Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Polri Bangun Ribuan Embung Dan Menara Pantau Untuk Cegah Karhutla
Jumat, 24 Oktober 2025 21:15 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengingatkan jajaran kepolisian untuk mewaspadai kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah daerah. Kata Jenderal Sigit, kepolisian bersama elemen terkait telah melakukan langkah-langkah mitigasi untuk mengoptimalkan penanggulangan Karhutla.
Kapolri merinci pada tahun 2025, institusinya telah melaksanakan 27.621 kegiatan sosialisasi dan 11.949 kegiatan patroli. Hingga saat ini Polri bersama elemen terkait telah membangun 4.032 embung atau kanal serta 1.457 menara pantau di beberapa wilayah rawan kebakaran hutan.
"Polri bersama kementerian dan Lembaga terkait berkomitmen melakukan langkah-langkah cepat, terpadu dan berkesinambungan dalam menghadapi ancaman karhutla yang berpotensi mengganggu stabilitas lingkungan, ekonomi, dan sosial masyarakat," kata Sigit saat melakukan pertemuan dengan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni di Jakarta, Jumat (24/10/2025).
Upaya tersebut, tambahnya, diawali dengan peningkatan kesiapsiagaan personel-sarana dan prasarana. Polri juga telah pendirian posko tanggap darurat terpadu di wilayah rawan Karhutla.
Baca juga : Kapolri Bersinergi Dengan Menhut Hadapi Ancaman Karhutla
"Kami juga menerapkan early warning system dalam rangka monitoring dan deteksi dini terhadap potensi Karhutla melalui pemanfaatan aplikasi Geospatial Analytic Center (GAC), yang terpadu dan berkesinambungan dengan aplikasi instansi lainnya seperti SiPongi (Kemenhut), Fire Danger Rating System, Himawari (BMKG), dan TMAT (KLHK)," papar Sigit.
Selain itu, Polri melakukan patroli darat maupun udara terpadu yang melibatkan TNI, BPBD, Manggala Agni, dan masyarakat peduli api untuk mendeteksi dan memverifikasi titik hotspot secara real time. Kapolri memastikan adanya upaya pemadaman dengan melibatkan melalui personel dan sarpras pada jalur darat ataupun operasi modifikasi cuaca, ketika ditemukan adanya titik karhutla.
Selanjutnya, Sigit menuturkan, terkait penegakan hukum, pihaknya mengedepankan tindakan tegas dan profesional. Pada periode Januari sampai 23 Oktober 2025, Polri telah menangani 86 kasus tindak pidana Karhutla dengan menetapkan 83 tersangka perorangan.
"Adapun modus operandi dari para pelaku yaitu melakukan pembakaran lahan untuk kegiatan usaha, khususnya perkebunan. Terakhir, saya mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar, karena selain dapat merusak lingkungan, tindakan tersebut juga membahayakan kesehatan dan keselamatan banyak orang," urai Sigit.
Baca juga : SPPG Polri Terapkan Standar Food Safety Untuk Program MBG
Kendati demikian, menurut Sigit, saat ini Indonesia mulai memasuki musim hujan yang diprediksi terjadi pada periode September hingga November 2025. Puncak musim hujan diperkirakan berlangsung pada November 2025 hingga Februari 2026. Diawali dari wilayah Indonesia bagian barat dan secara bertahap bergerak ke bagian timur.
"BMKG juga menjelaskan saat ini masih terjadi kondisi panas ekstrem di beberapa wilayah Indonesia di antaranya yang terjadi di Majalengka, Surabaya, Gorontalo, Kupang, hingga Sentani," ujar Sigit.
Sigit memaparkan, berdasarkan hasil monitoring titik hotspot pada periode Januari sampai 22 Oktober 2025, terdapat 2.517 titik hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi (confidence level high).
Kata mantan Kabareskrim itu, angka ini menurun sebanyak 833 titik atau 24,8 persen dibandingkan periode yang sama di tahun 2024. Wilayah dengan titik hotspot tertinggi terjadi di wilayah Riau, Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur.
Baca juga : Pemulia Tanaman Garda Depan Ketahanan Pangan Nasional
"Kondisi ini disebabkan oleh rendahnya curah hujan, kondisi cuaca kering, angin kencang yang menyebabkan penyebaran titik api dengan cepat serta karakteristik wilayah yang sebagian besar merupakan lahan gambut," pungkas Sigit.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya