Dark/Light Mode

Tekan Jumlah Kasus TBC Di Indonesia

Menkes Harap Uji Klinis Vaksin Rampung 2028

Rabu, 23 Oktober 2024 07:25 WIB
Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin. (Foto: Tedy Octariawan Kroen/RM)
Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin. (Foto: Tedy Octariawan Kroen/RM)

 Sebelumnya 
Sementara, Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia Prof. Agus Dwi Susanto mewanti-wanti Pemerintah agar meningkatkan deteksi dan memastikan para penderita TBC diobati sampai tuntas agar kasusnya tak semakin besar.

Dia menjelaskan, gejala umum penyakt TBC adalah batuk kronik yang berlangsung lebih dari satu bulan disertai dahak ataupun tidak.

Gejala lainnya, jelas Agus, mengalami demam dan meriang dalam jangka waktu panjang, sesak napas dan nyeri pada dada, berat badan turun, dan ketika batuk terkadang dahak bercampur darah. Kemudian nafsu makan menurun dan berkeringat di malam.

“Jika mengalami gejala seperti itu, harus waspada dan segera berobat ke Puskesmas atau rumah sakit. Segera lakukan pemeriksaan,” cetusnya.

Baca juga : Masyarakat Bisa Bertanya Langsung Ke Cagub-Cawagub

Agus menegaskan, penyakit TBC bisa disembuhkan. Namun, pengobatannya berlangsung selama 6-8 bulan yang terbagi dalam dua tahap.

“Tahap awal, obat diminum setiap hari selama dua atau tiga bulan. Pada tahap akhir, obat diminum tiga kali seminggi selama empat atau lima bulan,” jelasnya.

Di media sosial X, netizen menilai pemahaman dan kesadaran masyarakat terhadap penyakit TBC masih rendah. Sebab itu, jumlah kasusnya sangat tinggi.

“Ada seorang pasien remaja terdiagnosa TBC Paru sejak 2022, sudah diarahkan untuk terapi OAT (Obat Anti TBC) selama 6 bulan, tapi tidak diminum karena diberitahu “TETANGGA” kalau OAT itu berbahaya. Setelah 2 tahun pasien ini datang lagi dengan keluhan sesak berat dan sisa berat badan tinggal 31 kg (berat awal 60 kg),” ujar seorang dokter spesialis paru di RS Harapan Sehat, Aditya Alfarizi, dalam akun x miliknya @ADITYAALFARIZI.

Baca juga : Optimalkan Pertumbuhan UMKM Agar Berdaya Saing

“Itulah masyarakat kita dok. (kalau tidak percaya anjuran dokter) Suruh berobat ke tetangganya saja, ngapain ke dokter,” timpal akun @ivooaldriana_.

Sementara, akun @rezkiy_ mengatakan, masyarakat Indonesia masih percaya TBC bisa sembuh dengan mengkonsumsi resep obat-obatan herbal. Tapi, resep itu didapat dari informasi yang tidak diketahui sumber dan kebenarannya.

“Ujung-ujungnya, pasien TBC biasanya dikasi herbal oleh keluarganya, yang takaran obatnya nggak jelas dan dari informasi yang bersumber katanya-katanya,” ujarnya.

Akun @Sunshineerrr memiliki pendapat berbeda. Dia meminta Kemenkes mensosialisasikan pasien yang sudah sembuh dari TBC agar tidak menularkan ke orang lain.

Baca juga : 15 Kelurahan Nggak Punya Puskesmas, Layanan Kesehatan Di DKI Belum Merata

“Aku sudah sembuh dari TBC, tapi masih saja ada orang yang memandang aku kayak masih punya penyakit menular. Pengen nangis rasanya Pak Budi. Bahkan, terkadang setiap makan bersama, bekas gelas dan piring saya, itu dipisah tempat cucinya. Ya Allah, dokter saja bilang sudah aman,” curhatnya.

Artikel ini tayang di Rakyat Merdeka Cetak edisi Rabu, 23 Oktober 2024 dengan judul Tekan Jumlah Kasus TBC Di Indonesia, Menkes Harap Uji Klinis Vaksin Rampung 2028

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.