Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
RM.id Rakyat Merdeka - Sastrawan Denny JA meluncurkan karya terbarunya, “Yang Menggigil dalam Arus Sejarah” (2025). Buku ini melengkapi proyek heptalogi puisi esai yang telah ia rintis selama lebih dari satu dekade terakhir.
Tujuh buku tersebut tidak hanya menjadi dokumentasi sastra, tetapi juga arsip nurani bangsa dan dunia. Berbeda dari enam buku sebelumnya yang menyoroti sejarah Indonesia, buku ketujuh ini melintasi batas negara.
Ia menyuarakan tragedi kemanusiaan dari berbagai penjuru dunia: korban Revolusi Prancis, Holocaust, pembantaian di Nanking, hingga anak-anak yang menjadi yatim akibat bom di Hiroshima.
Baca juga : Menteri Ekraf: Polri Punya Peran Strategis Dalam Mendukung Industri Kreatif
Semua buku ini menggunakan format khas ciptaan Denny JA: puisi esai, yaitu sebuah genre baru yang memadukan narasi puitik dengan riset sejarah. Genre ini telah berkembang menjadi gerakan sastra lintas batas, dengan komunitas di seluruh Indonesia dan Asia Tenggara. Ia menjadi agenda utama dalam Festival Puisi Esai ASEAN yang kini telah digelar sebanyak empat kali.
“Sejarah resmi menulis pahlawan. Tapi puisi esai menulis korban,” ujar Denny JA, saat peluncuran buku ketujuh.
Menurut Denny JA, puisi esai sangat penting karena menyentuh sisi terdalam manusia, memperluas definisi sejarah, dan menghidupkan narasi yang dilupakan.
Baca juga : Hendropriyono: Penulisan Sejarah Ulang Harus Oleh Akademisi, Bukan Politisi
“Sebab kemerdekaan sejati, seperti puisi, adalah keberanian untuk terus mendengarkan yang tak lagi punya suara,” ujar Denny JA.
Menurut Penerbit CBI, proyek heptalogi ini bukan hanya proyek literer, melainkan arsip nurani kolektif bangsa dan dunia. Di tengah gempuran informasi digital yang dangkal dan cepat lewat, puisi esai menawarkan ruang perenungan—sebuah jeda, sebuah napas.
Berikut tujuh buku puisi esai Denny JA dalam Heptalogi:
- Atas Nama Cinta (2012) – Tentang cinta yang kalah oleh diskriminasi.
- Kutunggu di Setiap Kamisan (2018) – Tentang mereka yang hilang paksa.
- Jeritan Setelah Kebebasan (2015) – Tentang konflik berdarah pasca-reformasi.
- Yang Tercecer di Era Kemerdekaan (2024) – Tentang mereka yang tak merdeka saat proklamasi.
- Mereka yang Mulai Teriak Merdeka (2024) – Tentang pahlawan sebagai manusia, bukan ikon.
- Mereka yang Terbuang di Tahun 1960-an (2024) – Tentang mereka yang kehilangan tanah air dan kampung halaman.
- Yang Menggigil dalam Arus Sejarah (2025) – Tentang tragedi global yang membentuk nurani dunia.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya