Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Kemendikdasmen Beri Dukungan Psikososial bagi Murid Terdampak Gempa NTT
Rabu, 26 Agustus 2026 16:41 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Pemulihan pascagempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak hanya dilakukan dengan membenahi fasilitas pendidikan.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) juga menghadirkan dukungan psikososial bagi murid, guru, dan tenaga kependidikan yang terdampak bencana.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengatakan, pemulihan kondisi mental menjadi bagian penting dalam memastikan proses pendidikan dapat kembali berjalan setelah bencana.
“Untuk pemulihan mental, ini kan ada dua yang kami lakukan. Pertama, tadi ada teman-teman dari tim HIMPSI yang bekerja sama dengan kami untuk memberikan semangat seperti tadi yang kita lakukan. Anak-anak kita dibuat ceria, gembira,” ujar Abdul Mu’ti, Senin (24/8/2026).
Menurutnya, pendampingan psikososial dilakukan bersama berbagai pihak, termasuk organisasi sosial dan perguruan tinggi yang turut membantu masyarakat terdampak gempa.
Baca juga : Dukcapil Terbitkan 3.055 Dokumen Kependudukan bagi Korban Gempa NTT
“Jadi kami intinya bekerja sama dengan semua pihak agar masyarakat, terutama anak-anak, ini terbebas dari trauma dengan berbagai macam kegiatan dan penyuluhan psikologi. Kemudian untuk pembangunan fisik dan rekonstruksi secara bertahap dengan menggunakan dana revitalisasi,” imbuhnya.
Ketua Divisi Program Kebencanaan Korps Relawan Bencana Himpunan Psikologi Indonesia (KRESNA HIMPSI), Yuria Ekalitani, mengatakan hasil rapid assessment yang dilakukan di Kabupaten Ngada dan Nagekeo masih menemukan sejumlah murid yang mengalami kecemasan dan ketakutan akibat gempa susulan.
“Masih kami jumpai sebagian besar siswa merasa cemas dan takut karena gempa susulan. Beberapa juga menjadi sulit tidur, takut jika masuk ke dalam rumah, tidak mau menutup pintu karena takut ada gempa susulan, sulit konsentrasi, dan beberapa dampak psikologis lainnya,” jelas Yuria.
Untuk membantu murid mengelola kondisi psikologis setelah bencana, HIMPSI mengadakan kegiatan Tenda Gembira melalui aktivitas bermain yang dirancang secara terstruktur.
Dalam kegiatan tersebut, anak-anak juga diperkenalkan dengan teknik stabilisasi emosi untuk membantu mengelola rasa takut dan cemas yang muncul setelah mengalami bencana.
Baca juga : Ekonom Dorong Kolaborasi Pulihkan NTT Pascagempa
Sementara bagi guru dan tenaga kependidikan, HIMPSI memberikan psikoedukasi mengenai dukungan psikologis awal.
Pendampingan juga dilakukan melalui kegiatan SAPA (Supportive, Accompaniment, Psychosocial, Assistance).
Kegiatan tersebut mencakup penyapaan langsung kepada guru terdampak sekaligus asesmen psikososial untuk melihat kondisi mereka setelah gempa.
“Untuk bisa lebih terlatih, guru perlu mendapatkan pelatihan untuk memberikan layanan dukungan psikososial kepada siswa didik,” ujar Yuria.
Dukungan tersebut turut dirasakan murid korban gempa di Ngada, Felix Axelleon Naweng. Setelah mengikuti kegiatan pendampingan psikososial, Felix mengaku merasakan perubahan dalam dirinya.
Baca juga : 59 Sekolah di Simeulue Direvitalisasi, Terbanyak Sepanjang Sejarah
Ia mengatakan, kini lebih tenang ketika menceritakan kembali pengalaman saat gempa.
“Ya, ada pengaruh. Setelah ada kegiatan tersebut, saya sudah lebih fokus dan tenang ketika bercerita tentang gempa,” kisah Felix.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya