Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- 2 Kemenangan Beruntun, PSM Makin Pede di BRI Super League
- Petaka Menit Ke-90, Persib Tumbang di Markas Madura United
- Juventus Vs Rennes Berakhir Imbang, Gol Kemenangan Dianulir VAR
- Debut di Asian Para Games 2026, Abdil Majid Langsung Sabet Emas
- AC Milan Dibantai Bournemouth, Maignan Kena Kartu Merah
Bahlil Pertimbangkan Stop Ekspor Gas ke Negara Tetangga
Prabowo Nyalakan Mode Survival
Jumat, 23 Oktober 2026 07:50 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Presiden Prabowo Subianto menyalakan mode survival dengan memprioritaskan kepentingan nasional di tengah ketidakpastian global. Menyambut sikap Presiden tersebut, Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi yang juga Menteri ESDM Bahlil Lahadalia langsung mempertimbangkan menghentikan ekspor gas ke negara tetangga demi memenuhi kebutuhan dalam negeri.
“Inti yang ingin saya sampaikan, yang sudah berkali-kali saya sampaikan kepada saudara-saudara, kita sekarang berada dalam kondisi survival,” tegas Prabowo dalam Sidang Kabinet Paripurna Dua Tahun Pemerintahan di Istana Negara, Jakarta, Rabu (21/10/2026).
Prabowo mengatakan, pemerintah harus menyelamatkan kekayaan negara sebanyak mungkin dan melindungi sumber daya alam Indonesia dari praktik penyelundupan. Ia menyoroti berbagai komoditas yang kerap diselundupkan ke luar negeri, mulai dari timah, emas, batu bara, kayu, BBM, hingga pupuk bersubsidi.
Menurut Prabowo, Indonesia tidak akan mampu bertahan apabila sumber daya yang dimiliki terus mengalir ke luar negeri. Karena itu, pemerintah harus bersikap tegas terhadap berbagai praktik yang merugikan kepentingan nasional.
“Penyelundupan adalah usaha untuk membunuh ekonomi kita. Membunuh ekonomi kita, artinya membunuh bangsa kita,” tegasnya.
Baca juga : Soal Karhutla, Sugiono Jawab Protes Anggota DPR Malaysia
Prabowo menekankan, penyelamatan sumber daya alam harus menjadi prioritas agar kekayaan nasional benar-benar memberikan manfaat bagi rakyat. Ia mengibaratkan sumber daya alam sebagai darah yang harus dijaga agar tidak terus mengalir keluar.
“Kita harus menyelamatkan kekayaan kita, sumber alam kita, itu adalah ibarat darah kita. Kalau darah kita bocor terus, tidak mungkin badan kita selamat,” pesan Prabowo.
Kepala Negara mengakui kondisi survival saat ini tidak hanya dialami Indonesia. Negara-negara lain juga menghadapi situasi serupa sehingga kepentingan nasional dan kepentingan rakyat harus menjadi prioritas.
“Banyak negara di dunia sekarang mengalami seperti kita, dalam keadaan survival. Yang utama adalah kepentingan nasional dan kepentingan rakyat,” jelas Prabowo.
Sementara, Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi yang juga Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mempertimbangkan penghentian ekspor gas ke negara tetangga untuk memastikan kebutuhan dalam negeri lebih dahulu terpenuhi.
Baca juga : Singapura Bantah Recoki Bursa Saham Indonesia
Bahlil mengatakan, seluruh kementerian harus menerjemahkan arahan Presiden sesuai dengan kondisi yang dihadapi Indonesia saat ini. “Saya juga mungkin memikirkan untuk gas tidak perpanjang ekspor ke negara tetangga karena harus survival kan, harus penuhi kebutuhan dalam negeri,” tegas Ketua Umum Partai Golkar itu di Istana Negara, Rabu (21/10/2026).
Rencana penghentian ekspor tersebut mendapat dukungan dari kalangan industri.
Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Saleh Husin menilai, langkah itu menunjukkan keberpihakan pemerintah terhadap industri dalam negeri yang selama ini kerap menghadapi kendala pasokan gas.
Menurut dia, ketersediaan gas yang memadai dan berkelanjutan menjadi salah satu faktor penting untuk meningkatkan kapasitas produksi, menarik investasi, memperkuat daya saing manufaktur, serta menciptakan lapangan kerja.
Saleh menyebut, kebutuhan industri domestik perlu menjadi prioritas karena gas merupakan sumber energi utama bagi sejumlah sektor manufaktur. Dengan pasokan yang lebih terjamin, industri dapat meningkatkan produksi dan menciptakan nilai tambah di dalam negeri.
Baca juga : Kontrak Berakhir, InJourney Harap MotoGP di Mandalika Lanjut
“Industri dalam negeri pengguna gas justru kesulitan mendapatkan pasokan gas. Jadi, langkah opsi menyetop ekspor gas ke negara tetangga adalah langkah yang sangat tepat, berarti pemerintah telah berpaling mengutamakan kebutuhan dalam negeri,” kata Saleh di Jakarta, Kamis (22/10/2026).
Dukungan serupa disampaikan Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) Edy Suyanto. Ia menilai, tambahan pasokan gas sangat dibutuhkan industri keramik yang menggunakan gas dalam proses pembakaran bersuhu tinggi.
Edy menyebut kepastian pasokan dengan harga yang kompetitif dapat menjadi modal bagi industri keramik untuk meningkatkan utilisasi pabrik dan kembali menjalankan rencana ekspansi yang sempat terkendala. “Inilah kebijakan yang telah lama kami tunggu. Industri keramik akan kembali bergairah dan siap melanjutkan tahapan ekspansinya,” ujar Edy.
Ia berharap, kebijakan tersebut tidak hanya berdampak pada industri keramik, tetapi juga menciptakan efek berganda terhadap sektor lain, seperti konstruksi, properti, transportasi, hingga industri bahan baku.
“Berikan kami gas, kami ciptakan multiplier effect dan dukung pertumbuhan ekonomi nasional,” cetus Edy. [UMM/MEN]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya