Dark/Light Mode

Kesunyian di Jantung Kota

Jumat, 21 November 2025 07:07 WIB
Ilustrasi: Pixabay
Ilustrasi: Pixabay

Sebagai seorang yang menepi di perbatasan kota dan memiliki sanak keluarga yang bertahan di jantungnya, pertukaran kabar ihwal keadaan lingkungan adalah rutinitas yang tak terhindarkan. Belum lama ini, dari saudara yang menetap di sebuah gang padat di jantung urban, saya menerima sepotong kabar yang cukup menjeda napas.

Ketika senja merayap, persis sesudah azan Magrib usai, jalan di hadapan rumahnya laksana diserobot keheningan — sunyi yang benar-benar lengang. Gang yang dulunya adalah kancah riuh-rendah jerit tawa anak-anak, tempat mereka bergumul di bale-bale kecil depan rumah saat sisa panas hari masih terasa, kini menjelma menjadi kekosongan.

Institusi keagamaan di sekitar, seperti masjid, hanya menumpahkan keramaian pada lima waktu salat berjemaah, atau menjelang Subuh. Memang, kegiatan mengaji anak-anak masih bertahan di beberapa sudut, tetapi durasinya lebih banyak bergeser ke rentang pagi hingga siang, menyesuaikan irama sekolah.

Kegelisahan itu muncul ketika saudara saya di sana berujar: “Begitu Magrib, semua seolah terjeda, berhenti sejenak.”

Mereka yang biasanya tumpah ke luar rumah selepas jam kerja atau setelah sekolah, kini memilih berdiam di dalam, menggawai — HP di tangan, layar menyala — sebagai sebuah “pengalih” yang praktis. Mereka merasa lebih aman terkurung di dalam rumah menatap layar, ketimbang melangkah keluar di malam hari tanpa pengawasan orang tua atau kehadiran teman sebaya. Namun, ini bukan sekadar urusan memilih hiburan: lebih dari itu, ia adalah manifestasi nyata dari kesunyian yang menempel di ruang-ruang yang sejatinya padat dan sempit di kota.

Pertanyaannya kemudian, mengapa kota yang tampak berdenyut—pusat perbelanjaan penuh, kafe menjamur, gedung-gedung tinggi menembus langit—justru menyimpan gang-gang sempit yang mati dalam kesunyian selepas Magrib? Kenapa di antara himpitan rumah-rumah, suasana bisa berubah menjadi mencekam ketika lampu jalan mulai berkedip atau hampir mati?

Baca juga : Penghargaan Achmad Bakrie Dibawa Langsung Ke Kampus

Saat saya mencoba merayapi akar persoalan ini, beberapa temuan menarik muncul untuk dibedah.

Pertama, perihal kepadatan dan sempitnya ruang di hunian urban membuat kesempatan interaksi yang natural antartetangga semakin terdesak. Keluarga yang mestinya bisa berbagi cerita di bale-bale depan rumah kini memilih ruang di dalam rumah, masing-masing terbenam dalam gawainya. Gawai telah melampaui fungsinya sebagai alat; ia adalah penjaga malam, pengisi waktu, dan substitusi bagi interaksi. Anak-anak, setelah bel sekolah berbunyi, tak lagi berserakan di luar; mereka tersedot masuk, membuka gadget, dan terperangkap dalam ruang privat yang ironisnya padat namun senyap.

Jika kelas menengah-atas masih memiliki privilege untuk mencari pelarian di kafe, restoran, atau les tambahan sepulang sekolah, kaum menengah-ke-bawah tak memiliki akses serupa. Maka bagi mereka, gawai adalah oase hiburan yang menawarkan kedalaman di tengah kesempitan ruang dan kelangkaan interaksi sosial nyata.

Kedua, saya semakin yakin bahwa “kesepian urban” bukan lagi sekadar diksi yang elok untuk dibahas di ruang seminar. Ia hadir, begitu dekat, bahkan terkadang menempel pada paras-paras yang kita sapa saban hari. 

Ambil contoh di Bandung. Sebuah kajian kecil di Kiara Artha Park—sebuah ruang publik yang selalu terlihat berjubel—menghasilkan data yang mengejutkan: rata-rata skor kesepian pengunjung berada di angka 42 pada skala UCLA. Angka itu tergolong kategori sedang. Artinya, bahkan ketika orang-orang datang ke taman, duduk di bangku, atau berjalan di jalur pejalan kaki, sesungguhnya tak sedikit dari mereka yang membawa serta keheningan yang tak terlihat itu.

Skala nasional menampilkan cerminan yang tak jauh beda. Data IFLS-5—survei besar yang menjaring lebih dari tiga puluh ribu responden—menguak fakta bahwa sekitar satu dari lima warga Indonesia merasakan kesepian dalam frekuensi mingguan. Ada yang hanya beberapa hari, ada yang hampir setiap hari. 

Baca juga : Lewandowski Masih Ogah Gantung Sepatu

Dan kesepian ini tak pernah sekadar perasaan yang melintas. Ia berkelindan dengan merosotnya kesehatan fisik, tidur yang tak utuh, kondisi mental yang getas, bahkan terkikisnya rasa percaya terhadap tetangga.

Ketiga, institusi-institusi sosial yang dulu menjadi pasak interaksi di lingkungan padat—masjid, majelis taklim, ruang komunikasi keagamaan—kini turut merasakan efek domino. Meskipun masih beroperasi, frekuensi dan intensitasnya tak lagi setebal dulu. 

Di lingkungan yang padat dan serba sibuk, waktu seakan berhenti lebih awal; rutinitas kian menyatu dalam teknologi, bukan lagi dalam ruang-bincang fisik. Kondisi ini menciptakan gang-gang kota, yang secara fisik penuh rumah dan manusia, menjadi “ruang kosong sosial” segera setelah matahari tergelincir.

Lantas, bagaimana kita menafsirkan realitas ini?

Masyarakat kota — entah yang menghuni apartemen mewah maupun yang berdesakan di gang sempit — sedang bergerak menuju titik temu yang serupa, yakni terbatasi oleh waktu dan ruang untuk interaksi yang natural. Konsekuensinya, perasaan kesepian semakin mendera. 

Tempat-tempat hiburan, kafe, dan dunia digital bisa menjadi selingan sementara, namun hakikat kesepian tak pernah sepenuhnya ditawar oleh aktivitas yang hanya temporer. Di tengah semua kemilau kota, ada retakan halus: ruang manusia yang berhenti saling menyapa.

Baca juga : Subsidi yang Tersesat

Namun, kita pun tak boleh memejamkan mata terhadap transformasi tak kasat mata yang mulai bersemi. Di beberapa lingkungan kota, muncul fenomena religiusitas baru: gang-gang perumahan, rumah-rumah berhimpitan, kini turut disemai oleh pertemuan majelis, pengajian sore, atau kegiatan keagamaan lainnya. 

Walau bentuknya berbeda—bukan lagi bermain di bale-bale depan rumah atau berbincang santai selepas Magrib—namun ini menunjukkan bahwa kerinduan untuk interaksi sosial dan spiritual itu tetap hidup. Di sinilah kita menemukan seberkas harapan: bahwa meskipun ruang fisik telah berubah, manusia masih mencari ruang makna, ruang kebersamaan yang hakiki.

Jika ditarik benang merahnya, kota-kota kita tengah melaju ke arah yang sama: ritme hidup kian terburu, ruang sosial kian renggang, dan percakapan tatap muka takluk di hadapan layar. Kesepian tidak hadir hanya karena seseorang menetap di kota—itu simplifikasi yang terlampau jauh. Tetapi kota, dengan segala hingar-bingar dan sebaran energinya, justru menyediakan banyak celah bagi orang untuk merasa terasing di tengah keramaian. Kita berjalan berdampingan, tetapi tak selalu terhubung.

Sebagai sebuah penutup, barangkali kita perlu membiasakan diri mendengar lebih saksama suara-kecil dari gang-gang kota yang membisu ketika Magrib. Sebab di balik kediaman yang padat itu, tumbuh subur kesepian yang tak selalu kasat mata. Dan jika kita tak hadir, secara sadar atau tidak, kita sedang merelakan ruang publik menjadi ruangan bisu. 

Kota yang hidup bukan semata tentang gemerlap gedung dan lampu, melainkan tentang suara manusia yang bersua, tangan yang saling menjabat, dan cerita yang mengalir dari satu generasi ke generasi berikutnya. Di sanalah, kesunyian di masyarakat kota akan berhenti menjadi gejala, dan mulai menjelma menjadi alasan kuat bagi kita untuk kembali hadir satu sama lain — meskipun hanya di trotoar yang sempit, bale-bale kecil, atau ruang pengajian sore. [*]

 

Dr. Tantan Hermansah
Dr. Tantan Hermansah
Anggota Dewan Tafkir PP Persatuan Islam (Persis) & Dosen Ilmu Sosiologi Perkotaan Prodi Pengembangan Masyarakat Islam Fakultas Ilmu Dakwah & Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.