Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Aswaja, Perwujudan Islam Moderat yang Rangkul Semua dengan Humanis
Kamis, 16 Januari 2025 21:05 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Bidang Keagamaan, KH Ahmad Fahrur Rozi, menjelaskan tentang pentingnya kehadiran prinsip Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) dalam menjaga keberagaman Indonesia. Aswaja mampu merangkul segala perbedaan budaya dengan cara yang humanis.
Pria yang akrab dengan sapaan Gus Fahrur ini menyayangkan adanya pihak yang melancarkan tuduhan bid’ah pada Islam Aswaja. Menurutnya, pihak tersebut yang sebenarnya tidak memahami agama Islam secara komprehensif.
Dia menyatakan, kurangnya wawasan agama yang moderat menyebabkan seseorang atau kelompok tertentu mudah melempar klaim salah terhadap Islam Aswaja yang justru secara konsisten berusaha merangkul segala perbedaan yang ada. “Mereka yang suka menuduh itu karena pengetahuannya yang kurang luas," ucapnya, dalam keterangan yang diterima redaksi, Kamis (16/1/2025).
Baca juga : Kemenkop Serahkan Daftar Koperasi Yang Jalankan Sektor Jasa Keuangan Pada OJK
Dia melanjutkan, yang menuduh tersebut hanya belajar pada satu sisi tertentu, kemudian menghakimi orang karena tidak mengetahui keseluruhan perspektifnya. "Seandainya pengetahuan seseorang lebih luas, pasti tidak akan mudah untuk menyalahkan orang lain,” ucap Gus Fahrur.
Dia menerangkan, kurangnya wawasan dan sudut pandang keagamaan membuat seseorang atau kelompok cenderung menafsirkan dalil-dalil agama dengan cara yang ekstrem. Imbasnya, mereka jadi lebih mudah untuk melemparkan klaim bid’ah, sesat, hingga bahkan menghalalkan kekerasan bagi setiap kelompok yang dianggap berbeda dengan mereka.
Wakil Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur ini mengibaratkan seseorang yang mudah menyalahkan orang lain seperti sekelompok orang buta yang memegang gajah untuk mengetahui bentuk asli binatang itu. Orang-orang buta ini akan merasa paling benar meski hanya meraba gajah dari satu sisi.
Baca juga : Aksi Nyata Penerima Beasiswa Pertamina Dalam Melestarikan Lingkungan
Dia lalu berbicara mengenai esensi Bulan Rajab yang seringkali disalahartikan kelompok radikal. Gus Fahrur menjelaskan, kelompok radikal menggunakan simbol-simbol seperti pembebasan Baitul Maqdis dan jatuhnya Kekhalifahan Utsmaniyah, yang semua itu terjadi di Bulan Rajab. Padahal, Rasulullah justru memperbanyak ibadah di Bulan Rajab.
“Jadi kita Ahlussunnah itu mengikuti Rasulullah. Rasulullah di Rajab melakukan puasa, banyak berdoa, banyak berdzikir, dan bersiap memasuki Ramadan," ucapnya.
Menutup penjelasan, Gus Fahrur berharap agar dengan hadirnya Aswaja mampu memelihara spiritualitas dan menaungi keragaman Nusantara. Ia juga menilai kedewasaan masyarakat Indonesia dalam mencari sumber pengetahuan agama menjadi lebih baik dengan semakin banyaknya ulama dan dai yang moderat.
Baca juga : Sirine Peringatan Tsunami Meraung-raung Di Banda Aceh, Semua Kendaraan Berhenti
“Kita juga harapkan Pemerintah mempunyai keberpihakan lebih pada ormas-ormas moderat. Dengan demikian, Islam Aswaja dan arus keagamaan yang moderat akan memiliki ruang yang lebih besar untuk melakukan dakwah dengan lebih baik di ruang publik,” tandasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya