Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
RM.id Rakyat Merdeka - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meyakini nilai tukar rupiah akan semakin menguat, beberapa bulan ke depan. Hal ini seiring mulai efektifnya implementasi kebijakan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) yang berlaku sejak 1 Juni 2026.
“Yang penting gini. Ini kan dari Juni, Juli, Agustus, September, itu sudah efektif uangnya akan masuk ke sini. Jadi, seharusnya rupiah akan semakin menguat,” kata Purbaya usai rapat di Kementerian Koordinator Perekonomian, Jakarta, Kamis (23/7/2026).
Optimisme tersebut didasarkan pada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 21 Tahun 2026 yang mengatur kewajiban penempatan DHE SDA di dalam negeri.
Dalam aturan tersebut, eksportir sektor nonmigas diwajibkan menempatkan 100 persen DHE SDA di rekening khusus dalam negeri selama minimal 12 bulan. Sementara eksportir sektor migas wajib menempatkan sedikitnya 30 persen DHE SDA selama paling singkat tiga bulan.
Dana DHE SDA wajib ditempatkan melalui bank-bank anggota Himpunan Bank Milik Negara (Himbara). Pemerintah juga membatasi konversi DHE SDA dari valuta asing ke rupiah maksimal 50 persen guna menjaga efektivitas pengelolaan devisa hasil ekspor.
Baca juga : Jadi Jampidsus, Kuntadi Diyakini Mampu Tuntaskan Kasus Febrie
Dalam rapat koordinasi itu, Pemerintah turut membahas penyempurnaan aturan pelaksanaan, termasuk penetapan negara-negara yang mendapat pengecualian dari kewajiban DHE SDA. Selain itu, Pemerintah juga menentukan bank-bank BUMN yang akan menjadi penampung dana devisa hasil ekspor.
“Kita mau memastikan, negara mana aja yang dikecualikan. Terus bank mana saja yang bisa nampung DHE, terus company yang mana aja yang dicari teknisnya seperti apa,” ujar Purbaya.
Purbaya mengungkapkan, daftar negara yang memperoleh pengecualian akan bertambah dari sebelumnya hanya Amerika Serikat (AS). Namun, pengumuman resmi akan disampaikan oleh Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto dan daftar tersebut akan dievaluasi setiap tiga bulan.
Meski demikian, Purbaya belum bersedia membeberkan negara-negara lain yang akan memperoleh pengecualian. “Nggak ada masalah kalau ada kekurangan juga,” katanya.
Di pasar keuangan, pergerakan rupiah masih menunjukkan fluktuasi. Berdasarkan data Refinitiv, pada penutupan perdagangan Kamis (23/7/2026), rupiah melemah 0,08 persen ke level Rp 17.890 per dolar AS.
Baca juga : Gempur Iran, Trump Tekor 671 Triliun
Meski begitu, dalam sepekan terakhir mata uang Garuda relatif stabil di kisaran Rp 17.900-Rp 17.921 per dolar AS. Posisi tersebut membaik setelah pada pekan sebelumnya rupiah sempat menembus level Rp 18.000 per dolar AS.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo juga menilai stabilitas rupiah mulai terjaga meski sempat tertekan akibat meningkatnya konflik di Timur Tengah pada akhir Juni. Menurutnya, nilai tukar rupiah saat ini relatif tidak banyak berubah dibandingkan posisi akhir Juni.
“Dengan perkembangan tersebut, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS relatif stabil dibandingkan dengan level akhir Juni 2026 sebesar Rp 17.880,” ujar Perry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia, di Jakarta, Rabu (22/7/2026).
Ia menilai, kondisi tersebut mencerminkan efektivitas bauran kebijakan Bank Indonesia.
Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, BI terus mengoptimalkan bauran kebijakan melalui intervensi di pasar valas dan penguatan instrumen moneter. BI juga menaikkan suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk meningkatkan daya tarik aset keuangan domestik.
Baca juga : APBN Trennya Positif
Langkah tersebut mulai membuahkan hasil. Kepemilikan investor nonresiden pada SRBI meningkat dari Rp 238,1 triliun pada 15 Juni 2026 menjadi Rp 288,7 triliun atau setara 27,1 persen dari total posisi SRBI.
Selain itu, BI memberikan insentif tambahan berupa penurunan tingkat swap beli melalui skema value swap sebesar 10 persen untuk menarik minat investor asing. Bank sentral juga memperluas instrumen operasi moneter valuta asing melalui instrumen swap dan swap offshore Chinese Renminbi terhadap rupiah.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya