Dark/Light Mode

Daya Saing Naik, Investasi Asing Melejit

Jumat, 20 September 2024 08:25 WIB
Presiden Joko Widodo melakukan peninjauan langsung ke Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) di Kabupaten Mempawah, Provinsi Kalimantan Barat, pada Rabu, 20 Maret 2024. (Foto: BPMI Setpres/Muchlis Jr)
Presiden Joko Widodo melakukan peninjauan langsung ke Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) di Kabupaten Mempawah, Provinsi Kalimantan Barat, pada Rabu, 20 Maret 2024. (Foto: BPMI Setpres/Muchlis Jr)

RM.id  Rakyat Merdeka - Daya saing Indonesia dalam 10 tahun terakhir terus naik. Pada tahun ini, peringkat daya saing Indonesia naik ke posisi 27 dari 67 negara. Indonesia naik 7 peringkat dari posisi 34 pada tahun sebelumnya. Peringkat Indonesia ini ungguli Jepang dan Inggris.

Berdasarkan Riset Institute for Management Development (IMD) World Competitiveness Ranking (WCR) 2024 daya saing Indonesia di Asia Teng­gara berhasil menjadi tiga besar setelah Singapura dan Thailand.

Kenaikan peringkat daya saing tersebut didukung oleh peningkatan pada faktor efisiensi bisnis (dari peringkat ke-20 menjadi ke-14), efisiensi pemerintah (dari peringkat ke­-31 menjadi ke­-23), dan performa ekonomi (dari peringkat ke­-29 menjadi ke­-24).

Tidak hanya daya saing In­ donesia yang naik, kemudahan berbisnis di Indonesia juga mengalami peningkatan. Berda­sarkan ranking Ease of Doing Business (EODB) atau Kemu­dahan Berusaha yang dirilis Bank Dunia tahun 2023, pering­kat EODB Indonesia berada di urutan 73 dari 190 negara.

Grafis: Indonesia Baik

Baca juga : Alhamdulillah, Ekonomi Tetap Tumbuh & Stabil

Membaiknya kemudahan berbisnis di Indonesia dipenga­ruhi oleh berbagai reformasi kebijakan yang dilakukan oleh Pemerintah. Mulai dari penye­derhaan izin dengan penerapan Online Single Submission (OSS). Sistem ini memungkinkan pelaku usaha mendaftar dan mengurus izin secara daring, yang memper­cepat dan mempermudah proses mendapatkan izin usaha.

Pemerintah juga menerbitkan Undang­-Undang Cipta Kerja pada 2020, yang bertujuan untuk menyederhanakan berbagai regulasi yang sebelumnya diang­gap menghambat investasi.Re­gulasi ini mencakup banyak aspek, seperti perizinan, ketenegakerjaan, dan persyaratan ling­kungan, dengan tujuan mengu­rangi hambatan birokrasi bagi pengusaha.

Berbagai insentif pajak juga diberikan oleh pemerintah untuk menarik investasi. Mulai dari Tax Holiday dan Tax Allowance untuk investor asing dan pelaku industri yang berfokus pada inovasi teknologi serta energi terbarukan. Getolnya pemba­ ngunan infrastruktur juga ikut mempengaruhi investor masuk.

Berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), dari jumlah investasi yang masuk pada triwulan II­-2024 Rp 428,4 triliun, sebe­sar Rp 217,3 triliunnya merupakan Penanaman Modal Asing (PMA). Jumlah tersebut meningkat 6,3 persen dari tahun sebelumnya.

Baca juga : Prabowo Diberi Kebebasan Menentukan Jumlah Menteri

Sementara, jumlah Pena­naman Modal Dalam Negeri (PMDN) mencapai Rp 211,1 triliun, meningkat 7,1 persen dari tahun sebelumnya. Sektor investasi yang paling banyak adalah sektor pertambangan dan industri logam dasar, dengan angka investasi sebesar Rp 74,0 triliun. Hal ini seiring dengan program hilirisasi Pemerintah.

Salah satu investor yang ma­suk ke Indonesia adalah Hyun­dai dari Korea Selatan. Chief Operating Officer (COO) PT Hyundai Motors Indonesia, Fransiscus Soerjopranoto me­ngatakan, alasan Hyundai mau investasi di Indonesia karena banyaknya insentif dan kemu­dahan yang diberikan oleh Pe­merintah kepada investor.

Selain itu, kata dia, Pemerin­tah juga konsisten dalam mengembangan kendaraan ramah lingkungan dengan menge­luarkan Peraturan Presiden No 55 Tahun 2019 tentang Perce­patan Program Kendaraan Ber­motor Listrik Berbasis Baterai (Battery Electric Vehicle) untuk Transportasi Jalan.

“Apalagi pemerintah men­canangkan pemberian insentif tambahan untuk mobil lis­trik dengan TKDN minimal 40 persen, Hyundai semakin tertarik untuk melakukan inves­tasi,” ujarnya kepada Rakyat Merdeka, Jumat (13/9/2024).

Baca juga : 6 Juta Data NPWP Diretas Bjorka, Presiden Langsung Bereaksi Cepat

Karena itu, kata dia, Hyundai tak ragu untuk menanamkan investasi di Indonesia dengan membangun pabrik mobil listrik dan baterai di Indonesia dengan nilai mencapai 3 miliar dolar AS atau sekitar Rp 46 triliun. “Indonesia pun sekarang bisa memiliki pabrik baterai mobil listrik pertama di Asia Tengga­ra,” ujarnya. [DWI/DIR]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.