Dark/Light Mode

Kementerian Agama Dalam Pusaran Paradigma Baru Membangun Bangsa

Jumat, 31 Januari 2025 22:07 WIB
Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Republik Indonesia (RI) Tamsil Linrung. Foto: Istimewa
Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Republik Indonesia (RI) Tamsil Linrung. Foto: Istimewa

RM.id  Rakyat Merdeka - Kepuasan publik terhadap kinerja Kementerian Agama, menunjukkan adanya pergeseran paradigma dalam menilai efektivitas Pemerintahan. Kementerian Agama bahkan dapat menjelma sebagai sentrum paradigma baru pembangunan bangsa.

Indikator keberhasilan program pemerintah yang kerap kali diinterpretasikan dengan instrumen pembangunan fisik, direspons dengan kesadaran anyar. Bahwa kebijakan yang menyentuh aspek spiritual dan nilai-nilai sosial kolektif, berimplikasi nyata dalam memenuhi dahaga kebatinan rakyat.

Ekspektasi terhadap Pemerintah bukan lagi sekadar soal gemuruh batu bata pembangunan yang berdiri megah menjadi landmark kota. Bukan juga deretan statistik menjulang neraca ekonomi.

Baca juga : Pemerintah Siapkan Aturan Baru, Konsep Danantara Bisa Contoh Khazanah

Di balik itu semua, ada ruang-ruang batin yang merindukan sentuhan kemanusiaan. Ada jiwa dan nurani yang mencari keadilan dalam setiap kebijakan.

Penilaian positif atas kinerja Kementerian Agama dan figur Menteri Agama, Nasaruddin Umar, bukan sekadar apresiasi, melainkan isyarat bahwa ada dimensi kehidupan yang lama terpinggirkan. Yaitu nilai, keyakinan, dan kesejahteraan spiritual yang kini perlahan mendapat tempat di panggung kebijakan.

Sejumlah survei yang menempatkan Kementerian Agama sebagai kementerian berkinerja paling baik dalam 100 hari pertama masa bakti Kabinet di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, mengirimkan pesan mendalam sekaligus petunjuk berbasis suara batin publik, bagaimana semestinya arah kebijakan ke depan harus dihelat.

Baca juga : Prabowo Temui Mantan Menteri Emil Salim, Bahas Orientasi Pengabdian Bangsa

Dengan kekuatan integritas, artikulasi moralitas, dan visi yg kuat, Menteri Agama mampu mendrive kementeriannya untuk perform dengan baik, sehingga mendapatkan apresiasi positif dari publik.

Seruan moral yang berulang kali dilantunkan Sang Kiai yang sejalan dengan praktik jejak integritas (walk the talk), seolah menjadi oase yang selama ini diharapkan mengisi ruang kepemimpinan republik.

Dalam realitas sosial, dimensi kehidupan masyarakat tidak melulu soal tuntutan pemenuhan kebutuhan fisik dan material. Rakyat tidak selalu menagih kesejahteraan ekonomi atau pembangunan infrastruktur, tetapi juga mengharapkan tuntunan dari para pemimpin.

Baca juga : Fraksi PKB Ingatkan BP Danantara, Jamin Keberlanjutan Bisnis BUMN Demi Bangsa

Ia adalah nilai-nilai yang mampu memberikan ketenangan dan harmoni sosial. Bagi Al-Farabi, dalam konsep pemikiran tentang kesempurnaan manusia (al-insan al-kamil), manusia tidak hanya mencari pemenuhan kebutuhan fisik, tetapi juga kebijaksanaan dan kebahagiaan hakiki (as-sa'adah).

Dalam kajian kebijakan publik, teori ini sering kali dikesampingkan. Bahkan tak dapat tempat sebagai acuan meramu formula kebijakan. Paradigma lama ini selalu berujung pada monumen pembangunan yang gersang dari nila-nilai. Tidak memiliki ruh.

Padahal, sebagai manusia beragama, kita tumbuh dengan kesadaran bahwa kebahagiaan sejati tidak terletak pada variabel tunggal materi, melainkan komplementer dengan penyempurnaan akal dan jiwa.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.