Dark/Light Mode

Mahfud MD: Pancasila dan Islam Tak Bertentangan, Tapi Saling Menjiwai

Selasa, 26 November 2019 16:40 WIB
Mahfud MD (Foto: Faqih Mubarok/RM)
Mahfud MD (Foto: Faqih Mubarok/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Mahfud MD: Pancasila dan Islam Tak Bertentangan, Tapi Saling Menjiwai Menko Polhukam, Mahfud MD, menyatakan, Presiden Jokowi  berkomitmen menguatkan ideologi Pancasila. Hal itu disampaikan Mahfud saat seminar nasional deradikalisasi dan sejuta salawat untuk Rasulullah Muhammad  di Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, Medan, Selasa (26/11).

Selain Mahfud, hadir dalam acara ini, Wakil Ketua MPR, Ahmad Basarah; Gubernur Lemhanas, Letjed TNI (Purn) Agus Widjodjo; Stafsus Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Romo Beny Susetyo; Gubernur Sumut, Edy Rahmayadi, Wagub Sumut, Musa Rajecksah; serta Tuan Guru Batak dan Rektor UIN Sumatera Utara Saidurrahman.

"Waktu saya mewakili KAHMI memimpin rombongan Alumni Cipayung bersama Pak Ahmad Basarah dari Alumni GMNI, Pak Jokowi mengatakan bahwa ideologi Pancasila sudah final dan harus terus dimantapkan untuk menjaga NKRI," kata Mahfud.

Bentuk komitmen Presiden Jokowi lainnya, tambah Mahfud, yakni pembentukan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) untuk memantapkan ideologi negara di tengah masyarakat. "Pada masa kampanye Pilpres, Presiden Jokowi tegas menolak ideologi alternatif bagi Pancasila karena ideologi Pancasila bagi Indonesia takkan tergantikan," tegas eks Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) ini.

Baca juga : Trump ke Korut: Biden Lambat, Tapi Bukan Anjing Gila

Mahfud menentang pembenturan antara Islam dan Pancasila. Sebab, para ulama yang juga bagian dari pendiri bangsa, telah bersepakat Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara Indonesia. Para ulama pendiri bangsa telah melakukan ijtimak menetapkan Pancasila sebagai ideologi bangsa sebagai jalan tengah ideologi agama dan ideologi sekuler.

Ideologi Pancasila diambil sebagai bentuk kompromi dan kesepakatan menyatukan berbagai pendapat serta melihat kepluralitasan bangsa Indonesia baik suku, agama dan keyakinan. "Saya tegaskan, tidak ada masalah. Karena Islam dan Pancasila tidak bertentangan. Keduanya saling menjiwai," kata Mahfud.

Karenanya, dalam negara Pancasila, hukum negara tidak mesti memberlakukan hukum agama. Tetapi negara melindungi dan memberi proteksi kepada semua umat beragama tak terkecuali Islam untuk menjalankan keyakinannya masing-masing.

Mahfud menjelaskan, Islam tak pernah memaksakan orang lain untuk sama. Sebab, pluralitas adalah sunnatullah. Dalam Alquran, dijelaskan bahwa manusia sengaja dibikin bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar bisa saling kenal mengenal, saling menghormati dan menghargai serta untuk berlomba berbuat kebaikan.

Baca juga : Mau Urus Pajak Kendaraan Pribadi? Cek Lokasi Samling di Sini

"Bagi Allah, gampang saja membuat umat manusia itu hanya satu suku saja atau satu agama saja. Tapi Tuhan menciptakan ada pluralitas umat manusia, dengan satu tujuan agar bisa berlomba berbuat kebajikan," terangnya.

Nabi Muhammad SAW, terang Mahfud, juga telah memberikan contoh bagaimana menghargai perbedaan dan bertoleransi antar umat beragama lewat lahirnya Piagam Madinah. Nabi Muhamamd juga membawa ajaran rahmat bagi seluruh alam yang penuh dengan budi pekerti dan toleransi. "Islam bisa berkembang dengan pesat ke segala jazirah Arab dan belahan dunia lainnya karena disebarkan secara damai," ungkap Guru Besar Fakultas Hukum UII Yogyakarta ini.

Di tempat yang sama, Staf Khusus Dewan Pengarah BPIP, Romo Antonius Benny Susetyo, menjelaskan, tantangan terbesar di era digitalisasi ini adalah media online dan media sosial yang dijadiakan alat untuk memproduksi kebohongan secara terus menerus. Ini menimbulkan perpecahan. "Salah satu tantangan terbesar di era digitalisasi ini adalah kebohongan yang diproduksi secara terus menerus tanpa henti dan menyebar begitu cepat," jelas Romo Benny.

Selain itu, Romo menegaskan, tindakan radikalisme juga marak terjadi oleh orang yang menganut ideologi kematian yang diakibatkan rasa putus asa dan keterasingan. "Ideologi kematian adalah orang takut untuk hidup dan memilih mati. Ideologi ini tidak mengenal agama, seseorang merasa terasingkan dan putus asa. Akhirnya memilih pada kekerasan yang menghacurkan dirinya dan kemanusiaan," ungkap Romo.

Baca juga : Paloh Tak Berani Melawan Jokowi

Untuk membendung persoalan-persoalan ini, Romo menegeskan harus ada aktualisasi dan habituasi Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. "Untuk mengatasi persoalan ini harus ada kesadaran untuk mengkatualisasikan dan menghabituasikan Pancasila dan kehidupan sehari-hari. Sejak anak, nilai Pancasila harus ditanamkan dan dibiasakan," tegas Romo. [FAQ]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.