Dark/Light Mode

Satu Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran, Perpusnas Hadir Demi Martabat Bangsa

Selasa, 21 Oktober 2025 08:56 WIB
Kepala Perpusnas Prof. E. Aminudin Aziz (Foto: Dok. Perpusnas)
Kepala Perpusnas Prof. E. Aminudin Aziz (Foto: Dok. Perpusnas)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kepala Perpustakaan Nasional (Perpusnas), Prof. E. Aminudin Aziz, menegaskan komitmen lembaganya untuk menghadirkan perpustakaan yang benar-benar hidup di tengah masyarakat. Ia menyebut, seluruh program Perpusnas diselaraskan dengan visi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, khususnya dalam pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) dan pelestarian budaya nasional.

“Perpustakaan hadir demi martabat bangsa. Ini bukan sekadar slogan, tapi jati diri kami — bahwa keberadaan perpustakaan harus memberi manfaat nyata bagi rakyat,” ujar Prof. Amin.

Ia menjelaskan, arah kebijakan Perpusnas sejalan dengan Asta Cita poin ke-4 dan ke-8 yang menekankan pengembangan SDM generasi muda, perempuan, serta pelestarian budaya sebagai bagian dari pembangunan nasional.

“Perpusnas adalah lembaga non-kementerian yang bekerja di dua ranah itu: membangun SDM dan merawat khazanah budaya bangsa,” tuturnya.

Tiga Tugas Utama Perpusnas

Prof. Amin menuturkan, Perpusnas memiliki tiga tugas utama sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007, yakni:

  1. Meningkatkan budaya baca dan kecakapan literasi masyarakat.
  2. Merawat serta melestarikan khazanah budaya bangsa melalui naskah dan bahan pustaka.
  3. Menjamin seluruh jenis perpustakaan di Indonesia memenuhi standar layanan dan kelayakan.

Dorong Literasi dari Desa

Menjawab tantangan rendahnya literasi nasional, Perpusnas menggencarkan program penyediaan bahan bacaan menarik untuk anak-anak dan masyarakat desa. Buku-buku yang dikirim dirancang dengan gambar berwarna dan teks ringan agar menumbuhkan imajinasi pembaca muda.

“Tidak mungkin literasi kita naik tanpa kebiasaan membaca yang baik. Karena itu, kami mulai dari akar masalahnya, yakni membangun budaya baca,” jelas Prof. Amin.

Baca juga : Kemenperin Catat Kinerja Positif Sub Sektor IPNM Pada Satu Tahun Pemerintahan Prabowo–Gibran

Untuk membangun kebiasaan membaca ini, Perpusnas membagikan jutaan buku ke perpustakaan desa dan Taman Baca Masyarakat (TBM).

Selain itu, Perpusnas juga menumbuhkan komunitas baca dewasa. Komunitas ini diberi bantuan dana tunai dan didorong untuk aktif mengelola bahan bacaan sesuai minat masing-masing — mulai dari novel, buku agama, motivasi, hingga ekonomi kreatif.

“Kami biarkan masyarakat memilih buku sesuai minatnya. Dengan begitu, tumbuh rasa memiliki terhadap bahan bacaan itu,” katanya.

Perpustakaan Jadi Pusat Kreativitas

Melalui program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS) yang telah berjalan di berbagai daerah, perpustakaan kini berfungsi ganda sebagai pusat kegiatan produktif masyarakat.

“Masyarakat tidak hanya membaca, tapi juga belajar keterampilan dan berproduksi. Dari membaca buku tentang menyulam, mereka bisa menghasilkan karya dan bahkan menjualnya,” papar Prof. Amin.

Dalam pandangannya, perpustakaan masa kini harus adaptif terhadap kebutuhan masyarakat. “Buku menjadi pintu pembuka, tapi kreativitaslah yang membuat perpustakaan hidup,” ujarnya.

Rawat Naskah, Hidupkan Warisan Bangsa

Perpusnas juga melaksanakan tugas besar melestarikan naskah-naskah Nusantara. Pelestarian dilakukan melalui kajian, alih aksara, alih bahasa, dan alih media — dari bentuk kertas atau lontar menjadi digital, komik, dan film pendek.

Baca juga : Industri Kreatif Jadi Mesin Pertumbuhan

“Pelestarian harus melalui pemanfaatan. Naskah kuno tidak hanya disimpan, tapi dibaca, ditransliterasi, dan dihidupkan kembali dalam bentuk yang bisa dinikmati masyarakat,” tegasnya.

Ia menambahkan, Perpusnas berkomitmen agar naskah-naskah Nusantara dikenal lebih luas, terutama oleh generasi muda. “Kita ingin anak-anak mengenal sejarah bangsanya melalui cara yang menyenangkan dan visual,” ujarnya.

Standarisasi Perpustakaan Sekolah

Prof. Amin juga menekankan pentingnya peningkatan kualitas perpustakaan di sekolah. Menurutnya, banyak perpustakaan, terutama di sekolah-sekolah, yang masih belum memenuhi standar nasional, baik dari sisi pengelolaan maupun layanan.

“Kita ubah paradigma akreditasi. Bukan lagi soal fisik dan kepatuhan, tapi kinerja dan aktivitas. Lebih baik perpustakaan kecil tapi hidup, daripada besar tapi mati suri,” tegasnya.

Ia menekankan, pustakawan harus berperan sebagai fasilitator pembelajaran, bukan sekadar penjaga rak buku. “Pustakawan harus menjadi motor penggerak literasi,” katanya.

Selaras dengan Program Prioritas Nasional

Perpusnas turut mendukung program Sekolah Rakyat dan Sekolah Garuda yang menjadi prioritas nasional. Tahun ini, Perpusnas memberikan bantuan buku untuk perpustakaan Sekolah Rakyat yang terdiri dari 150 lokus atau 224 perpustakaan Sekolah Rakyat dengan berbagai jenjang mendapat bantuan ribuan buku dan fasilitas digital dari Perpusnas.

Untuk Sekolah Garuda, Perpusnas belum terlibat. "Tapi, kalau Perpusnas dipercaya memperluas program ini tahun depan, kami siap,” kata Prof. Amin.

We Walk the Talk

Baca juga : Setahun Diplomasi Prabowo, Indonesia Makin Disegani Dunia

Prof. Amin menegaskan, seluruh program Perpusnas dijalankan dengan prinsip kerja nyata, bukan sekadar wacana.

“Kami bukan no action talk only, tapi we walk the talk. Kami buktikan janji lewat aksi nyata,” ujarnya.

Sebagai penutup, ia menegaskan kembali arah baru Perpusnas di era pemerintahan Prabowo–Gibran.

“Perpustakaan bukan lagi tempat menunggu buku, tapi pusat belajar dan kreativitas. Kami ingin menghidupkan semangat baru para pustakawan agar perpustakaan benar-benar hadir di tengah masyarakat,” tandasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.