Dark/Light Mode

RI Uji Bus Hidrogen, Emisi Turun hingga 57 Persen

Rabu, 22 Juli 2026 09:43 WIB
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. (Foto: ESDM)
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. (Foto: ESDM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Indonesia mulai membawa pengembangan hidrogen dari tahap perencanaan menuju implementasi melalui uji coba Bus Hidrogen Diesel Dual Fuel (H2 DDF) dan pengembangan Green Hydrogen Corridor sepanjang 194 kilometer yang menghubungkan Jakarta, Karawang, hingga Patimban.

Kedua inisiatif tersebut diperkenalkan dalam Global Hydrogen Ecosystem Summit (GHES) 2026 yang berlangsung di Jakarta International Convention Center (JICC), 21-23 Juli 2026. Forum itu mempertemukan pemerintah, pelaku industri, investor, akademisi, lembaga riset, dan mitra internasional guna mempercepat pembangunan ekosistem hidrogen nasional.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, pengembangan hidrogen menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mendukung hilirisasi dan industrialisasi.

“Hidrogen merupakan energi alternatif yang sangat penting di tengah kondisi geopolitik global yang tidak menentu. Setiap negara harus mampu memproteksi kebutuhan energinya dengan memanfaatkan keunggulan yang dimiliki,” ujar Bahlil dalam keterangannya, Rabu (22/7/2026).

Baca juga : TC Thailand Diundur, Persija Turunkan Tim Utama di Piala Presiden 2026

Ia menilai pembangunan ekosistem hidrogen dari hulu hingga hilir tidak hanya menghasilkan energi bersih, tetapi juga menciptakan nilai tambah di dalam negeri, meningkatkan daya saing industri, menarik investasi, serta membuka lapangan kerja baru.

Meski demikian, Bahlil mengakui biaya produksi hidrogen saat ini masih relatif tinggi dibandingkan sumber energi lainnya. Menurut dia, kemajuan teknologi dan dinamika geopolitik berpotensi membuat hidrogen semakin kompetitif pada masa mendatang.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Eniya Listiani Dewi mengatakan pemerintah telah menyiapkan 93 inisiatif pengembangan ekosistem hidrogen yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia dengan nilai investasi mencapai Rp 32 triliun.

Pengembangan hidrogen juga diarahkan untuk mendukung dekarbonisasi sektor industri, transportasi, dan ketenagalistrikan, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.

Baca juga : RI Berkomitmen Dalam Transisi Energi Melindungi Lingkungan dan Pekerja

Pemerintah turut mendorong proyek hidrogen dalam program dedieselisasi, antara lain di Sumba yang ditargetkan beroperasi secara komersial pada 2028 serta di Pulau Rote melalui kerja sama dengan PT PLN (Persero). Program tersebut diproyeksikan menurunkan biaya produksi listrik dari 1 dolar AS menjadi 25 sen dolar AS per kilowatt hour.

Salah satu implementasi teknologi yang diperkenalkan pada GHES 2026 adalah Pilot Bus H2 DDF. Armada bus milik Perum DAMRI itu dimodifikasi agar dapat menggunakan kombinasi bahan bakar solar dan gas hidrogen.

Program tersebut merupakan hasil kolaborasi Kementerian ESDM, PT PLN (Persero), dan Perum DAMRI. Sementara PT SUCOFINDO (Persero) berperan sebagai lembaga pengujian, inspeksi, dan sertifikasi independen, dengan PT Tritunggal Prakarsa Global sebagai pelaksana proyek percontohan.

Direktur Utama PT SUCOFINDO (Persero) Sandry Pasambuna mengatakan pihaknya memastikan teknologi H2 DDF memenuhi aspek keselamatan, keandalan, dan kesesuaian teknis sebelum diterapkan.

Baca juga : Ara Puji Menkeu Setujui KPR Subsidi 40 Tahun Dan Bunga Tetap 5 Persen

“Sebagai perusahaan Testing, Inspection, Certification and Consultation (TICC), SUCOFINDO memastikan implementasi teknologi H2 DDF pada Bus DAMRI memenuhi aspek keselamatan, keandalan, dan kesesuaian teknis,” kata Sandry.

Bus H2 DDF dilengkapi 16 tabung penyimpanan hidrogen berkapasitas 50 liter per tabung dengan tekanan nominal 200 bar. Sistem hidrogen tersebut dipasang pada bus Hino bermesin diesel enam silinder berkapasitas 7.684 cc.

Hasil pengujian SUCOFINDO menunjukkan penggunaan sistem H2 DDF mampu menurunkan emisi opasitas hingga 57,66 persen, karbon monoksida 45,45 persen, karbon dioksida 39,37 persen, serta nitrogen oksida 21,16 persen.

Menurut pemerintah, proyek percontohan tersebut menjadi langkah awal pemanfaatan hidrogen di sektor transportasi. Teknologi ini diharapkan dapat mengurangi konsumsi solar dan emisi kendaraan tanpa harus mengganti seluruh armada bus yang sudah beroperasi.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.