Dark/Light Mode

Eksklusif Rakyat Merdeka

Menteri Bahlil Soal Pasokan BBM: Negara Nggak Boleh Kalah Oleh Tekanan Bisnis

Senin, 6 Oktober 2025 07:25 WIB
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia. (Foto: Khairizal Anwar/RM)
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia. (Foto: Khairizal Anwar/RM)

 Sebelumnya 
Apakah target-target di sektor energi dan mineral sudah tercapai semuanya? Di bidang apa yang masih ada kekurangan? 

Kalau untuk lifting minyak, insya Allah tercapai. Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) di sektor pertambangan sudah mencapai sekitar 70 persen dari target. Atau sekitar Rp 270 hingga Rp 280 triliun dari sektor migas dan tambang. Itu insya Allah akan tercapai. 

Di sektor listrik, kondisinya juga terjaga dengan baik. Rasio elektrifikasi terus meningkat. Presiden mendorong agar seluruh desa dan kelurahan di Indonesia sudah teraliri listrik paling lambat tahun 2029. 

Makanya kita bikin program Listrik Desa (Lisdes). 

Karena saya kan pernah jadi anak kampung. Saya sendiri lahir di desa yang dulu tidak memiliki listrik. Saya tidak ingin generasi berikutnya merasakan hal yang sama. 

Baca juga : Babak Baru Hubungan Kanada Dan Indonesia

Kalau boleh tahu, apa saja tantangan di Kementerian ESDM saat ini? 

Menjadi Menteri ESDM punya tantangan tersendiri. Bukan hanya soal menguasai bidang kerja, tapi juga bagaimana berani membuat keputusan yang kadang tidak populer. Ada yang suka, ada juga yang tidak suka. Karena banyak orang yang sudah nyaman. 

Misalnya soal jaminan reklamasi tambang. Selama ini tidak diwajibkan 100 persen, sekarang saya wajibkan. Karena kalau tidak, lingkungan bisa rusak dan tidak ada yang bertanggung jawab. Misalnya banyak perusahaan mengatakan, 90 IUP (Izin Usaha Pertambangan) masih di-pending. Bagaimana tidak di-pending, mengajukan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) sejak Januari untuk menyelesaikan jaminan reklamasi, tidak dijalankan. Padahal sudah diwajibkan. Ketika izinnya ditahan, mereka bilang, “diperlambat.” Padahal, itu akibat kelalaian mereka sendiri. Termasuk gas. Gas kita 69 persen untuk konsumsi dalam negeri. Sebanyak 39 persen masih ekspor. Mengatur neraca itu tidak gampang. Tapi saya pikir oke lah. Semua on the track. 

Lifting minyak mencapai 605 ribu barel per hari, sementara kebutuhannya 1,6 juta barel per hari. Kapan produksi minyak kita bisa mendekati kebutuhan? 

Untuk mencapai kedaulatan energi, ada tiga hal yang dilakukan. Pertama, meningkatkan lifting minyak. Kita punya banyak sumur tua. Sementara eksplorasi baru dilakukan di sekitar 60 wilayah kerja. Eksplorasi butuh waktu tiga sampai lima tahun. Jadi yang kita lakukan adalah mengoptimalkan sumur yang sudah ada dengan teknologi baru seperti EOR (Enhanced Oil Recovery) atau berkaitan teknik pengeboran. 

Baca juga : Syamsul Jahidin: Saya Melihat Ada Ketimpangan Nyata

Kita juga memberikan insentif yang menjanjikan agar investor mau memperluas produksi. Karena ini sumur tua, kalau tidak dikasih sweetener, mereka nggak mau ekspansi. Ini butuh seni manajemen. 

Kedua, melakukan konversi energi. Presiden menargetkan pada tahun 2026 Indonesia tidak perlu lagi impor solar. Itu berarti kita harus siap menerapkan B50. Kalau itu tercapai, maka antara konsumsi dan produksi dalam negeri akan seimbang. 

Berikutnya, kita juga akan menghentikan pembangkit-pembangkit listrik yang masih memakai solar dan menggantinya dengan energi baru terbarukan, seperti tenaga surya atau sumber lain. Karena konsumsi tertinggi solar adalah industri. Di dalamnya ada pembangkit listrik. Ketiga, mendorong penggunaan kendaraan listrik. Khususnya motor listrik, untuk menekan konsumsi BBM di sektor transportasi dan industri. 

Jadi kapan kira-kira target swasembada energi akan tercapai? 

Kalau semua berjalan sesuai rencana, pada tahun 2027-2028 beberapa blok minyak baru yang kini dalam tahap konstruksi sudah mulai berproduksi, dan kita bisa menambah sekitar 200 ribu barel per hari. Dengan begitu, sebagian besar kebutuhan energi nasional bisa terpenuhi pada 2029-2030. Tapi untuk mencapai kemandirian penuh 100 persen, masih butuh waktu. Karena swasembda energi itu butuh waktu eksplorasi dan pembangunan. 

Baca juga : Lucius Karus: Ngapain Negara Repot Keluarkan Dana Pensiun

Kita juga sedang mendorong peningkatan produksi seperti di Cepu. Di sana-rata-rata produksi 170 ribu barel per hari. Ini kita tingkatkan. Kita juga sedang mendorong campuran bensin dengan etanol. Etanol ini bisa dari tebu atau singkong. Bisa menjadi campuran 10 persen atau 20 persen. Ini bisa mengurangi impor kita. 

Dengan produksi saat ini, seberapa penting kita perlu membangun kilang baru? 

Membangun kilang baru itu penting. Saya mau cerita, dulu banyak proyek kilang tidak berjalan karena ada kepentingan tertentu. Tujuannya agar impor. Padahal kalau kilang jadi, impor bisa berkurang besar. Sekarang, sesuai arahan Presiden, kita akan membangun sembilan sampai sepuluh kilang kecil atau mini refinery. Bukan proyek raksasa, tapi yang tersebar di berbagai wilayah untuk memenuhi kebutuhan lokal. 

Saya baru pulang dari Amerika untuk melihat contoh refinery kecil yang efisien. Saat ini studi kelayakannya sedang disusun, dan targetnya tahun 2026 sudah mulai berjalan. Danantara sudah ditugaskan oleh Presiden. 

Saya tahu tidak semua pihak nyaman dengan perubahan ini. Tapi saya tidak peduli. Demi kedaulatan energi, kedaulatan negara, dan kepentingan rakyat, saya akan terus berhadapan dengan siapa pun yang mencoba menghambat. 
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.