Dark/Light Mode

Pengendalian Inflasi Di Daerah

Tito Minta Pemda Perkuat Koordinasi Antar Lembaga

Rabu, 24 September 2025 06:55 WIB
Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah. (Foto: Dok. Kemendagri).
Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah. (Foto: Dok. Kemendagri).

RM.id  Rakyat Merdeka - Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian meminta Pemerintah Daerah (Pemda) yang tingkat inflasinya masih tinggi agar memperkuat koordinasi dengan sejumlah pihak terkait. Mulai dari Badan Pusat Statistik (BPS) hingga Bulog.

Hal itu disampaikan Tito pada Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah yang dirangkaikan dengan Pembahasan Evaluasi Dukungan Pemda dalam Program 3 Juta Rumah. Kegiatan itu dilakukan secara hybrid dari Gedung Sasana Bhakti Praja (SBP), Kantor Pusat Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Jakarta, Selasa (23/9/2025).

“Tolong duduk bersama dengan BPS setempat, kemudian Bulog, kemudian juga dengan Bank Indonesia yang ada di sana, perwakilan, bila perlu dengan asosiasi pengusaha, seperti Kadin atau Apindo untuk mencari penyebabnya apa,” pinta Tito.

Baca juga : Wabup Laporkan Bupati Jember Ke KPK, Gerindra Segera Lakukan Klarifikasi

Mantan Kapolri itu membeberkan daerah-daerah yang memiliki inflasi tinggi di atas 3,5 persen. Antara lain, Sumatera Utara, Sulawesi Tengah, Papua Selatan, Sulawesi Tenggara, Papua Pegunungan, Aceh, Riau dan Sulawesi Barat.

Dia mengingatkan daerah-daerah dengan inflasi tinggi, penanganannya tidak bisa dilakukan sendirian. Pasalnya, tingginya inflasi di suatu daerah bisa dipengaruhi banyak faktor, seperti keterbatasan pasokan bahan pangan, kenaikan harga yang diatur pemerintah seperti tarif air minum, hingga masalah distribusi akibat cuaca atau hambatan logistik.

“Bahkan, tidak menutup kemungkinan adanya praktik penimbunan barang oleh oknum tertentu. Itulah perlunya kita melakukan evaluasi,” tuturnya.

Baca juga : Muktamar PPP Pertarungan Mardiono Vs Agus Suparman

Mantan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) itu juga menyoroti perkembangan sejumlah komoditas yang mempengaruhi Indeks Perkembangan Harga (IPH) pada minggu ketiga September 2025.

Menurutnya, harga bawang merah mengalami tren penurunan signifikan. Dari 309 kabupaten/ kota yang sebelumnya mengalami kenaikan pada minggu ketiga Agustus 2025, kini hanya tersisa 31 daerah pada minggu ketiga September 2025.

Sementara, terdapat 303 kabupaten/ kota yang justru mengalami penurunan harga bawang merah pada periode yang sama.

Baca juga : Luncurkan ImpaCX, InJourney Airports Fokus Kerek Layanan 37 Bandara

“Ini yang menarik dan perlu diketahui apakah memang konsumsinya yang berkurang, kayaknya nggak. Atau mungkin karena sudah terjadi pemerataan distribusi,” tukasnya.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.