Dark/Light Mode

CKG, Sekolah Garuda Hingga MBG

Prabowo Gaspol, Manusia Indonesia Naik Kelas

Jumat, 14 Agustus 2026 07:50 WIB
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Pratikno. (Foto: Khairizal Anwar/RM.id)
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Pratikno. (Foto: Khairizal Anwar/RM.id)

 Sebelumnya 
Bapak Menko, program Cek Kesehatan Gratis pada 2026 ditargetkan menjangkau 132 juta jiwa. Bagaimana pemerintah memastikan program ini tidak sekadar mengejar angka cakupan? 

Kita ingin mengubah orientasi layanan kesehatan. Cek Kesehatan Gratis bukan sekadar kegiatan pemeriksaan, tetapi menjadi pintu masuk untuk pencegahan penyakit. Pada 2026, targetnya diperluas menjadi 132 juta jiwa. Sampai Juli 2026, sebanyak 64,7 juta jiwa telah mengikuti program, atau setara 49,02 persen dari target RPJMN. Yang lebih penting, setiap pemeriksaan harus menghasilkan data yang bisa digunakan untuk menentukan langkah berikutnya. Jadi, pemeriksaan tidak boleh berhenti pada pemberian hasil kepada masyarakat. 

Bagaimana pemerintah memastikan masyarakat yang ditemukan memiliki risiko kesehatan tinggi benar-benar mendapatkan penanganan? 

Data hasil pemeriksaan harus dicatat dan dipadankan dengan sistem informasi kesehatan. Dengan begitu, warga yang memiliki risiko kesehatan tinggi dapat segera diketahui dan mendapatkan pemberitahuan. Mereka kemudian harus memperoleh tindak lanjut sesuai kebutuhannya, baik berupa pendampingan, rujukan, maupun pengobatan. Puskesmas dan layanan kesehatan primer menjadi pusat penting dalam memastikan hasil pemeriksaan tersebut ditindaklanjuti. 

Jadi, prinsipnya bukan hanya menemukan masalah kesehatan, tetapi memastikan masyarakat mendapatkan layanan yang dibutuhkan. 

Masih ada kesenjangan antar wilayah, termasuk ketersediaan reagen, bahan medis dan fasilitas layanan. Apa yang dilakukan pemerintah, khususnya untuk daerah 3T? 

Baca juga : Masuk Delik Aduan, MK Pertegas Pasal Penghinaan Terhadap Presiden Dan Wapres

Kita terus memastikan kesiapan layanan di setiap daerah. Ketersediaan reagen dan bahan medis harus dijaga, sementara kapasitas fasilitas kesehatan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing wilayah. 

Untuk daerah tertinggal, terdepan, dan terluar atau 3T, perhatian khusus diberikan. Pemerintah dapat melibatkan fasilitas kesehatan TNI dan Polri, perguruan tinggi, organisasi masyarakat, serta pemerintah daerah untuk memperluas jangkauan layanan. 

Selain jumlah pemeriksaan, bagaimana pemerintah mengukur keberhasilan program Cek Kesehatan Gratis secara lebih komprehensif? 

Ke depan, ukuran keberhasilan juga tidak cukup hanya dilihat dari jumlah masyarakat yang diperiksa. Kita harus melihat berapa banyak risiko kesehatan yang ditemukan, berapa persen yang mendapat tindak lanjut, seberapa cepat proses rujukan dilakukan, serta apakah keterlambatan diagnosis bisa dikurangi. Jadi, ukuran keberhasilannya jelas. Masyarakat diperiksa, risikonya ditemukan, ditindaklanjuti, dan ditangani. 

Bapak Menko, target penemuan kasus tuberkulosis pada 2026 dinaikkan menjadi 90 persen, dari capaian 78 persen pada 2025. Bagaimana pemerintah mengejar target tersebut, terutama agar layanan primer tidak hanya menunggu pasien datang? 

Kita harus mempercepat penemuan kasus. Puskesmas tidak boleh hanya menunggu pasien datang, tetapi harus aktif melakukan pelacakan kontak dan skrining terhadap kelompok berisiko. Karena itu, penemuan kasus perlu diperluas dengan melibatkan sekolah, pesantren, tempat kerja, rumah tahanan, hingga komunitas. Semakin cepat kasus ditemukan, semakin cepat pula pasien mendapatkan pengobatan dan risiko penularan dapat ditekan. 

Baca juga : MSCI Tendang 10 Saham, IHSG Jadinya Merah

Di sisi lain, layanan primer harus diperkuat. Puskesmas harus mampu melakukan skrining dan diagnosis awal, didukung sistem laboratorium yang memadai. Ketersediaan obat juga harus dijaga, sementara proses rujukan dan pemantauan pasien harus berjalan tanpa putus. Dengan begitu, layanan primer tidak hanya menjadi tempat pengobatan, tetapi menjadi pusat pengendalian TB di wilayahnya. 

Selain menemukan kasus, tantangan berikutnya adalah memastikan pasien menyelesaikan pengobatan. Bagaimana pemerintah meningkatkan keberhasilan pengobatan, khususnya untuk TB resistan obat? 

Kita harus memastikan pasien tidak berhenti di tengah jalan. Pada 2025, keberhasilan pengobatan TB sensitif obat mencapai 84 persen, sedangkan TB resistan obat baru mencapai 59 persen. Pada 2026, targetnya dinaikkan masing-masing menjadi 90 persen dan 80 persen. 

Untuk mencapai target tersebut, pasien perlu mendapatkan pendampingan secara konsisten. Bukan hanya dari tenaga kesehatan, tetapi juga dari keluarga, kader, dan komunitas. 

Pendampingan ini penting untuk memastikan pasien patuh berobat sekaligus mengurangi stigma. Kita tidak ingin pasien merasa sendiri atau tertekan sehingga akhirnya berhenti menjalani pengobatan. Prinsipnya, menemukan kasus saja tidak cukup. Pasien harus dipastikan mendapatkan pengobatan sampai tuntas. 

Seberapa penting dukungan keluarga dan lintas sektor dalam memastikan penanganan TB berjalan sampai tuntas? 

Baca juga : Suap Restitusi Pajak, KPK Sita Emas 1,3 Kg

Sangat penting. Kontak serumah perlu diperiksa dan keluarga harus mendapatkan edukasi mengenai penularan serta pentingnya kepatuhan berobat. 

Pasien juga membutuhkan dukungan gizi dan perlindungan sosial. Karena itu, penanganan TB tidak bisa hanya dibebankan kepada sektor kesehatan. Kementerian, pemerintah daerah, perguruan tinggi, keluarga, dan masyarakat harus bekerja dalam satu rantai layanan. 

Dengan pendekatan seperti ini, kita ingin memastikan seluruh proses berjalan dari hulu ke hilir. Prinsipnya adalah temukan, obati, dampingi, dan tuntaskan. 
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.