Dark/Light Mode

Pemerintah Target Indonesia Emas 2045

Peran Kelas Menengah Jadi Penggerak Utama Ekonomi

Rabu, 28 Agustus 2024 07:35 WIB
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menko Perekonomian) Airlangga Hartarto (tengah) bersama mantan Menko Perekonomian Darmin Nasution (kedua kiri), Aburizal Bakrie (kanan) dan Chairul Tanjung (kiri), serta Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menghadiri acara dialog berjudul Peran dan Potensi Kelas Menengah Menuju Indonesia Emas 2045 di Jakarta, Selasa (27/8/2024). (Foto: ANTARA FOTO/Muhammad Ramdan/AWW)
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menko Perekonomian) Airlangga Hartarto (tengah) bersama mantan Menko Perekonomian Darmin Nasution (kedua kiri), Aburizal Bakrie (kanan) dan Chairul Tanjung (kiri), serta Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menghadiri acara dialog berjudul Peran dan Potensi Kelas Menengah Menuju Indonesia Emas 2045 di Jakarta, Selasa (27/8/2024). (Foto: ANTARA FOTO/Muhammad Ramdan/AWW)

 Sebelumnya 
Bagi yang menyandung sta­tus pekerja formal, gaji bula­nan minimnya kini habis hanya untuk membeli makanan.

Daya beli pun kian tertekan untuk menggerakkan roda per­ekonomian, hingga mereka berujung turun kelas.

Kondisi itu tercermin dari data Mandiri Spending Index (MSI) yang menunjukkan porsi pengeluaran untuk groceries atau bahan makanan meningkat saat ini dari 13,9 persen menjadi 27,4 persen dari total pengeluaran.

Baca juga : Awasi Penyimpangan Laporan Dana Desa

Chatib Basri menjelaskan, data itu secara sederhana dapat dipahami bahwa ketika pendapatan masyarakat turun, mereka akan tetap mempertahankan konsumsi kebutuhan pokoknya, seperti makanan.

Jika pendapatan menurun, sedangkan konsumsi makanan tetap, maka porsi konsumsi makanan dalam total pengeluarannya akan meningkat.

“Itu sebabnya, kenaikan porsi makanan dalam total belanja mencerminkan menurunnya daya beli,” jelasnya.

Baca juga : Waspada, Tawaran Kerja Keluar Negeri Sasar Gen Z

Data semakin tertekannya kemampuan belanja masyarakat Indonesia, menurutnya, juga tergambar jelas dari munculnya fenomena makan tabungan pada kelompok menengah bawah. Penjualan mobil mengalami penurunan, sementara penjualan motor naik.

“Pembelian mobil baru menu­run. Orang membeli mobil bekas, atau bahkan pindah ke sepeda motor. Rangkaian data ini seperti datang dengan pesan daya beli kelas menengah bawah memang tergerus,” tuturnya.

Rentetan tekanan terhadap daya beli ini terjadi bukan hanya karena pandemi Covid-19. Se­bab, jumlah kelas menengah di Indonesia sudah terus merosot sejak 2019.

Baca juga : Tragis, Petahana Lampung Gagal Nyagub Di Detik Akhir

Chatib Basri mengatakan, data Bank Dunia mengungkap­kan pada 2018 kelas menengah sebesar 23 persen dari jumlah penduduk. Sedangkan 2019 tersisa 21 persen, seiring mem­bengkaknya kelompok kelas menengah bawah atau Aspiring Middle Class (AMC) dari 47 persen menjadi 48 persen.

Artikel ini tayang di Rakyat Merdeka Cetak edisi Rabu, 28 Agustus 2024 dengan judul Pemerintah Target Indonesia Emas 2045, Peran Kelas Menengah Jadi Penggerak Utama Ekonomi

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.