIFA ASEAN Cup 2026 Meriahkan CFD Jakarta
Sebelumnya
Dosen Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM) Nanung Danar Dono mengatakan, untuk mencegah penularan meluas, lahan tempat penyembelihan dan penguburan hewan ternak yang terpapar antraks seharusnya tidak digunakan lagi untuk aktivitas apa pun.
Soalnya, lahan itu kemungkinan besar telah terpapar spora yang bisa menularkan antraks. Untuk memastikan tak ada aktivitas lagi di sana, Pemerintah diminta membeli lahan tersebut.
Baca juga : JIS Baiknya Diserahkan Ke Persija Saja Deh...
“Itu kan bisa dilacak matinya di mana, disembelih di mana. Mestinya Pemerintah mengambil alih. Tanah di situ dibeli dengan ganti untung agar tidak lagi dipakai untuk selamanya,” ingatnya.
Untuk diketahui, penularan penyakit antraks terjadi di Dusun Jati, Desa Candirejo, Kecamatan Semanu, Gunung Kidul.
Baca juga : Edo Kondologit: Jokowi Presiden Terbaik Dan Ada Di Hati Rakyat Papua
Akibatnya, satu orang meninggal dengan status positif antraks. Selain itu, 87 orang lain berstatus seropositif atau suspek antraks.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya