Dark/Light Mode

Bukan Menggantikan, Sekolah Rakyat Justru Melengkapi Sekolah yang Sudah Ada

Selasa, 25 Maret 2025 20:44 WIB
Foto: Oktavian/Rakyat Merdeka.
Foto: Oktavian/Rakyat Merdeka.

RM.id  Rakyat Merdeka - Ketua Tim Formatur Sekolah Rakyat (SR), Prof. M Nuh mengungkapkan, kehadiran SR bukan untuk menggantikan sekolah-sekolah yang sudah ada.

Kehadiran SR yang digagas Kementerian Sosial (Kemensos) itu, justru untuk melengkapi dan memperluas akses pendidikan bagi anak-anak yang belum bersekolah.

“Sekolah Rakyat hadir untuk melengkapi, bukan meniadakan sekolah yang sudah ada. Fokus kita adalah memastikan bahwa setiap anak mendapatkan haknya untuk belajar,” jelas Nuh dalam konferensi pers, di Gedung Kemensos, Jakarta Pusat, Selasa (25/3/2025).

Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) ini mengungkapkan, salah satu prinsip utama dalam pendirian SR adalah menjangkau anak-anak yang selama ini belum memiliki akses ke sekolah, baik karena kendala ekonomi, geografis, maupun faktor sosial lainnya.

SR hadir di lokasi yang memang membutuhkan intervensi pendidikan. Saat ini, ada 53 titik prioritas untuk tahap awal pendirian SR.

Baca juga : Teroris Papua Kembali Berulah

Pemetaan dilakukan berdasarkan tingkat kemiskinan dan jumlah anak usia sekolah yang belum mendapatkan pendidikan.

Nuh memastikan, pemetaan daerah dilakukan dengan cermat untuk memastikan SR tidak mengambil jatah sekolah lain.

Pemilihan ini didasari oleh desil-desil yang tercantum dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).

Dengan pendekatan ini, Nuh menegaskan bahwa SR tidak akan mengganggu sistem pendidikan yang sudah berjalan, tetapi justru menjadi solusi bagi daerah-daerah dengan angka putus sekolah yang tinggi.

Agar siswa dapat beradaptasi dengan baik di lingkungan belajar, program matrikulasi selama satu bulan akan diterapkan sebelum tahun ajaran baru dimulai pada pertengahan Juli mendatang.

Baca juga : Renovasi Kantin Sekolah Di Jakarta Lengkapi Program Makan Bergizi Gratis

“Matrikulasi ini penting untuk membekali siswa dengan kesiapan mental, sosial, dan akademik, sehingga mereka bisa mengikuti pembelajaran formal dengan lebih baik,” jelas Nuh.

Selain siswa, para guru yang akan mengajar di SR juga akan menjalani pelatihan terlebih dahulu. Mereka akan direkrut dari lulusan Pendidikan Profesi Guru (PPG) dengan persyaratan khusus.

Para guru akan menjalani pelatihan khusus yang tidak hanya berfokus pada kompetensi akademik, tetapi juga social empathy atau empati sosial.

“Sehingga mereka bisa memahami kondisi siswa dan mendukung mereka secara optimal,” tutur Nuh.

Sementara itu, kepala sekolah akan berperan sebagai project manager di setiap titik pendidikan, memastikan efektivitas pembelajaran serta keterlibatan masyarakat dalam mengelola sekolah.

Baca juga : Dukung Penuh Program Sekolah Rakyat, Gubernur Jateng Mulai Siapkan Lahan

Data menunjukkan, Angka Partisipasi Kasar (APK) SMA masih di angka 80 persen. Artinya, masih ada 20 persen anak yang belum bisa melanjutkan ke SMA.

“Ini menjadi target utama kita,” tutup Nuh.

Sementara Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kemensos Robben Rico menjelaskan, untuk menjaga kesinambungan dan keberlanjutan program, guru dan tenaga pendidik akan direkrut dari daerah sekitar sekolah.

“Hal ini bertujuan untuk memastikan adaptasi sosial yang lebih baik, sekaligus memperlancar distribusi tenaga pendidik di wilayah-wilayah yang membutuhkan,” jelas Robben.

Dengan strategi yang terstruktur dan pendekatan yang berbasis kebutuhan masyarakat, SR diharapkan dapat menjadi solusi nyata dalam mempercepat pemerataan pendidikan di Indonesia.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.