Dark/Light Mode

Pacu Ekspor Manufaktur, RI-Moroko Jajaki Perjanjian Dagang

Selasa, 14 Juli 2026 18:54 WIB
Wamenperin Faisol Riza. (Foto: Ist)
Wamenperin Faisol Riza. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pemerintah Indonesia dan Maroko menjajaki pembentukan Preferential Trade Agreement (PTA) sebagai upaya memperluas akses pasar produk manufaktur nasional sekaligus memperkuat rantai pasok industri strategis kedua negara.

Pembahasan tersebut dilakukan dalam pertemuan bilateral antara Wakil Menteri Perindustrian RI Faisol Riza dan Wakil Menteri yang Membidangi Perdagangan Luar Negeri Maroko Omar Hejira di Jakarta beberapa waktu lalu.

"Maroko memiliki posisi strategis sebagai gerbang menuju Afrika Utara dan kawasan Mediterania. Kami melihat peluang besar untuk memanfaatkan keunggulan tersebut guna memperluas akses produk industri Indonesia ke pasar regional, sekaligus memperkuat kemitraan di sektor-sektor industri masa depan seperti dirgantara, industri halal, farmasi, dan energi baru terbarukan," kata Faisol dalam keterangannya.

Menurut dia, pembentukan PTA diharapkan dapat memangkas hambatan tarif sehingga meningkatkan daya saing produk manufaktur Indonesia di kawasan Mediterania. Selain itu, kerja sama tersebut juga diarahkan untuk mengamankan pasokan bahan baku industri strategis, seperti fosfat, aluminium, dan mineral lainnya yang dibutuhkan industri nasional.

Baca juga : Bersama Danantara, BRI Kontribusikan Pajak Terbesar Dukung Pembangunan Nasional

Kementerian Perindustrian mencatat kinerja perdagangan nonmigas Indonesia dengan Maroko pada 2025 menunjukkan tren positif. Nilai perdagangan mencapai sekitar 235 juta dolar Amerika Serikat atau meningkat hampir 33 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Peningkatan tersebut didorong oleh ekspor berbagai produk manufaktur Indonesia, seperti minyak nabati, karet dan turunannya, alas kaki, tekstil, mesin serta peralatan listrik, hingga komoditas unggulan seperti kopi, teh, dan rempah-rempah.

Sementara itu, Indonesia mengimpor pupuk, aluminium, tekstil, serta sejumlah bahan baku industri dari Maroko untuk mendukung kebutuhan sektor manufaktur.

Selain membahas PTA, kedua negara juga berkomitmen mempercepat kerja sama di sektor industri halal. Komitmen tersebut diperkuat melalui penandatanganan Mutual Recognition Agreement (MRA) Sertifikasi Halal antara Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Indonesia dan Moroccan Institute of Standardization (IMANOR) pada Mei 2026.

Baca juga : Pansus Hak Angket Bergulir, DPRD Gowa Jadwalkan Pemanggilan Bupati Husniah

Kesepakatan tersebut diharapkan dapat mempermudah produk halal Indonesia memasuki pasar Maroko tanpa harus menjalani proses sertifikasi ulang, sekaligus membuka peluang investasi dan pengembangan industri halal di kedua negara.

Sebagai tindak lanjut, Kementerian Perindustrian mengundang Pemerintah Maroko untuk berpartisipasi dalam Halal Expo 2026 yang akan digelar pada September mendatang guna memperluas jejaring bisnis dan mendorong investasi di sektor halal.

Selain sektor perdagangan, Indonesia dan Maroko juga menjajaki kerja sama di sejumlah industri prioritas, antara lain dirgantara, farmasi, kosmetik halal, serta energi baru dan terbarukan (EBT).

Di sektor dirgantara, kedua negara membuka peluang kolaborasi untuk memperkuat rantai pasok industri penerbangan, termasuk mendukung pengembangan layanan maintenance, repair and overhaul (MRO) di Indonesia.

Baca juga : Kanada Vs Maroko, Maroko Tebar Ancaman Kanada Jangan Lengah

Kerja sama juga akan diperkuat melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia, penelitian bersama, promosi investasi, penyelenggaraan pameran industri, serta business matching antarpelaku usaha.

Sebagai tindak lanjut hasil pertemuan bilateral tersebut, Kementerian Perindustrian akan berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan guna mempersiapkan partisipasi dalam Indonesia–Maroko Business Forum yang direncanakan berlangsung pada awal 2027.

Forum tersebut diharapkan menjadi wadah bagi pelaku industri kedua negara untuk menjajaki peluang investasi, memperluas kemitraan bisnis, serta mempercepat realisasi berbagai kerja sama yang telah disepakati.

Pemerintah menilai kemitraan Indonesia dan Maroko yang telah terjalin sejak 1956 memiliki potensi besar untuk memperluas akses pasar, memperkuat rantai pasok industri, meningkatkan investasi, serta menciptakan nilai tambah bagi pertumbuhan industri nasional.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.