Dark/Light Mode

Tradisi Umat Islam Indonesia dalam Merayakan Nisfu Syaban

Sabtu, 15 Februari 2025 00:02 WIB
Kegiatan Nisfu Syaban di Musallah Al-Falah Ciputat, Tangsel, Banten, Kamis (13/2/2025). (Foto: Dok. Pribadi).
Kegiatan Nisfu Syaban di Musallah Al-Falah Ciputat, Tangsel, Banten, Kamis (13/2/2025). (Foto: Dok. Pribadi).

Pada saat datangnya pertengahan Bulan Sya’ban atau lebih dikenal dengan sebutan Nisfu Syaban, setiap tahunnya, sebagian umat Islam di Indonesia sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk rangkaian kegiatan tersebut. Bagi umat Islam, baik laki-laki maupun perempuan yang akan mengikuti kegiatan Nisfu Syaban di masjid-masjid dan musallah, mulai pukul 17:30 sudah mempersiapkan diri untuk datang.

Persiapan itu meliputi perlengkapan salat dan ada juga yang mempesiapkan air putih dalam botol untuk dibawa ke masjid atau musallah. Jika mereka datang ke masjid pada saat azan Magrib, ada kemungkinan mereka tidak mendapatkan tempat untuk Salat Magrib, karena banyaknya umat yang ingin mengikuti rangkaian kegiatan Nisfu Syaban yang biasanya dimulai selepas Salat Magrib.

Biasanya pada saat datangnya malam Nisfu Syaban, pengurus masjid dan musallah juga melakukan berbagai persiapan, seperti menggelar tikar di halaman masjid atau musallah. Jika masjid dan musallah tidak mempunyai halaman, biasanya pengurus terpaksa menutup jalan di depan masjid dan musallah dan menggelar tikar di situ. Fungsinya untuk mengantisipasi banyaknya umat Islam di sekitar masjid untuk melakukan Salat Magrib dan mengikuti rangkaian acara malam nisfu syaban dari awal sampai akhir. 

Kegiatan Nisfu Syaban dalam masyarakat Muslim di Indonesia cenderung tidak seragam satu dengan yang lainnya, atau berbeda dari masjid yang satu dengan masjid yang lainnya, sesuai dengan kebiasaan atau kebudayaan mereka masing-masing. Ketidakseragaman ini mungkin juga disebabkan oleh tidak adanya acuan khusus yang dapat digunakan untuk mengisi rangkaian kegiatan Nisfu Syaban. 

Baca juga : Siapa Yang Berhak Menentukan Sesatnya Sebuah Aliran?

Sebagian mereka yang datang ke masjid untuk mengikuti rangkaian kegiatan Nisfu Syaban ada yang membawa air yang disimpan dalam botol dan ada juga yang membawa air kemasan botol yang mereka beli dari warung yang dekat dengan masjid, jika mereka tidak sempat bawa air dari rumah. Selepas salat berjamaah di masjid, air-air yang telah disiapkan oleh masing-masing jamaah tadi disimpan di tengah-tengah masjid dan tutup-tutup botolnya dibuka.

Setelah semuanya telah dipersiapkan, barulah pembacaan Surat Yaasin dimulai. Biasanya pembacaan Surat Yaasin ini sebayak 3 kali dan berbeda dengan pembacaan Surat Yaasin yang dilakukan oleh kelompok Majelis Taklim di setiap Malam Jumat, yaitu hanya satu kali. Setelah pembacaan Surat Yaasin selesai dilakukan, dilanjutkan dengan doa. Jamaah kemudian mengambil kembali botol-botolnya dan selesai acara botol-botol tersebut dibawa pulang dan airnya diminum bersama anggota keluarga.

Ada sebagian masyarakat Muslim berkeyakinan bahwa air-air tersebut dapat berfungsi menyembuhkan segala penyakit yang ada dibadan manusia. Ada juga sebagian umat Islam yang tidak meyakininya dan menganggapnya sama saja dengan air minum yang lain. Bagi yang meyakini menganggap bahwa air itu sudah didoakan banyak orang dan dapat memberikan manfaat bagi yang meminumnya. Manfaat dari air itu bermacam-macam sesuai dengan keyakinan setiap orang.

Ada juga masjid dan musallah melakukan kegiatan malam Nisfu Syaban dengan membaca Salawat yang diiringi musik rebana. Ada juga masjid yang melakukan rangkaian kegiatan Nisfu Syaban dengan membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an dan dilanjutkan dengan ceramah-ceramah agama oleh ustad dan kiai. Ceramah agama itu biasanya menjelaskan fungsi dan makna dari Bulan Syaban dan memberikan pengetahuan agama pada jamaah. 

Apa yang dilakukan sebagian umat Islam di beberapa masjid dalam mengisi rangkaian kegiatan Nisfu Syaban adalah bentuk dari ritual yang selalu ada dalam hidup manusia, dilakukan setiap tahun dan dilestarikan secara turun-temurun. Kadangkala ada juga sebagian umat Islam yang tidak paham dengan yang mereka lakukan, dan mereka hanya ikut-ikutan saja. Jika mereka tidak melakukan rangkaian kegiatan Nisfu Syaban, maka mereka merasa ada yang kurang dalam hidupnya. Tapi, kala ditanya tentang sejarah dan makna Nisfu Syaban, mereka juga tidak tahu. 

Baca juga : Srikandi PLN Indonesia Power Sosialisasikan Bahaya Kanker di Petamburan

Ada juga sebagian masyarakat Muslim dalam mengisi rangkaian kegiatan Nisfu Syaban dengan melakukan puasa dari awal Sya’ban sampai dengan pertengahan Sya’ban. Ini mereka lakukan karena ada Hadis yang diriwayatkan Imam an-Nasa’i dan Imam Abu Dawud, yang disahihkan Imam Ibnu Khuzaimah yang bersumber dari Usamah bin Zaid, yang menjelaskan bahwa Nabi Muhammad pernah berpuasa pada Bulan Sya’ban. Jadi, setiap orang memiliki pandangan dan pemahaman yang berbeda dengan Nisfu Syaban.

Ada juga di beberapa masjid dan musallah dalam merayakan malam Nisfu Syaban, yaitu dengan membawa ketupat ke masjid atau ke musallah. Setelah didoakan, ketupat-ketupat dengan lauk pauknya, dimakan bersama-sama dengan jamaah lain di dalam masjid atau musallah.

Di beberapa masjid, ada persyaratan khusus dalam perayaanNisfu Syaban dengan menggunakan ketupat, yaitu orang yang membawa ketupat tidak boleh memakan ketupat yang mereka bawa sendiri dan harus memakan ketupat yang dibawa orang lain. Tujuannya agar para jamaah ini dapat merasakan masakan orang lain secara bersma-sama atau saling memakan makanan yang dibawa teman-temannya yang lain. Ini dapat juga dikatan sebagai bentuk penghormatan dan kebersamaan.

Dengan adanya tradisi membawa ketupat ke masjid dan musallah, maka menjelang Nisfu Syaban, ada sebagian orang Muslim--pada saat menjelang Nisfu Syaban sibuk membuat ketupat sebagaimana layaknya mereka mempersiapkan ketupat untuk merayakan Idul Fitri atau Idul Adha. Jika mereka tidak sempat membuat ketupat, mereka dapat membeli yang sudah jadi di pasar-pasar. Tradisi dalam menyambut Nisfu Syaban dengan membawa ketupat di masjid-masjid dapat memberikan keuntungan bagi pedagang ketupat di pasar-pasar, paling tidak satu tahun satu kali.

Baca juga : Dorong Netralitas Karbon, Toyota Indonesia Gelar Pameran Beyond Zero

Ada sebagian orang Islam menganggap yang dilakukan orang-orang Islam lainnya di masjid-masjid pada saat Nisfu Syaban adalah kegiatan ibadah yang tidak mempunyai dasar hukum yang kuat dan dapat disebut sebagai perbuatan bid’ah (atau suatu perbuatan yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW). Ada juga sebagian umat Islam yang tidak mempermasalahkannya, karena para ulama terdahulu mempraktikkannya. Sedangkan apa yang dilakukan sebagian umat Islam di masjid-masjid pada saat Nisfu Syaban sekarang ini adalah mengikuti praktik yang pernah dilakukan para ulama dan orang-orang Islam sebelumnya. Mereka beranggapan bahwa mengikuti perbuatan para ulama sebelumnya adalah perbuatan yang baik dan harus dilestarikan. Mereka juga beranggapan bahwa tradisi-tradisi leluhur yang baik-baik dan tidak bertentangan dengan agama Islam perlu dilestarikan, agar generasi muda dapat merasakan apa yang dilakukan oleh para pendahulunya.

Meskipun pro dan kontra tentang ritual Nisfu Syaban masih dijumpai di dalam masyarakat sampai saat ini, namun rangkaian kegiatan ini masih tetap ramai dilakukan sebagian masyarakat Muslim, sesuai dengan keyakin mereka masing-masing. Dampak positif dari kegiatan Nisfu Syaban yang dilakukan sebagian umat Islam di berbagai daerah di Indoneisa setiap tahunnya, adalah mendekatkan umat Islam pada masjid dan musallah.

Pada hari-hari yang lain mungkin mereka enggan untuk datang ke masjid dan musallah untuk bersama-sama melakukan shalat jamaah dan membaca Surat Yaasin, namun pada saat malam Nisfu Syaban mereka dengan senang hati untuk datang ke masjid, salat berjamaah dan membaca ayat-ayat Al-Qur'an, khususnya Surah Yaasin secara bersama-sama.

Manfaat lain adalah dengan adanya kegiatan Nisfu Syaban yang digelar di masjid-masjid dan di musallah-musallah setiap tahunnya, dapat mengeratkan hubungan sesama umat Islam. Yaitu melalui wadah salat berjamaah, membaca Al-Qur'an, berdoa, dan bahkan makan bersama. 

M. Ikhsan Tanggok
M. Ikhsan Tanggok
Guru Besar Antropologi Agama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.