Dark/Light Mode

Kemenag Luncurkan Modul Kesehatan Reproduksi Remaja Berbasis Islam

Jumat, 26 September 2025 22:11 WIB
Kemenag meluncurkan Modul Pendidikan Kesehatan Reproduksi Remaja berbasis Islam di Jakarta, Jumat (26/9/2025). (Foto: RM.ID/JAR)
Kemenag meluncurkan Modul Pendidikan Kesehatan Reproduksi Remaja berbasis Islam di Jakarta, Jumat (26/9/2025). (Foto: RM.ID/JAR)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kementerian Agama (Kemenag) meluncurkan modul pendidikan kesehatan reproduksi berbasis Islam untuk remaja. Program ini diharapkan menjangkau ribuan madrasah di seluruh Indonesia.

Pemerintah menegaskan komitmen memenuhi hak kesehatan reproduksi setiap warga negara melalui Undang-Undang Kesehatan. Upaya ini diarahkan untuk mencetak generasi yang sehat dan berkualitas.

Kemenag mengambil langkah penting dengan menerbitkan aturan pencegahan dan penanganan kekerasan seksual di satuan pendidikan. Aturan ini berlaku di seluruh madrasah dan perguruan tinggi keagamaan Islam.

Sebagai tindak lanjut, Kemenag menggandeng Yayasan Gemilang Sehat Indonesia (YGSI) menyusun modul guru tentang pendidikan kesehatan reproduksi remaja dengan perspektif Islam. Penyusunan dimulai sejak Maret 2024 dan melalui uji coba di Jombang serta Garut.

Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag Suyitno mengatakan, modul ini membantu guru mendampingi siswa memahami kesehatan reproduksi sesuai ajaran Islam. 

“Kami ingin remaja paham menjaga diri dan menjauhi risiko,” ujarnya di sela peluncuran Modul Pendidikan Kesehatan Reproduksi untuk Remaja Perspektif Islam, di kantor Kemenag di Jakarta, Jumat (26/9/2025) petang.

Acara diikuti guru, tokoh pesantren, serta perwakilan organisasi masyarakat Islam. Suyitno menambahkan, materi dalam modul mengajarkan pencegahan pernikahan dini, perundungan, kekerasan berbasis gender, dan pergaulan bebas. Penyusunan modul memakai prinsip maqāṣid asy-syarī‘ah dengan pendekatan holistik yang mengintegrasikan pengetahuan, sikap, dan akhlak.

Baca juga : Kemenag Umumkan 4.155 Calon PPPK Paruh Waktu, Peserta Wajib Lengkapi Berkas

Implementasi modul bisa dilakukan sebagai muatan lokal, materi bimbingan konseling, pelatihan OSIS, atau disisipkan dalam pelajaran fikih, IPA, dan PJOK. Harapannya, remaja memiliki ketahanan diri menghadapi tantangan masa pubertas.

Sekretaris Ditjen Pendidikan Islam Kemenag Arskal Salim mengatakan, program ini penting karena banyak remaja belum memahami kesehatan reproduksi secara benar. 

“Bahkan siswa kelas empat yang sudah baligh itu perlu pendampingan,” jelasnya.

Dia menegaskan, pendidikan kesehatan reproduksi bukan hanya soal biologis. “Ini juga soal pembentukan karakter dan penguatan akhlak,” katanya.

Kemenag menargetkan pelatihan modul dapat menjangkau seluruh guru madrasah. “Target awal 40 ribu guru, dan akan diperluas hingga 80 ribu madrasah,” kata Arskal.

Pelatihan digelar rutin tiap bulan dengan peserta terus bertambah. Menurut Arskal, animo guru cukup tinggi. “Sebulan bisa 200 ribu guru ikut pelatihan,” ujarnya.

Guru yang dilatih berasal dari berbagai mata pelajaran, termasuk guru agama, biologi, dan PJOK. Kemenag berharap setiap madrasah memiliki empat sampai lima guru yang memahami modul.

Baca juga : Kemendukbangga Luncurkan Akademi Keluarga, Siswa Dapat Tabungan Rp600 Ribu

Arskal menambahkan, perspektif Islam membuat materi ini lebih mudah diterima masyarakat. “Materi harus sesuai ajaran agama agar siswa tidak salah paham,” katanya.

Dia juga menyebut modul ini sebagai langkah strategis mencegah pernikahan anak dan kekerasan seksual. “Remaja perlu ruang aman untuk berdiskusi,” ujarnya. 

Peluncuran modul ini dianggap sebagai investasi jangka panjang untuk generasi muda. Dia optimistis program ini mencetak generasi sehat dan berakhlak baik. 

Kemenag berharap program ini menciptakan sekolah yang aman dan bebas kekerasan. “Sekolah harus jadi tempat belajar yang sehat dan bermartabat,” tegas Arskal. 

Ketua Dewan Pengawas YGSI, Nur Jannah menilai, modul ini hasil kesepahaman bersama antara pemerintah, guru, dan masyarakat. 

“Kami pastikan isinya komprehensif dan sesuai realitas anak,” ucapnya.

Dia menjelaskan, modul tidak hanya mengajarkan organ tubuh tetapi juga membantu remaja mengenal diri dan membangun relasi sehat. “Intinya mengenal diri, mengenal orang lain, dan memahami batasan,” ujarnya.

Baca juga : Kemenperin Luncurkan Reformasi TKDN, Perkuat Daya Saing Industri Nasional

Guru dan orang tua dilibatkan untuk mendampingi remaja mengambil keputusan yang tepat. “Siswa diajak menemukan langkah terbaik menghadapi masa remaja,” kata Nur Jannah.

YGSI juga memakai metode bercerita agar materi mudah dipahami siswa. Cerita nyata dipilih agar anak merasa terhubung dengan pelajaran. Proses penyusunan modul berlangsung intensif hingga semua pihak sepakat pada isi materi. Nur Jannah berharap modul ini membantu remaja menghadapi pubertas dengan bijak. 

“Kami ingin anak-anak punya ketahanan diri,” tuturnya.

Kemenag juga meluncurkan pelatihan daring Massive Open Online Course (MOOC) Pintar dan Training of Facilitator (TOF) untuk guru. Pelatihan ini memudahkan guru mendapatkan pengayaan dan mengajarkannya kepada siswa.

Kemenag mencatat, pendaftaran peserta madrasah mencapai lebih dari 40 ribu guru. Sebanyak 30 ribu guru telah ikut pelatihan fasilitator.

Nur Jannah menyambut baik langkah ini. “Setiap anak berhak mendapat pendidikan reproduksi yang benar. Guru kini punya pegangan jelas,” tutup Nana-sapaan Nur Jannah.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.