Dark/Light Mode

Gerakan Ayah Ambil Rapor ke Sekolah Investasi Masa Depan Anak

Jumat, 19 Desember 2025 16:02 WIB
Para ayah saat mengambil rapor untuk anaknya di SDN Pondok Bambu 11, Jakarta, Jumat (19/12/2025). (Kemendukbangga)
Para ayah saat mengambil rapor untuk anaknya di SDN Pondok Bambu 11, Jakarta, Jumat (19/12/2025). (Kemendukbangga)

RM.id  Rakyat Merdeka - Hari pembagian rapor biasanya identik dengan para ibu yang memenuhi ruang kelas. Namun, suasana berbeda terlihat di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Pondok Bambu 11 dan Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 61 Jakarta, Jumat pagi (19/12/2025). Di tengah rintik hujan, deretan ayah tampak duduk di bangku kecil milik anak-anak mereka, menunggu giliran berkonsultasi dengan wali kelas.

Para ayah itu mengikuti Gerakan Ayah Mengambil Rapor Anak ke Sekolah (GEMAR), yang dianjurkan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) melalui Surat Edaran Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN Nomor 14 Tahun 2025. Kehadiran ayah pada momen krusial sekolah dinilai bukan sekadar urusan administratif, melainkan bagian penting dari investasi masa depan anak.

“Ini semangat kita untuk memperbaiki anak-anak kita lima hingga 10 tahun ke depan sebagai generasi penerus bangsa,” ujar Mendukbangga/Kepala BKKBN, Wihaji, di hadapan para ayah. Menteri Wihaji hadir langsung memantau pelaksanaan GEMAR di kedua sekolah tersebut.

Menteri Wihaji mengambilkan rapor anak Abinaya di SDN 11 Pondok Bambu, Jakarta, Jumat (19/12/2025) yang ayahnya adalah seorang driver ojek online. (Foto: Dok. Kemendukbangga)

Baca juga : Menteri Wihaji Teken SE Gerakan Ayah Ambil Rapor, Dispensasi ASN Telat Ngantor

Data Pemutakhiran Pendataan Keluarga (PK) Tahun 2025 menunjukkan, 25,8 persen keluarga yang memiliki anak di Indonesia berada dalam kondisi fatherless atau kehilangan peran ayah. Menurut Menteri Wihaji, GEMAR dirancang untuk menjawab persoalan tersebut.

“Prinsipnya, GEMAR mencoba menjawab isu 25,8 persen anak-anak kita yang kehilangan sosok ayah. Saya minta para ayah minimal dua kali setahun mengambil rapor anak dan mengantar anak sekolah di hari pertama. Ini membuat senang hati anak,” katanya.

Bagi anak yang tidak memiliki ayah, Menteri Wihaji menegaskan tetap ada solusi. Peran ayah dapat digantikan oleh figur laki-laki terdekat di keluarga, seperti paman, kakek, atau kakak laki-laki.

Baca juga : Surat Dakwaan Dilimpahkan, Penyuap Eks Sekma Hasbi Hasan Segera Disidangkan

Keterlibatan ayah dalam pendidikan anak, menurut para pendidik, mampu memperkuat komunikasi antara orang tua dan sekolah. Ayah yang aktif terlibat terbukti dapat meningkatkan motivasi belajar, hasil akademik, serta memberikan dampak psikologis positif bagi tumbuh kembang anak.

Seorang ayah peserta GEMAR di SDN Pondok Bambu 11 mengaku terbantu dengan program tersebut. Ia mengatakan, kehadiran ayah penting untuk mencegah gawai menjadi “pengganti” figur orang tua di rumah.

“Sampai hari ini anak saya tidak setiap hari pegang gawai. Kami tanamkan, gawai dan laptop hanya untuk pengetahuan. Itu pun hanya hari Jumat sampai Minggu,” ujarnya, sebelum bergegas meninggalkan halaman sekolah.

Baca juga : Wakil Kepala BGN: Dapur MBG Tak Standar, Insentif Bisa Dipangkas

Lewat GEMAR, pemerintah ingin menegaskan satu pesan sederhana: kehadiran ayah di sekolah bukan sekadar mengambil rapor, melainkan membangun ikatan emosional yang kelak menentukan arah masa depan anak.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.