Dark/Light Mode

Sebut Herbal Wali Kota Surabaya dan Arak Bali

Luhut Optimis Tidak Ada "Second Wave" COVID-19

Kamis, 13 Agustus 2020 18:10 WIB
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan (Foto:  Kementerian Kemaritiman dan Investasi)
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan (Foto: Kementerian Kemaritiman dan Investasi)

RM.id  Rakyat Merdeka - Menteri Koordinator (Menko) Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan meyakini, tidak ada gelombang kedua (second wave) penyebaran COVID-19 di Indonesia.

Hal itu lantaran jika wabah COVID-19 pecah (outbreak) seharusnya terjadi pada momentum mudik Lebaran lalu. Atau saat dibukanya kembali sejumlah titik pariwisata. Namun menurut Luhut, dalam momentum-momentum tersebut kasus COVID-19 masih terkendali.

Baca juga : Jenderal Luhut Pastikan Tidak Ada Dwifungsi TNI

"Saya sebenarnya sangat takut waktu selesai Lebaran. Bagaimana pun, suka tidak suka yang pulang kampung kan banyak, tapi Alhamdulillah terkendali. Kemudian, (reaktivasi wisata) Bali. Bali tidak terjadi apa-apa. Jadi saya sih optimis kita tidak ada second wave," katanya dalam Rapat Kerja dan Konsultasi Nasional Apindo secara daring, Kamis (13/8).

Menurut Luhut, jika pun nantinya terjadi penyebaran wabah gelombang kedua, pemerintah telah memiliki rencana cadangan. Kapasitas penanganan seperti di Wisma Atlet, hingga obat-obatan dan peralatan medis diklaim Luhut mampu untuk menghadapi gelombang kedua itu.

Baca juga : Ditjen PKH Kementan Berharap Pusvetma Jadi BLU Terbaik

Belum lagi dengan semakin berkembangnya pengobatan herbal yang banyak dimanfaatkan masyarakat. Ia menyinggung soal minuman herbal Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini yang ampuh menyembuhkan sejumlah pasien COVID-19. Begitu pula minuman arak Bali yang menurut Gubernur Bali mampu menyembuhkan pasien di wilayah setempat.

"Yang seperti ini menjadi yang tidak dihitung oleh orang asing bahwa di Indonesia banyak hal-hal yang aneh. Bahkan disebutkan kita membohongi. Tapi kearifan lokal kan suka-suka dia," katanya.

Baca juga : Gratis, Sertikasi Halal Juga Bisa Dikeluarkan Oleh Ormas Islam

Penanganan COVID-19 di Indonesia, tambah Luhut, tidak bisa disamakan dengan penanganan di Singapura. Apalagi, karakteristik Singapura dengan Indonesia sangat berbeda jauh. Mulai dari jumlah populasi hingga kondisi daerah kumuh (slum area) di negara tersebut.

"Memang kalau orang normal seperti membandingkan Singapura, enggak adil juga. Dia cuma 7 juta penduduk dan tidak punya slum area. Kita kan ada slum area. Tapi Alhamdulillah juga, slum area kita tidak ada outbreak yang sampai tidak terkendali," ujarnya. KPJ

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.