Dark/Light Mode

Budaya Siapa Di Balik AI?

Sabtu, 19 Juli 2025 16:20 WIB
Vita Balqis D. (Foto: dok pribadi)
Vita Balqis D. (Foto: dok pribadi)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pada suatu pagi yang sunyi, saya mengajukan pertanyaan kepada kecerdasan buatan. Bukan tentang algoritma, bukan tentang sistem. Saya bertanya hal-hal yang sangat manusiawi: apa arti malu? Bagaimana doa tumbuh dari hati? Bagaimana kesedihan hadir tanpa suara?

Jawabannya datang cepat. Tertata. Bersih. Rasanya seperti membaca buku petunjuk. Semua logis, rapi, dan runut. Tapi ada yang hilang. Seperti rumah tanpa aroma, seperti doa tanpa iman. Saya merasa dijawab oleh sesuatu yang tidak mengenal luka, tidak tumbuh dari pengalaman, dan tidak lahir dari rahim budaya saya sendiri.

Di sinilah zaman kita, pertanyaan yang dulu dilemparkan kepada guru, orang tua, atau langit malam, kini diajukan pada mesin. Jawaban datang dalam hitungan detik. Tapi siapa yang sebenarnya menjawab?

Sebagian besar sistem kecerdasan buatan yang kita gunakan hari ini, mulai dari asisten virtual hingga algoritma media sosial, dilatih dengan data dari satu belahan dunia: Barat. Mereka lahir dari budaya yang menjunjung individualisme, rasionalitas, dan sekularisme. Maka ketika kita, yang hidup dengan nilai kesantunan, rasa malu, dan spiritualitas, mengajukan pertanyaan, jawaban yang datang terasa asing. Kadang dingin. Kadang netral. Tapi hampir selalu tak sepenuhnya mengerti.

Neutralitas itu, nyatanya, bukan tanpa ideologi. Ia membawa logika budaya dominan yang menyelinap diam-diam. Inilah yang disebut para pakar sebagai bentuk baru dari penjajahan budaya, cultural imperialism, kata Herbert Schiller. Bukan lagi melalui senjata atau kolonialisme, tapi melalui sistem pengetahuan yang dikurasi, dipilih, dan diajarkan oleh mesin yang dilatih dari satu sudut pandang.

Baca juga : Bukan Kisah Satu Babak

Maka, pertanyaan kita bukan sekadar “apa yang dikatakan mesin?”, tetapi “dari nilai siapa ia belajar bicara?”

Dalam teori Sapir-Whorf, dikatakan bahwa bahasa membentuk cara berpikir manusia. Jika suatu bahasa tak punya kata untuk menyebut sesuatu, maka pikiran pun mungkin tak bisa memproses konsep itu. Maka ketika sistem AI dibangun dari bahasa dan logika Barat, ia bukan sekadar berbicara dalam bahasa Inggris, tapi juga berpikir dengan cara budaya Barat. Ketika kita bertanya dalam bahasa kita tentang takdir, kesopanan, atau cinta kepada orang tua, mesin menjawab dengan logika universal yang terasa seperti suara asing di tanah sendiri.

Saya teringat wajah perempuan muda dalam bayangan saya, ia duduk diam di depan layar, mengenakan batik, membawa warisan nilai-nilai yang tak bisa diterjemahkan oleh mesin. Ia bertanya dengan hati, tapi dijawab dengan sistem. Di antara mereka, ada keheningan yang tak mampu dijembatani.

Stella Ting-Toomey, seorang pakar komunikasi lintas budaya, menyebut pentingnya konsep citra, harga diri, martabat. Ia menggunakan istilah “wajah”. Dalam interaksi, bagaimana setiap budaya memiliki cara menjaga martabat, kehormatan, dan kesantunan. Di Asia, termasuk Indonesia, menjaga wajah berarti berbicara dengan hati-hati, penuh rasa, dan tidak frontal. Namun ketika AI menjawab, ia tidak mengenal konsep itu. Tidak tahu mana yang harus dilunakkan, mana yang harus dibiarkan diam. Ia hanya tahu logika, bukan rasa.

Akibatnya, identitas budaya kita terancam menjadi samar. Bukan karena dihapus, tapi karena tidak cukup sering disebut. Algoritma hanya mengenali yang sering muncul, bukan yang paling dalam maknanya. Seperti dikatakan oleh Safiya Umoja Noble, algoritma memperkuat ketimpangan, siapa yang paling banyak bersuara, itulah yang paling didengar. Maka budaya lokal yang jarang terdokumentasi akan tergeser pelan-pelan oleh yang lebih vokal dan lebih “viral”.

Baca juga : Negara Tanpa Jiwa

Mungkin karena itu, kita sering merasa asing di rumah digital kita sendiri. Standar kecantikan, gaya bicara, selera humor, bahkan cara kita memahami duka, semua perlahan dikurasi oleh sistem yang tidak lahir dari tanah ini.

AI bukan hanya alat. Ia adalah penjaga gerbang makna. Ia menentukan apa yang pantas ditampilkan, apa yang penting dibicarakan, dan apa yang layak dianggap benar. Maka jika budaya kita jarang masuk dalam ruang itu, lama-lama ia akan dianggap tak ada.

Di situlah kita harus kembali bertanya, masih adakah ruang bagi kita untuk memahami dunia dengan bahasa sendiri? Atau kita akan terus dibentuk oleh jawaban yang tak mengenal wajah kita?

Barangkali kita memang sedang dijawab oleh mesin. Tapi jangan biarkan makna ditelan begitu saja. Karena budaya bukan sekadar apa yang kita warisi, tapi apa yang kita perjuangkan agar tetap terdengar.

Dalam dunia di mana logika dan data menjadi raja, kita butuh lebih dari sekadar kecerdasan. Kita butuh keberanian untuk bertanya dengan cara dan rasa kita sendiri. Agar suara budaya tidak hanya terdengar, tetapi dimengerti. Dalam sunyi yang tak bisa dijawab mesin, semoga kita tetap bisa mendengar bisikan paling penting, suara hati kita sendiri.

Baca juga : Si Bule Siap Manggung Di Piala Presiden 2025

Oleh: Vita Balqis D.

Penulis adalah Pengusaha dan Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Komunikasi Politik, Universitas Sahid Jakarta.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.