Dark/Light Mode

Banjir Informasi Digital, Museum Penerangan Ajak Generasi Muda Belajar Sejarah

Kamis, 29 Oktober 2026 10:36 WIB
Museum Penerangan Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) meluncurkan buku Menata Arus, Menjaga Pesan: Dari Penerangan ke Komunikasi Publik di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, Rabu (28/10/2026). Foto: Kemkomdogi
Museum Penerangan Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) meluncurkan buku Menata Arus, Menjaga Pesan: Dari Penerangan ke Komunikasi Publik di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, Rabu (28/10/2026). Foto: Kemkomdogi

RM.id  Rakyat Merdeka - Derasnya arus informasi di era digital menuntut masyarakat, terutama generasi muda, untuk semakin kritis dalam menerima dan menyebarkan informasi.

Di tengah perkembangan media sosial dan kecerdasan artifisial (AI), Museum Penerangan Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) meluncurkan buku Menata Arus, Menjaga Pesan: Dari Penerangan ke Komunikasi Publik di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, Rabu (28/10/2026).

Peluncuran buku yang bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda tersebut dirangkai dengan diskusi MuspenTalk bertajuk Menjaga Arus, Menata Pesan, yang dihadiri ratusan siswa dari SMK Budhi Agung, SMA Negeri 54 Jakarta, SMA Negeri 14 Jakarta, dan SMK Negeri 51 Jakarta.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkenalkan sejarah komunikasi Indonesia sekaligus meningkatkan pemahaman generasi muda terhadap tantangan informasi di era digital.

Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mengatakan, perkembangan teknologi telah mengubah cara masyarakat berkomunikasi. Namun, perubahan tersebut tidak boleh menggeser tanggung jawab untuk menghadirkan informasi yang benar dan dapat dipercaya.

"Medianya berkembang, teknologinya semakin cepat, tetapi satu hal tidak boleh berubah: tanggung jawab kita untuk menghadirkan informasi yang benar, bermanfaat, dan dapat dipercaya," ujar Meutya melalui sambutan video yang ditayangkan pada pembukaan acara.

Baca juga : Menkomdigi-Kapolri Perangi Judol, Penipuan Dan Hoaks

Menurut Meutya, komunikasi publik saat ini bukan sekadar menyampaikan informasi, tetapi juga membangun kepercayaan dan menjaga ruang publik yang sehat.

Dia mengapresiasi Museum Penerangan yang terus merawat sejarah komunikasi Indonesia sekaligus menghadirkannya kembali agar relevan bagi generasi masa kini. Momentum Hari Sumpah Pemuda diharapkan menjadi pengingat bahwa komunikasi memiliki kekuatan untuk menyatukan masyarakat.

Direktur Jenderal Komunikasi Publik dan Media Kemkomdigi Fifi Aleyda Yahya mengingatkan generasi muda agar tidak mudah percaya pada informasi yang diterima melalui media sosial maupun kecerdasan artifisial.

Menurut dia, masyarakat kini menghadapi tsunami informasi yang membuat pesan menyebar jauh lebih cepat daripada kemampuan untuk memeriksa kebenarannya.

"Pertanyaannya bukan lagi apakah kita bisa mendapatkan informasi. Sekarang kita menghadapi tsunami informasi. Masalahnya, apakah kita masih punya waktu untuk berpikir sebelum percaya dan membagikannya?" ujar Fifi dalam sambutannya.

Fifi juga menekankan pentingnya menjaga kemandirian berpikir di tengah kemajuan AI. Teknologi tersebut dapat membantu proses belajar dan mengembangkan kreativitas, tetapi tidak boleh menggantikan kemampuan manusia untuk berpikir kritis.

Baca juga : Kapolri-Menkomdigi Perkuat Sinergi Perangi Scam hingga Judol

Mengutip pandangan Menkomdigi Meutya Hafid, Fifi mengingatkan bahwa manusia harus tetap berdaulat atas kecerdasannya sendiri.

"AI adalah alat bantu, tapi kita harus tetap belajar agar mengasah kecerdasan yang hakiki," katanya.

Kepala Museum Penerangan Rizki Andono Prakoso mengatakan, penerbitan buku tersebut merupakan upaya mendokumentasikan perjalanan komunikasi Indonesia, mulai dari era penerangan melalui telegraf, radio, dan televisi hingga perkembangan media digital.

"Melalui kegiatan ini, kami ingin menghadirkan sejarah komunikasi dengan cara yang lebih dekat dan relevan bagi generasi masa kini, khususnya generasi muda," ujar Rizki.

Menurut Rizki, Museum Penerangan ingin memperluas perannya dari tempat penyimpanan koleksi sejarah menjadi ruang pembelajaran dan dialog.

Melalui pengenalan sejarah komunikasi, generasi muda diharapkan dapat memahami perubahan teknologi sekaligus mengembangkan kemampuan menggunakan media secara kritis, kreatif, dan bertanggung jawab.

Baca juga : Meutya Lapor Kapolri Soal Kejahatan Digital, Dari Jual-Beli Data hingga Judol

Selain peluncuran buku, MuspenTalk menghadirkan praktisi komunikasi dan pemerhati museum R. Wahyuningrat serta praktisi komunikasi dan public speaking coach Patricia Ranieta.

Diskusi tersebut membahas perkembangan komunikasi dari masa lalu hingga tantangan masa depan, termasuk perubahan pola konsumsi informasi, media sosial, dan perkembangan kecerdasan artifisial.

Kegiatan ini turut dihadiri Staf Khusus Menkomdigi Bidang Kepemudaan dan Startup Alfreno Kautsar Ramadhan, Direktur Komunikasi Publik Nunik Purwanti, Direktur Pengembangan Ekosistem Digital Sonny Hendra Sudaryana, serta perwakilan dari Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

Melalui penerbitan buku dan dialog bersama pelajar, Museum Penerangan berharap sejarah komunikasi Indonesia tidak hanya menjadi dokumentasi masa lalu, tetapi juga sumber pembelajaran untuk menghadapi tantangan informasi di masa depan.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.