Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Wamenaker: 57 Persen Pekerja Masih Informal, Kompetensi Harus Digenjot
Senin, 24 November 2025 15:44 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Wakil Menteri Ketenagakerjaan Afriansyah Noor memaparkan kondisi ketenagakerjaan nasional. Ia menyebutkan, Indonesia memiliki penduduk usia kerja mencapai 218,17 juta jiwa dengan 146,54 juta orang bekerja. Akan tetapi, masih terdapat sekitar 7,46 juta penganggur. Mayoritas pekerja merupakan lulusan SMP dan SMA, masing-masing 15,08 juta dan 31,05 juta orang.
"Ini berarti sebagian besar tenaga kerja kita masih memiliki keterampilan dasar. Padahal, tuntutan pekerjaan saat ini semakin berorientasi pada keterampilan teknis dan digital,” kata Afriansyah dalam prosesi Wisuda Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) sesi ketiga yang digelar di Auditorium KH Azhar Ahmad Basyir di Gedung Cendekia UMJ, Minggu (23/11/2025).
Ia menambahkan, sekitar 57,80% pekerja Indonesia masih berada di sektor informal. Kondisi ini menuntut percepatan peningkatan kompetensi, perluasan sertifikasi keterampilan, serta penguatan layanan penempatan kerja agar mampu menjawab kebutuhan industri masa depan.
Dalam orasinya, Afriansyah juga menyinggung tiga faktor global yang memengaruhi lanskap ketenagakerjaan: disrupsi digital dan kecerdasan buatan (AI), transisi hijau (green transition), serta perubahan demografi dunia.
Baca juga : ADTECH Prediksi Ribuan Pekerjaan Raib, Profesi Baru Lahir
“Diperkirakan 170 juta pekerjaan baru akan tercipta pada 2030, namun 92 juta pekerjaan juga akan hilang akibat otomatisasi dan digitalisasi,” ungkapnya.
Menjawab tantangan tersebut, Afriansyah memaparkan tiga strategi utama Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker). Pertama, optimalisasi ekosistem pelatihan vokasi nasional, kedua penguatan kolaborasi lintas kementerian/lembaga, pemerintah daerah, dan ketiga mitra pembangunan, serta mengorkestrasi ekosistem ketenagakerjaan agar lebih sinergis dan responsif.
“Kemnaker telah menandatangani MoU dengan 20 kementerian/lembaga, 12 pemerintah daerah, dan 35 mitra pembangunan. Kolaborasi ini mencakup pelatihan digital skills, wirausaha, green jobs, hilirisasi industri, agroforestry, hingga penyelarasan kurikulum vokasi,” jelasnya.
Selain strategi utama, Afriansyah juga menyampaikan enam program strategis Kemnaker. Yakni, optimalisasi balai latihan kerja, penguatan platform SIAPKerja, program magang nasional, peningkatan produktivitas nasional, pembaruan hubungan industrial serta penegakan norma, dan optimalisasi riset ketenagakerjaan.
Baca juga : BI-Rate Tetap 4,75 Persen, Pertumbuhan Ekonomi Terus Digenjot
Pada bagian akhir, Afriansyah menyoroti tantangan besar dalam School-to-Work Transition (STWT), meliputi kesenjangan keterampilan, minimnya pengalaman kerja, keterbatasan informasi pasar kerja, hingga ketimpangan wilayah.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan karier lulusan masa kini tidak hanya ditentukan oleh IPK.
“Keterampilan teknis, kreativitas, portofolio, jejaring profesional, serta kemampuan adaptasi jauh lebih menentukan. Perubahan cepat menuntut kita memiliki growth mindset: berani menghadapi tantangan, siap belajar ulang, tidak takut gagal, dan terbuka terhadap kritik," jelasnya.
Afriansyah menyampaikan harapan agar UMJ terus melahirkan lulusan yang adaptif, kompetitif, dan siap memimpin transformasi menuju Indonesia Emas 2045.
Baca juga : Genjot Kinerja Pertamina, Komisi XII Harap RUU Migas Segera Disahkan
Pada prosesi wisuda kali ini, sebanyak 1.558 mahasiswa UMJ resmi diluluskan dari Program Doktor ke-13, Magister ke-51, Spesialis ke-8, Sarjana ke-82, dan Diploma Tiga.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya