Dark/Light Mode

Dari Pakuan Pajajaran Ke Kebun Raya Bogor, Pesan Kepemimpinan Hijau

Senin, 9 Februari 2026 16:26 WIB
Foto: HIMKI
Foto: HIMKI

RM.id  Rakyat Merdeka - Di tengah dinamika global yang ditandai konflik geopolitik, tekanan ekonomi, dan meningkatnya kecemasan sosial, sebuah pesan tentang kepemimpinan berkelanjutan hadir secara senyap dari ruang hijau Kebun Raya Bogor, Jawa Barat.

Pesan tersebut tidak hadir dalam bentuk slogan pembangunan atau retorika kebijakan, melainkan melalui praktik keseimbangan antara manusia dan alam yang masih terjaga di kawasan bersejarah tersebut.

Kebun Raya Bogor berdiri di atas lapisan sejarah panjang. Kawasan ini dahulu merupakan bagian dari Pakuan Pajajaran, pusat peradaban Sunda yang memandang alam sebagai mitra kehidupan. Dalam pandangan tersebut, hutan dijaga, air dimuliakan, dan ruang hijau diperlakukan sebagai penyangga kehidupan, bukan semata cadangan komoditas.

Baca juga : RI Gabung BoP, Marty Yakin Prabowo Selalu Utamakan Kepentingan Nasional

Nilai tersebut, menurut pemerhati lingkungan dan kearifan lokal Abdul Sobur, lahir dari kesadaran akan batas serta kemampuan manusia untuk menahan diri dalam memanfaatkan alam.

“Alam tidak dipandang sebagai objek eksploitasi, melainkan sebagai bagian dari kehidupan yang harus dijaga keseimbangannya,” ujar Abdul Sobur, Senin (9/2/2026).

Ia menilai praktik pembangunan modern kerap bergerak berlawanan dengan kearifan tersebut. Penebangan hutan, penyempitan sungai, dan eksploitasi lahan atas nama efisiensi dan investasi dinilai telah melampaui daya dukung lingkungan.

Baca juga : Trump Bikin "PBB" Baru, Undang Pemimpin Dunia

“Bencana bukan takdir, melainkan konsekuensi dari pilihan,” kata Abdul Sobur.

Di Kebun Raya Bogor, ironi itu terasa kontras sekaligus menenangkan. Dalam skala terbatas, kawasan ini menunjukkan bahwa hidup berdampingan dengan alam bukanlah utopia. Pepohonan dibiarkan menua, air mengalir tanpa dipaksa, dan aktivitas manusia berlangsung dengan prinsip kehati-hatian.

Ruang hijau tersebut, menurut Abdul Sobur, menghadirkan manfaat yang nyata, mulai dari udara yang lebih sejuk hingga ketenangan batin. “Alam dirawat, dan sebagai balasannya, ia merawat kembali manusia,” ujarnya.

Baca juga : Ujian Perdana Rosenior, Chelsea Hadapi Arsenal di Semifinal Carabao Cup

Ia menilai nilai-nilai tersebut relevan sebagai refleksi kepemimpinan di tengah tantangan pembangunan saat ini. Menurutnya, kepemimpinan tidak semata diukur dari pencapaian produksi, pertumbuhan ekonomi, atau target devisa, tetapi juga dari keberanian untuk menetapkan batas dan menyisakan ruang kehidupan bagi generasi mendatang.

“Kepemimpinan yang berkelanjutan adalah keberanian untuk berkata ‘cukup’ dan kebijaksanaan untuk berpikir jauh ke depan,” kata Abdul Sobur, yang juga menjabat Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI).

Ia menambahkan, keberlanjutan bukan sekadar konsep global, melainkan praktik lokal yang telah diwariskan secara sunyi oleh leluhur. “Peradaban besar bukan yang paling rakus, melainkan yang paling mampu menjaga keseimbangan,” ujarnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.