Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Lima Kritikus Apresiasi Genre Lukisan Imajinasi Nusantara Denny JA
Sabtu, 19 Juli 2025 14:35 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Lima kritikus seni rupa Indonesia memberikan apresiasi terhadap karya lukis Denny JA yang melahirkan genre baru bertajuk Imajinasi Nusantara.
Genre ini menggabungkan unsur realisme manusia, batik sebagai simbol lokalitas, lanskap surealis, dan teknologi kecerdasan buatan (AI) sebagai medium ekspresi.
Para kritikus yang memberikan tanggapan atas genre tersebut adalah Agus Dermawan T, Merwan Yusuf, Frigidanto Agung, Mayek Prayitno, dan Bambang Asrini Widjanarko. Kelima tokoh seni rupa ini menilai, karya Denny JA tidak sekadar hadir sebagai lukisan digital, tetapi sebagai bentuk refleksi budaya dan spiritualitas di era teknologi.
“Lukisan Denny menyurealkan realitas sosial-politik dengan batik sebagai napas estetikanya,” kata Agus Dermawan T, dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Sabtu (19/7/2025).
Baca juga : Aprisindo Apresiasi Barantin Mudahkan Importasi Bahan Baku Alas Kaki
Senada, Merwan Yusuf menyebut karya-karya tersebut sebagai bentuk “irealitas konkret” yang justru menangkap trauma kolektif secara jujur. Ia menilai, kehadiran batik dalam lukisan Denny menjadi simbol perlawanan terhadap estetika dominan.
Sementara itu, Frigidanto Agung memandang genre ini sebagai metafora dari kondisi global yang retak. “Denny bukan laporan WHO, tapi ia memeluk luka manusia dengan bahasa visual,” ujarnya.
Mayek Prayitno menyebut Imajinasi Nusantara sebagai “lompatan estetika”. Menurutnya, Denny JA telah menyulap AI menjadi alat kontemplasi, bukan sekadar instrumen produksi visual.
Bambang Asrini Widjanarko menilai karya Denny sebagai “doa yang diam”, tempat di mana keheningan, psikologi, dan algoritma bertemu dalam arsitektur visual. “AI adalah alat, imajinasi adalah jiwa,” ucapnya.
Baca juga : Komisi II DPR Apresiasi Rencana Wapres Gibran Urus Papua
Karya-karya dalam genre Imajinasi Nusantara telah dipublikasikan melalui dua buku lukisan berjudul “Handphone, Kita Dekat Sekali” dan “Wonderland, Dunia Anak-anak”. Lukisan-lukisan tersebut menggambarkan berbagai kondisi sosial dan batin manusia melalui pendekatan visual yang khas.
Salah satu karya menampilkan sosok anak kecil mengenakan kaus batik, berdiri di jalanan kosong dengan latar langit penuh simbol virus. Dalam suasana hening, batik yang dikenakan menjadi simbol narasi tentang identitas, ketahanan, dan harapan.
Menurut Denny JA, Imajinasi Nusantara bukan sekadar gaya melukis, tetapi genre visual kontemporer Indonesia yang lahir dari persilangan antara budaya lokal, tragedi global, dan teknologi digital.
“Setiap lukisan adalah ruang tafsir dan perenungan, bukan jawaban atas dunia yang semakin algoritmis,” ujarnya.
Baca juga : DPR Apresiasi Kecepatan Pemerintah Isi Kekosongan Dubes di Negara Strategis
Denny JA menambahkan, seni rupa tetap menjadi ruang spiritual di tengah derasnya arus visual dan kecanggihan teknologi. “Lukisan bukan hanya gambar, tetapi doa visual dan dokumentasi batin di era digital,” katanya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya