Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Banjir Mangga di Perkotaan dan Dinamika Ekonomi Kecil di Ruang Kota
Selasa, 4 November 2025 21:02 WIB
Akhir Oktober ini di beberapa tikungan dan pojokan kota-kota besar banyak menyajikan satu pemandangan khas yang menarik bagi mata yang peka: jalanan dipenuhi kios buah musiman, mobil bak terbuka yang berubah menjadi toko dadakan, hingga meja sederhana di depan rumah yang disulap menjadi lapak kecil. Semuanya menjual satu komoditas yang sama — mangga.
Musim mangga datang seperti banjir kecil yang mengguyuri kota. Dalam sekejap, aroma manisnya menyeruak di pinggir jalan, tetapi di balik kelezatan buah tropis itu, tersimpan absurditas ekonomi yang pantas kita renungkan.
Pasar yang Melimpah, Nilai yang Merosot
Begitu pojokan dan tikungan itu semarak dengan para penjual buah mangga (dan kadang ada juga buah penyerta lainnya, dalam beberapa pekan saja, harga mangga turun tajam. Saya sendiri mengalami, dari kisaran Rp30.000–Rp40.000 per kilogram di awal Oktober, kini banyak dijual hanya Rp9.000–Rp10.000 per kilogram — bahkan lebih murah jika dibeli langsung dari gerobak atau mobil pick-up. Apalagi jika emak-emak yang menawar, bisa jadi murahnya kebangetan.
Di balik turunnya harga ini, hukum besi pasar bekerja tanpa ampun. Di mana ketika pasokan meningkat secara drastis dan permintaan stagnan, perang harga tak terhindarkan. Inilah yang saya sebut sebagai absurditas pertama.
Sementara di lapangan, jelas para pedagang memilih bersikap pragmatis. Mereka tahu mangga tak bisa menunggu. Buah ini cepat matang, cepat rusak, dan tak mungkin dibawa kembali ke kampung asal. Maka pilihan rasionalnya: jual murah daripada busuk. Dalam logika harian mereka, lebih baik kehilangan margin daripada kehilangan seluruh modal.
Baca juga : Shopee Barokah Dukung Pemberdayaan Ekonomi Pesantren
Over-Supply dan Ketidakseimbangan Struktural
Jika kita perdalam lebih lanjut, fenomena banjir mangga ini bukan sekadar gejala pasar, melainkan simptom sosial-ekonomi dari ketidakseimbangan struktural antara desa dan kota. Di satu sisi, petani di Indramayu, Purbalingga, hingga Cirebon memanen bersamaan — panen raya yang tidak diikuti dengan distribusi cerdas. Sementara di sisi lain, kota menerima limpahan buah tanpa daya serap konsumsi yang memadai.
Mangga bukan bahan pokok; ia bukan beras atau minyak goreng. Ia buah musiman yang dikonsumsi bila perlu, bukan bila harus. Karena itu, elastisitas permintaannya tinggi — masyarakat mudah menunda pembelian, atau sekadar mengambil dari pohon sendiri di halaman rumah.
Sekalinya produsen mangga bertambah karena punya pohon sendiri, atau diberi tetangga yang punya pohon, dengan sendirinya, sentilan tersebut berdampak langsung dan menggangu suplai dengan mengguncang.
Kota dan “Pohon Mangga yang Diam-Diam Produktif”
Menariknya, banyak kompleks perumahan menengah bawah di Jabodetabek kini menjadi “produsen kecil” mangga lokal. Pohon-pohon yang dulu ditanam hanya sebagai penghias halaman kini berbuah lebat. Tanpa disadari, kota ikut menjadi bagian dari rantai produksi mangga, walau tanpa perencanaan dan tanpa sistem distribusi.
Baca juga : Airlangga Lapor ke Prabowo: Daya Tahan Ekonomi Kuat
Ini menambah lapisan kompleksitas baru. Masyarakat kota yang dulunya konsumen kini juga produsen musiman. Akibatnya, pasar perkotaan kelebihan pasokan dari dua arah — kiriman desa dan hasil panen halaman rumah sendiri.
Selain itu, ketika kelebihan pasokan terjadi, seharusnya ada solusi teknologi untuk memperpanjang umur buah. Namun dalam kasus mangga, kita masih bergantung pada logika pasar konvensional: jual cepat, agar tidak busuk. Padahal dengan inovasi sederhana — seperti pengeringan, pembuatan jus beku, atau fermentasi manisan — nilai buah ini bisa dilipatgandakan. Sayangnya, teknologi pascapanen belum menjadi budaya ekonomi rakyat.
Akibatnya, kota-kota kita menjadi pasar sementara yang sibuk tapi rapuh. Ratusan pedagang bekerja keras setiap hari, namun laba yang mereka peroleh hanya secuil, seringkali tak sepadan dengan tenaga dan biaya angkut.
Ketimpangan Nilai dan Menemukan Makna dalam Banjir Buah
Ketika tengkulak tak lagi tertarik membeli mangga dari petani karena harga kota anjlok, maka rantai ekonomi pun terputus. Petani kehilangan insentif menanam, pedagang kehilangan margin, dan konsumen kehilangan keberlanjutan pasokan. Inilah paradoks ekonomi musiman: di tengah kelimpahan, semua pihak bisa sama-sama rugi.
Secara kasat mata, kita menyaksikan bentuk kecil dari krisis keberlanjutan ekonomi rakyat. Gegara pasar yang tidak diatur, distribusi yang tidak merata, dan produksi yang tidak terkoordinasi. Semua bergerak spontan, namun tanpa arah bersama. Semua seperti berjalan lurus, tetapi kedua mata dilakban.
Baca juga : BRI Cetak Laba Rp 41,2 Triliun, Perkuat Peran Strategis Dorong Ekonomi Kerakyatan
Fenomena banjir mangga di kota bukan hanya soal buah dan harga, melainkan tentang bagaimana masyarakat kota dan desa berelasi dalam sistem ekonomi yang rentan. Ia mengajarkan bahwa keberlimpahan tanpa tata kelola justru menciptakan kerugian bersama.
Mungkin, di balik tumpukan mangga di pinggir jalan, kita sedang bercermin: melihat bagaimana ketidakteraturan kecil dalam urusan buah bisa menjadi cerminan dari ketidakteraturan besar dalam sistem ekonomi rakyat.
Maka tugas kita — sebagai konsumen, akademisi, dan warga kota — bukan sekadar menikmati musim mangga, tetapi juga belajar dari rasanya yang manis sekaligus getir. Karena di dalam setiap gigitan mangga, terselip pelajaran tentang keadilan pasar, distribusi yang timpang, dan pentingnya kolaborasi antara desa dan kota agar tak ada lagi panen raya yang berakhir dengan kehilangan bersama. [*]
Dr. Tantan Hermansah
Anggota Dewan Tafkir PP Persatuan Islam (Persis) & Dosen Ilmu Sosiologi Perkotaan Prodi Pengembangan Masyarakat Islam Fakultas Ilmu Dakwah & Ilmu Komunikasi UIN Jakarta.
Anggota Dewan Tafkir PP Persatuan Islam (Persis) & Dosen Ilmu Sosiologi Perkotaan Prodi Pengembangan Masyarakat Islam Fakultas Ilmu Dakwah & Ilmu Komunikasi UIN Jakarta.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya