Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Stop jadi Toko Penyedia Bahan Mentah bagi Intelektual Asing
Minggu, 21 Desember 2025 17:26 WIB
Hilirasi tidak hanya soal sumber daya alam. Hilirasi juga ihwal keilmuan.
Bicara hilirisasi, kita selalu teringat soal sumber daya alam. Padahal, keilmuan juga adalah hal yang tidak kalah penting untuk dihilirasi. Kondisi bangsa ini, kita sadari betul, dunia menjulukinya sebagai laboratorium terlengkap di planet ini. Untuk itu, sudah semestinya kita berhenti menjadi "toko penjual bahan mentah" bagi supremasi intelektual asing.
Kita memiliki fenomena yang tidak dimiliki bangsa mana pun, fenomena multipotensi yang berjejer dari Sabang hingga Merauke. Ada 17.504 pulau dengan tiga zona waktu, 714 bahasa yang hidup berdampingan, keanekaragaman hayati yang mengantar kita masuk kategori mega-biodiversity. Dan dari semua ini, ironi paling getir adalah bagaimana kita terus jadi objek penelitian, bukan subjek yang menguasai pengetahuan ihwal dirinya sendiri.
Mengakarnya sindrom keilmuan ini bermula sejak abad ke-19. Kala dokter militer Belanda, Eugène Dubois, tiba di Trinil pada 1891 dan menemukan fosil yang kemudian diberi nama Pithecanthropus erectus. Temuan yang mengonstruksi persepsi dunia tentang evolusi manusia ini lahir di tanah Jawa, tetapi kemudian dunia mengenal Eugene Dubois sebagai "Bapak Paleoantropologi", sedang Indonesia hanya sekadar lokasi penggalian. Lalu Homo Wajakensis, itu ditemukan di Tulungagung pada 1889 oleh B.D Van Reitschotten, seorang ilmuwan Belanda.
Baca juga : Sultan Minta Siswa Penerima Beasiswa PIP Hindari Perilaku Bullying
Pola ini terus berulang. Indonesia menyediakan laboratorium, dunia luar menuai ketenaran.
Garis Wallace, sebuah garis pemisah antar fauna Asia dan Australia, menjadi bukti tambahan bagaimana supremasi intelektual kita diserahkan begitu saja. Alfred Russel Wallace datang mengamati, mencatat, lalu pergi membawa teori yang kini dikenal dunia dengan namanya. Fenomena biogeografis ini ada di Selat Lombok, melibatkan spesies endemik Indonesia, namun yang diabadikan dalam literatur sains global adalah nama asing. Hal yang sama terjadi pada Garis Wales dalam kajian linguistik. Perbedaan dialek dan bahasa di Indonesia ini justru dipetakan peneliti asing, bukan peneliti tanah air. Padahal, kita memiliki modal yang besar, kita memiliki kekayaan linguistik luar biasa. Mulai dari Jawa yang dituturkan 75 juta orang hingga bahasa Papua dengan penutur puluhan ribu.
Bahkan untuk hewan ikonik seperti komodo, narasi serupa lagi-lagi terulang. Meluasnya keberadaan komodo bermula pada 1912 kala direktur Museum Zoologi Buitenzorg, Pieter Antonie Ouwens, mempublikasi jurnal setelah menerima foto dan kulit reptil ini. Yang lebih menyengat, pada 1926, 12 spesimen komodo yang diawetkan dan 2 komodo hidup dibawa dari Pulau komodo melalui sebuah ekspedisi yang dilakukan W. Douglas Burden. Film King Kong 1933 terinspirasi oleh ekspedisi ini. Nama "Komodo Dragon" pun diucapkan pertama kali oleh Burden.
Lihatlah bagaiman hewan endemik Indonesia, habitatnya di Indonesia, tetapi nama populernya diciptakan oleh orang luar. Masyarakat lokal menyebutnya ora, tetapi dunia mengenal Komodo dragon atas jasa Burden.
Baca juga : 7 Tokoh Penerima Satya Budaya Narendra AKI 2025, Ini Daftarnya
Dalam hal geologi, hal serupa terjadi. Padahal, Indonesia bertengger di Ring of Fire dengan kompleksitas tektonik luar biasa, dengan laboratorium geologi terlengkap: dari Krakatau hingga tsunami Aceh, dari lempeng Indo-Australia hingga subduksi Jawa. Lalu mengapa kemudian teori-teori ihwal subduksi, vulkanisme, dan seismologi yang notabene berkembang pesat dari data Indonesia malah menempatkan nama-nama asing dalam jurnal-jurnal riset akademis global.
Ini bukan ihwal nasionalisme sempit atau xenofobia intelektual. Ini tentang kemandirian epistemologis yang fundamental. Selama ini kita terperangkap dalam sindrom "penyedia data mentah" yang kemudian diolah menjadi teori bernilai tinggi di luar negeri.
Mahasiswa Indonesia belajar Garis Wallace dari buku teks asing, seolah fenomena di Selat Lombok adalah murni penemuan Barat. Peneliti Indonesia mengutip teori berbasis data Indonesia yang dikembangkan akademisi luar. Ini penjajahan intelektual paling halus dan berbahaya. Penjajahan yang berpotensi menciptakan ketergantungan epistemologis permanen.
Pertanyaannya, mengapa kemudian Indonesia tidak mampu, atau tidak berani, mengklaim supremasi intelektualnya? Mengapa negara dengan laboratorium terlengkap dunia ini mesti terus jadi penonton dalam gelanggang gagasan global?
Baca juga : Berantas Mafia Tanah Sampai Ke Akarnya
Masalahnya adalah mentalitas yang masih terbelenggu sindrom kolonial, merasa tidak mampu, mudah terpesona validasi asing, tidak percaya diri mengklaim kepemilikan intelektual atas fenomena di tanah sendiri. Kuta terlalu nyaman jadi penyedia bahan mentah, baik sumber daya alam maupun data ilmiah, tanpa ambisi naik kelas jadi pengolah dan pemilik produk jadi.
Jika kita terus demikian, konsekuensinya bisa fatal. Indonesia selamanya menjadi konsumen teori yang lahir dari rahim geografisnya sendiri. Kita mengimpor pengetahuan tentang diri kita dengan harga mahal, persis seperti mengekspor sawit mentah lalu membeli minyak goreng berlabel asing. Bedanya, kolonialisme intelektual ini lebih berbahaya karena berdampak pada kemandirian berpikir bangsa.
Indonesia harus berhenti jadi objek dan mulai jadi subjek dalam percaturan keilmuan global. Sudah saatnya teori-teori besar tentang keanekaragaman hayati, linguistik, geologi, dan antropologi lahir dari tangan peneliti Indonesia. Bukan lagi sekadar menyediakan data, melainkan menciptakan kerangka konseptual yang menjadi rujukan dunia.
Hilirisasi keilmuan adalah keniscayaan jika Indonesia ingin lepas dari jerat kolonialisme intelektual yang telah berlangsung terlalu lama.
Ledang Surya Putra
Mahasiswa Magister Universitas Mataram
Mahasiswa Magister Universitas Mataram
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya