Dark/Light Mode

Benarkah Bahasa Indonesia Miskin Kosakata?

Kamis, 9 Mei 2024 22:58 WIB
Kongres Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 sebagai Tonggak Penting Berdirinya Bahasa Indonesia (Foto: Pinterest)
Kongres Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 sebagai Tonggak Penting Berdirinya Bahasa Indonesia (Foto: Pinterest)

Akhir-akhir ini bahasan mengenai Bahasa Indonesia yang dianggap memiliki efisiensi lebih rendah dibandingkan dengan bahasa lain telah menjadi topik hangat dan kian menarik untuk dikaji. Bermula dari seseorang influencer dalam salah satu podcast-nya yang menyatakan bahwa Bahasa Indonesia miskin kosakata, pro dan kontra dari para warganet mulai bermunculan memenuhi media sosial.

Dalam dialog podcast tersebut, dijelaskan bahwa Bahasa Inggris terasa lebih ringkas dan banyak kata yang tidak mempunyai padanan dalam Bahasa Indonesia. Beberapa warganet menyatakan setuju dengan statement tersebut karena melihat jumlah entri kamus pada masing-masing bahasa, dan beberapa lainnya menolak secara keras dengan berbagai macam alasan yang patut dicerna juga. Pertanyaan menggelitik pun turut serta muncul di antara berbagai pendapat. 

Apakah benar bahwa Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang miskin kosakata? 

Baca juga : Penalti Di Babak Pertama, Indonesia Tertinggal 0-1 Lawan Guinea

Sebelum membedah perspektif-perspektif lebih lanjut, berikut beberapa poin-poin penting yang sekiranya dapat dijadikan navigasi dalam memetakan arah untuk menuju pada sebuah kesimpulan. 

  1. Bahasa Indonesia Baku Berbeda dengan Bahasa Indonesia yang Kita Kenal dalam Percakapan Sehari-hari

Bahasa Indonesia yang biasanya digunakan dalam setiap harinya sebenarnya bukan Bahasa Indonesia itu sendiri, tetapi hanya sebatas Bahasa Indonesia yang kita pahami. Tentu saja ini kemudian menjadi sebuah variabel perancu dalam memahami fenomena kebahasaan ini. Jika setiap orang memiliki definisi yang berbeda dalam otaknya untuk memaknai apa itu Bahasa Indonesia itu sendiri, maka rasa-rasanya tidak akan sah jika mendiskusikannya secara jauh seolah-olah mengerti esensi sebenar-benarnya dari apa yang dibicarakan. Untuk itu, dalam menyatakan sebuah pernyataan seperti seorang influencer tadi, disclaimmer jelas tentang apa yang sebenarnya dimaksud sangat diperlukan dalam hal ini. 

  1. Kompleksitas Bahasa Indonesia Sering Terlupakan

Karena terlalu sering menilik betapa melimpahnya kosakata dari bahasa asing, kita menjadi terlena dan pikun akan fakta bahwa sebenarnya bahasa kita sendiri pun memiliki kompleksitas lain yang cukup tinggi. Selama ini Bahasa Indonesia dianggap sederhana karena tidak mengenal sifat feminim/maskulin layaknya Bahasa Inggris dengan pronouns-nya seperti she/her, atau seperti Bahasa Perancis yang mengharuskan kata table didahului “la” bukan “le” dikarenakan meja dalam Bahasa Perancis merupakan benda yang berjenis kelamin perempuan.

Namun terlepas dari itu, Bahasa Indonesia tetap menjadi kompleks karena terinterferensi oleh berbagai bahasa daerah. Bahasa Indonesia dibangun di atas fondasi ratusan bahasa lain. Evolusi Bahasa Indonesia yang terus-menerus berlangsung terjadi karena interaksinya dengan ribuan bahasa lain. Misalnya saja, dalam obrolan seorang penutur Bahasa Indonesia asli dengan temannya yang memakan waktu relatif sebentar seperti 15 menit, ia bisa saja menggunakan kata-kata dalam Bahasa Indonesia, Bahasa Jaksel (Indonesia campur Inggris), Sunda, Jawa, Bali, Minang, Melayu, bahkan Hokkien. Terlebih lagi Bahasa Indonesia itu rumit dari segi pragmatik dan lambang maknanya. Semuanya harus disesuaikan dengan kondisi dan keadaan, juga norma-norma kesopanan yang mengatur dalam bertutur.

Contohnya kata Anda dalam bahasa Indonesia harus menyesuaikan dengan konteks ketika berbicara. Kata “Bapak”, “Ibu”, “Mas”, “Mbak”, “Kak”, “Lo”, “Ente”, “Panjenengan”, “Abang”, “Akang”, “Teh”, “Nona”, “Neng”, “Koko”, dan “Cici” mempunyai arti yang sama dengan satu kata yaitu "You". Jadi, jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris, bisa jadi seluruh kekayaan dalam pemilihan kata yang tepat hilang atau diratakan menjadi satu kata saja. Maka dari itu, jika melihat dari berbagai kompleksitas yang ada, sangat disayangkan bila Bahasa Indonesia disebut sebagai bahasa yang miskin kosakata. Miskin berarti jauh dari kata cukup, sedangkan bahasa kita sendiri sebenarnya lebih dari cukup untuk mengungkapkan berbagai makna jika digunakan sesuai pragmatik dan konteksnya. 

  1. Bahasa Indonesia Masih "Bau Kencur"

Menengok dari sejarahnya, Bahasa Indonesia dibentuk pada 28 Oktober 1928 yaitu pada saat Sumpah Pemuda. Artinya, belum satu abad adanya. Sementara itu, Bahasa Inggris berkembang dari bahasa Jermanik yang dituturkan di Inggris pada Abad Pertengahan Awal sekitar abad ke-5 Masehi. Dengan membandingkan kedua waktu tersebut, sudah terlihat secara jelas gap-age yang cukup jauh. Not apple to apple. Tak selayaknya kedua bahasa ini di komparasikan karena garis start-nya saja sudah berbeda. Ibarat Bahasa Indonesia masih bau kencur dengan umurnya yang masih muda, Bahasa Inggris telah berbau tanah dengan umurnya yang menua.

  1. Jumlah Kosakata dalam Kamus Tidak Dapat Jadi Tolok Ukur Kaya atau Tidaknya Suatu Bahasa

Melihat dari jumlah entri kamus Bahasa Indonesia yang berjumlah 119.345, angka tersebut memang relatif kecil jika dibandingkan dengan bahasa lain seperti Bahasa Inggris yang mempunyai jumlah entri lebih dari 600 ribu. Namun, jumlah kosakata dalam kamus tidak sepenuhnya mencerminkan kekayaan suatu bahasa. Kekayaan bahasa juga tergantung pada fleksibilitas, ekspresivitas, dan kemampuan bahasa tersebut untuk menyampaikan konsep yang kompleks. Selain itu, aspek-aspek seperti struktur tata bahasa, keberagaman dialek, dan kemampuan untuk mengadopsi kata-kata baru juga merupakan faktor penting dalam menilai kekayaan suatu bahasa. 

“Tiap bahasa mempunyai cara tersendiri untuk mengungkap makna. Sedikit bukan berarti miskin. Tidak banyak bukan berarti tak kaya.”

  1. Kemampuan Menggunakan Suatu Bahasa secara Efisien (Ringkas) Ditentukan oleh Derajat Kompetensi Masing-masing Individu 

Kemampuan bertutur kita, penguasaan bahasa, dan ragam diksi yang dimiliki seseorang tergantung seberapa sering kita menggunakan kosakata tersebut. Keterbatasan atau hambatan seseorang dalam mengekspresikan makna dalam suatu bahasa bukan berarti bahasa tersebut tak cukup. Alih-alih menyalahkan defisitnya kosakata, penguasaan kita dalam menggunakan suatu bahasa baik secara leksikal dan gramatikalnya harus terus menerus diasah. Dengan banyak membaca literatur, kita akan mengetahui berbagai kosakata apik yang memiliki daya eskpresivitas kuat untuk mengungkapkan berbagai makna secara mendetail. 

Baca juga : Akomodasi Jemaah Haji Indonesia di Makkah Sudah Siap

Nah, setelah melihat poin-poin di atas, bisa dipahami bahwa sebenarnya tak ada salahnya untuk menyampaikan pendapat terkait suatu bahasa di hadapan publik. Toh, itupun juga bisa dijadikan sebuah autokritik bagi kita. Namun, perlu diperhatikan bahwa setiap claim yang kita katakan harus dapat dipertanggungjawabkan. Bahasa Indonesia memang memiliki kosakata yang relatif sedikit dibanding bahasa lain, tetapi tidak untuk dapat dikatakan “miskin” sebab kata miskin memiliki makna serba kekurangan dan konotatif negatif yang subjektif. 

Terlepas dari semuanya, kita tetap bagian dari Bangsa Indonesia. Dan untuk menjadi bagian tersebut, kita harus menjaga martabat berbagai elemen bangsa termasuk bahasa. Mengevaluasi dan mawas diri tanpa perlu menjatuhkan kewibawaan bahasa kita merupakan urgensi yang penting untuk dilaksanakan. Seperti dalam sumpah pemuda ketiga yang berbunyi:  “Kami Putra dan Putri Indonesia, menjujung bahasa persatuan, bahasa indonesia.”

Dahan Tri Tunggal Melati
Dahan Tri Tunggal Melati
Mahasiswi Bahasa & Sastra Indonesia, Universitas Airlangga

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.