Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Komitmen Indonesia Atasi Sampah Plastik di Laut Dapat Apresiasi Dunia
Rabu, 2 Oktober 2019 12:53 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Komitmen Indonesia dalam mengatasi sampah plastik di laut, yang salah satunya ditunjukkan dengan Aksi Nasional Gerakan Bersih Laut dan Pantai pada 12 September 2019, mendapatkan apresiasi dalam pertemuan The 12th Cooperation Forum (CF), di Semarang, Jawa Tengah, Selasa (1/10). Pada kesempatan itu, Indonesia menyampaikan bahwa aksi Nasional Gerakan Bersih Laut dan Pantai juga tercatat dalam Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai rekor dunia dalam pelaksanaan gerakan bersih laut dan pantai serentak di 228 lokasi yang melibatkan juga masyarakat sekitar dan stakeholder terkait.
“Prestasi ini menunjukkan bahwa isu pengurangan sampah plastik menjadi salah satu prioritas utama yang menjadi perhatian di dunia maritim Indonesia,” ujar Dirjen Perhubungan Laut (Hubla), Kementerian Perhubungan (Kemenhub), R Agus H Purnomo, usai menutup resmi pertemuan CF yang diselenggarakan di bawah kerangka kerja sama Cooperative Mechanism terkait keselamatan pelayaran dan perlindungan lingkungan maritim di Selat Malaka dan Selat Singapura.
Pada kesempatan tersebut, Indonesia menegaskan komitmennya untuk mengurangi sampah plastik. Itu ditunjukkan dengan keterlibatan Indonesia pada forum-forum Internasional yang membahas mengenai penanggulangan dan pengurangan sampah plastik.
Baca juga : Barista Indonesia Juara Kompetisi Di Qatar
Pada level ASEAN, Indonesia mendukung terwujudnya Deklarasi Bangkok tentang Penanggulangan Sampah Laut di Wilayah ASEAN yang diadopsi oleh negara-negara ASEAN pada Pertemuan ASEAN Summit ke-34 di Thailand pada 22 Juni 2019. Sedangkan di tingkat global, Indonesia mengusulkan sebuah resolusi pada Pertemuan UNEA ke-4 untuk mendirikan Regional Capacity Center for Clean Seas (RC3S) di Bali, dan juga mengusulkan kepada IMO untuk memiliki Marine Litter Action Plan.
Pada pertemuan CF tersebut, Indonesia juga telah menyampaikan beberapa hal yang telah dilakukan terkait isu keselamatan navigasi pelayaran di Selat Malaka dan Selat Singapura, perlindungan lingkungan maritim, serta kebijakan serta pandangan ke depan terkait keselamatan pelayaran diantaranya update terkini tentang penetapan Traffic Separation Scheme (TSS) di Selat Sunda dan Selat Lombok. Selain itu, Indonesia juga telah menginformasikan kepada Forum bahwa saat ini tengah melakukan studi tentang e-Navigasi di perairan Indonesia yang terdiri dari konsep e-Navigasi dan program pengembangannya. Indonesia berharap dapat bekerja sama dengan Malaysia dan Singapura untuk mengembangkan konsep umum e-Navigasi regional di Selat Malaka dan Selat Singapura, yang dapat membantu pertukaran informasi antara ketiga Negara Pantai.
Forum juga membahas tentang isu tumpahan minyak dan bagaimana cara penanggulangannya. Terkait dengan hal tersebut, Indonesia menyampaikan pandangannya bahwa negara-negara pantai harus meninjau dan memperbarui sistem pelaporan kapal pada saat kapal transit di Selat Malaka dan Selat Singapura, terutama kapal yang mengangkut minyak serta barang beracun dan berbahaya.
Baca juga : Kemenperin Temukan Inovasi Cara Ubah Sampah Plastik Menjadi BBM
Pertemuan rutin yang dilakukan setiap tahunnya secara bergiliran oleh ketiga negara pantai atau Littoral States yaitu Indonesia, Malaysia, dan Singapura tersebut merupakan wadah utama bagi negara pengguna, industri pelayaran serta stakeholder lain untuk duduk bersama membahas terkait keselamatan pelayaran dan perlindungan lingkungan maritim di Selat Malaka dan Selat Singapura.
Pertemuan tersebut dibentuk untuk mendorong terjadinya dialog dan tukar pandangan mengenai isu-isu di SOMS dan bertujuan untuk menampung masukan dari pengguna SOMS secara rutin. Pertemuan tersebut juga memfasilitasi kerja sama yang lebih nyata antara negara pantai, negara pengguna, industri pelayaran, dan stakeholder lainnya dalam menjaga keselamatan berlayar dan perlindungan lingkungan maritim di salah satu jalur pelayaran internasional tersibuk di dunia tersebut.
Tercatat, sebanyak 129 orang delegasi yang berasal dari sembilan negara dan tujuh organisasi hadir pada pertemuan yang ditutup Dirjen Hubla itu. Ada pun yang bertindak sebagai Acting Chairman dalam pertemuan dimaksud adalah Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Laut, Capt. Wisnu Handoko. Sementara yang menjadi Ketua Delegasi Indonesia adalah Direktur Kenavigasian, Basar Antonius, Ketua Delegasi Malaysia adalah Direktur Jenderal Departemen Maritim Malaysia Dato’ Hj. Baharin Abdul Hamid. Sedangkan delegasi Singapura dipimpin oleh Chief Executive Maritime and Port Authority of Singapore (MPA), Madam Quah Ley Hoon.
Baca juga : Kementan Ajak Investor Ambil Peluang di 4 Jenis Usaha Agribisnis
Sebelumnya, Pertemuan 12th CF dibuka resmi oleh Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi pada hari Senin (30/9). Saat itu, acara juga dihadiri Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. [USU]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya