Dark/Light Mode

Kumpulkan Pegiat Literasi, Komdigi Perkuat Perlindungan Anak Di Ruang Digital

Rabu, 17 Desember 2025 08:58 WIB
Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Komdigi Bonifasius Wahyu Pujianto. (Foto: RM.ID/KPJ)
Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Komdigi Bonifasius Wahyu Pujianto. (Foto: RM.ID/KPJ)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menggelar Temu Nasional Pengiat Literasi Digital 2025 di The Brick Hall, Fatmawati, Jakarta, Selasa (16/12/2025). Acara ini digelar antara lain untuk memperkuat perlindungan anak di ruang digital serta ajang konsolidasi menghadapi maraknya hoaks, penipuan siber, dan penyalahgunaan teknologi.

Acara ini digelar selama dua hari, 16–17 Desember 2025. Hari pertama menghadirkan perwakilan perusahaan teknologi global, perusahaan teknologi lokal, penyedia pelatihan digital, serta berbagai komunitas. Sementara hari kedua difokuskan pada penguatan peran komunitas literasi digital.

Kegiatan dibuka oleh Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Komdigi Bonifasius Wahyu Pujianto. Dalam sambutannya, Wahyu mengatakan pertemuan ini difokuskan pada tiga isu utama. Pertama, perlindungan kelompok rentan di ruang digital. Mulai dari anak-anak, remaja, lansia, penyandang disabilitas, hingga masyarakat dengan tingkat literasi rendah. Hal ini dilakukan agar terhindar dari dampak negatif seperti penipuan digital dan kejahatan siber.

Kedua, menekan penyalahgunaan teknologi, khususnya Artificial Intelligence (AI), yang kerap dimanfaatkan untuk memproduksi konten misinformasi dan hoaks. 

"Kemajuan teknologi harus diarahkan untuk tujuan positif, bukan justru menimbulkan dampak negatif di masyarakat," tegasnya.

Ketiga, mendorong pemanfaatan teknologi digital untuk meningkatkan produktivitas dan pertumbuhan ekonomi, khususnya bagi UMKM, koperasi, hingga pelaku startup, melalui kreativitas dan inovasi.

Selain itu, lanjut Wahyu, Temu Nasional Literasi Digital juga menjadi ruang berbagi pengalaman bagi para pegiat literasi digital yang aktif dalam aksi kemanusiaan saat bencana.

Baca juga : Hadapi Lonjakan Nataru, ASDP Perkuat Layanan Di 15 Lintasan Pantauan Nasional

Ia mencontohkan keterlibatan komunitas literasi digital dalam penanganan bencana di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh. Termasuk dukungan konektivitas darurat melalui satelit dan pemulihan infrastruktur Base Transceiver Station (BTS).

"Mereka ini bukan hanya pegiat literasi digital tapi juga relawan yang turun langsung saat bencana. Pengalaman mereka sangat berharga untuk dibagikan," ujarnya. 

Tak hanya itu, dirinya juga menegaskan, Temu Nasional Pegiat Literasi Digital 2025 menjadi sarana sosialisasi Peraturan Pemerintah tentang Tata Kelola Perlindungan Anak di Ruang Digital atau PP Tunas.

Menurutnya, pemahaman masyarakat, khususnya orang tua, sangat penting agar anak-anak siap dan terlindungi saat mengakses ruang digital.

"PP Tunas ini perlu dipahami secara detail. Ini penting tidak hanya bagi kita tapi bagi orang tua dalam mendampingi anak-anak di ranah digital," jelasnya. 

Sementara, Government Affairs and Public Policy Manager Google Indonesia Agung Pamungkas mendukung Pemerintah melindungi anak-anak di ruang digital melalui PP Tunas. 

Agung menegaskan, Google Indonesia telah berkomitmen melalui tiga pilar utama. Yakni perlindungan, penghormatan terhadap tumbuh kembang anak, serta pemberdayaan pengguna.

Baca juga : Australia Perkuat UU Senjata Api Pasca Serangan Teroris di Pantai Bondi

Agung menjelaskan, seluruh produk Google sejak awal dirancang dengan prinsip keamanan sebagai standar utama.

"Semua produk Google dibuat dengan safety by default. Secara otomatis kami sudah melindungi pengguna dari bahaya online, termasuk menjaga privasi," kata Agung.

Adapun, pilar kedua penghormatan terhadap perbedaan kebutuhan anak sesuai usia dan tahap perkembangan. Menurut Agung, kebutuhan anak usia dini tentu berbeda dengan remaja.

Pilar ketiga adalah pemberdayaan, baik bagi anak dan orang tua. Google menghadirkan berbagai fitur pengawasan dan edukasi agar aktivitas digital dapat berjalan secara aman dan sehat.

Agung memaparkan, berbagai produk Google telah dilengkapi pengaman bawaan. 

Di Google Search, misalnya, terdapat fitur SafeSearch yang dapat memfilter konten vulgar. Sementara di YouTube, konten dewasa dibatasi dan rekomendasi untuk remaja diawasi secara ketat.

"Di Google Play, kami menerapkan sistem rating aplikasi hingga 18+, sehingga pengguna di bawah usia tersebut bisa dibatasi untuk mengunduh aplikasi tertentu," ungkapnya.

Baca juga : Digitalisasi Terintegrasi, Pertamina Digital Hub Perkuat Ketahanan Energi

Selain itu, Google juga menegaskan tidak melakukan personalisasi iklan untuk pengguna di bawah usia 18 tahun.

Untuk mendukung peran orang tua, Google juga menghadirkan fitur Family Link yang memungkinkan pengawasan dan pengaturan aktivitas anak saat berselancar di dunia digital. 

Melalui fitur ini, orang tua dapat mengatur waktu penggunaan, mengelola aplikasi, hingga memantau aktivitas online anak.

Tak hanya fitur teknis, kata Agung, Google juga menyediakan berbagai materi literasi digital. Program Be Internet Awesome atau Tangkas Berinternet dirancang sebagai kurikulum untuk anak, guru, dan orang tua. 

Program ini dilengkapi dengan game edukatif bernama Interland, yang mengajarkan anak cara berinternet secara aman dan bertanggung jawab.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.