Dark/Light Mode

Kemenperin Perkuat SDM Industri Lewat Kurikulum Vokasi Terintegrasi RI-Swiss

Selasa, 19 Mei 2026 17:15 WIB
Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita. (Foto: Kemenperin)
Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita. (Foto: Kemenperin)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperkuat pengembangan sumber daya manusia (SDM) industri melalui pendidikan vokasi berbasis industri guna meningkatkan daya saing sektor manufaktur nasional di tengah persaingan global yang semakin kompetitif.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, sektor industri manufaktur masih menjadi tulang punggung perekonomian nasional dengan kontribusi terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

“Kinerja tersebut tercermin dari sumbangsih industri pengolahan sebesar 19,07 persen terhadap PDB pada triwulan I-2026. Sektor ini juga tumbuh 5,04 persen secara tahunan dan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi terbesar dengan kontribusi 1,03 persen,” kata Agus dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (19/5/2026).

Menurut dia, pemerintah terus berupaya menjaga momentum pertumbuhan industri manufaktur nasional melalui penyiapan SDM industri yang kompeten, adaptif terhadap perkembangan teknologi, dan mampu bersaing di tingkat global.

“Untuk memenangkan persaingan di pasar internasional diperlukan efisiensi produksi dan penguasaan teknologi modern yang didukung tenaga kerja terampil dan kompeten,” ujarnya.

Baca juga : Perkuat SDM Industri, Kemenperin Perluas Kerja Sama Global

Karena itu, Kemenperin memperkuat pendidikan vokasi industri melalui unit pendidikan di bawah Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

Sebagai bagian dari penguatan pendidikan vokasi, BPSDMI menjalin kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk Pemerintah Swiss, Kementerian Pariwisata, dan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melalui sosialisasi aplikasi Industrial-Based Curriculum (IBC).

Kepala BPSDMI Kemenperin Doddy Rahadi.

Kepala BPSDMI Doddy Rahadi mengatakan, penguatan sinergi antara dunia pendidikan dan industri menjadi faktor penting dalam meningkatkan daya saing manufaktur nasional.

“Aplikasi IBC ini memudahkan unit pendidikan vokasi dalam perencanaan dan pengelolaan kegiatan Industrial-Based Curriculum, mulai dari penyiapan data, pemantauan proses, hingga dokumentasi hasil Job Occupational Analysis secara terintegrasi,” ujar Doddy.

Ia menjelaskan, aplikasi tersebut juga memberikan kemudahan bagi industri dalam memberikan masukan, validasi, dan peninjauan terhadap Job Occupational Analysis secara lebih fleksibel dan terstruktur.

Baca juga : RI Dan Rusia Perkuat Kerja Sama Industri Strategis

Dengan sistem yang terdigitalisasi, lanjutnya, industri dapat berkontribusi secara berkelanjutan dalam pengembangan kurikulum pendidikan vokasi.

Sementara itu, Kepala Pusat Pengembangan Pendidikan Vokasi Industri (PPPVI) Wulan Aprilianti Permatasarimenyampaikan aplikasi IBC menjadi wadah kolaborasi yang memperkuat keterhubungan antara industri dan dunia pendidikan.

“Melalui sosialisasi ini, kami berharap seluruh peserta dapat memahami dan memanfaatkan aplikasi IBC secara optimal sehingga proses penyusunan kurikulum berbasis industri dapat berjalan lebih efektif, efisien, dan berdampak nyata,” kata Wulan.

Program Manager Swisscontact Daniel Weibel menilai salah satu tantangan utama saat ini adalah kesenjangan antara pendidikan dan kebutuhan dunia kerja.

“IBC secara langsung menjawab tantangan tersebut dengan menyelaraskan kurikulum dengan kebutuhan industri yang sesungguhnya. Kurikulum ini memastikan lulusan tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga benar-benar siap kerja,” ujar Daniel.

Baca juga : Kemenkop Perkuat Transformasi Pertambangan Berbasis Koperasi di NTB

Sejak 2018, Pemerintah Swiss bersama Pemerintah Indonesia melalui proyek Swiss Skills for Competitiveness (SS4C) telah mengimplementasikan metode Developing a Curriculum (DACUM) yang kemudian berkembang menjadi Industrial-Based Curriculum.

Hingga kini, telah dihasilkan 79 Job Occupational Analysis Chart dari berbagai sektor dan kementerian, dan jumlah tersebut terus bertambah.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.