Dark/Light Mode

Catatan Moh Shofan, Direktur Eksekutif Teras Kebinekaan

Hikmah Idul Fitri Dalam Perspektif Kebinekaan

Senin, 16 Maret 2026 17:33 WIB
Direktur Eksekutif Teras Kebinekaan Moh Shofan. (Dok. Pribadi)
Direktur Eksekutif Teras Kebinekaan Moh Shofan. (Dok. Pribadi)

RM.id  Rakyat Merdeka - Idul Fitri tahun ini terasa istimewa karena dirayakan bersamaan dengan Hari Raya Nyepi. Belum lagi, satu atau dua hari sebelum Ramadhan, kita juga merayakan Tahun Baru Imlek. Ini bukan sekadar kebetulan, tapi menjadi pengingat yang kuat bahwa kita lekat dengan kebinekaan. Kalau pun misalnya, karena ego, kepentingan politik, atau apa pun itu, manusia enggan bertegur sapa karena perbedaan agama atau suku, maka alam akan mempertemukannya.

Di dunia ini, atau setidaknya di negeri kita, berbagai tradisi, keyakinan, dan ritual hidup berdampingan. Koinsidensi ini menjadi pengingat bahwa perbedaan bukanlah ancaman, melainkan kenyataan yang harus diterima, dihargai, dan dikelola secara bijak.

Kehadiran Idul Fitri setelah sebulan penuh menjalani ibadah puasa Ramadan, pada dasarnya adalah perayaan kemenangan spiritual manusia. Ia menandai keberhasilan seseorang dalam menahan diri dari hawa nafsu, amarah, dan dorongan-dorongan yang merusak. Dalam bahasa agama, Idul Fitri berarti kembali kepada fitrah, yaitu keadaan asli manusia yang bersih dan cenderung pada kebaikan.

Fitrah sebagai “Tabula Rasa”

Secara kontekstual fitrah memiliki makna yang sangat luas. Dalam pandangan Islam, manusia diciptakan dengan potensi untuk hidup damai dan membangun relasi yang harmonis dengan sesama. Konflik, kebencian, dan permusuhan bukanlah sifat dasar manusia, melainkan hasil dari berbagai kepentingan, ketakutan, dan ambisi yang berkembang dalam kehidupan sosial.

Konsep fitrah memiliki kemiripan dengan pemikiran filsuf Inggris John Locke, yang menyatakan bahwa manusia pada dasarnya hidup dalam keadaan damai, penuh niat baik, dan saling membantu. Menurut Locke, manusia secara alami memiliki kecenderungan untuk menjaga dan melindungi sesamanya. Namun dalam perjalanan sejarah, kecenderungan tersebut sering kali terganggu oleh perebutan kekuasaan dan kepentingan.

Baca juga : Narasi Kebangsaan Islam Berkemajuan

Dalam suatu Hadits (Sabda Nabi SAW) yang diriwayatkan Bukhari-Muslim disebutkan bahwa setiap manusia lahir dalam kondisi fitrah. Hal ini selaras dengan konsep “tabula rasa” (kertas putih) John Locke atau Jean-Jacques Rousseau yang berpendapat bahwa manusia pada mulanya hidup dalam keadaan polos dan sederhana. 

Kertas putih atau kepolosan itu kemudian berubah ketika manusia mulai hidup dalam masyarakat yang penuh persaingan dan konflik kepentingan. Dalam perebutan sumber daya dan kekuasaan, manusia sering kali kehilangan sifat kemanusiaannya.

Agama hadir bukan untuk menajamkan perbedaan dan konflik, melainkan untuk memainkan peran penting sebagai kekuatan moral yang mengingatkan manusia pada asal-usulnya yang suci. Puasa Ramadhan, misalnya, bukan sekadar ritual menahan lapar dan dahaga. Ia merupakan latihan spiritual yang mengajarkan manusia untuk mengendalikan diri, menumbuhkan empati terhadap orang lain, serta mengikis egoisme yang sering menjadi sumber konflik.

Rekonsiliasi Sosial

Setelah menjalani proses spiritual tersebut selama sebulan penuh, Idul Fitri hadir sebagai momentum untuk memperbarui hubungan antarmanusia. Tradisi saling memaafkan yang menjadi ciri khas Idul Fitri bukan sekadar ritual budaya, melainkan simbol rekonsiliasi sosial. Ia menandai kesediaan manusia untuk menghapus dendam dan membuka kembali ruang persaudaraan.

Dengan demikian, Idul Fitri memiliki makna yang sangat relevan dalam perspektif kebinekaan. Dalam masyarakat yang majemuk seperti Indonesia, hubungan antarkelompok sering kali diuji oleh perbedaan agama, budaya, maupun identitas etnis. Tanpa kesadaran moral yang kuat, perbedaan ini dapat dengan mudah berubah menjadi sumber konflik.

Baca juga : Setahun Prabowo-Gibran, Infrastruktur Fokus Ketahanan Air Dan Energi Hijau

Idul Fitri mengajarkan bahwa kemuliaan manusia tidak diukur dari identitas kelompoknya, tetapi dari kualitas moralnya. Dalam Al-Quran ditegaskan bahwa manusia diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar saling mengenal, bukan saling meniadakan. Pandangan John Rawls tentang pentingnya membangun masyarakat yang adil di tengah keberagaman menemukan relevansinya di sini. Menurut Rawls, dalam masyarakat plural, setiap kelompok harus belajar hidup bersama dengan prinsip saling menghormati. Perbedaan keyakinan tidak boleh menjadi alasan untuk meniadakan hak orang lain.

Maka ketika Ramadan, Imlek, dan Nyepi hadir dalam rentang waktu yang berdekatan, kita seolah diingatkan kembali tentang makna kebinekaan itu sendiri. Dalam satu bulan yang sama, sebagian orang berpuasa, sebagian merayakan tahun baru, dan sebagian lainnya menjalani hari sunyi penuh meditasi. Namun semua itu berlangsung dalam satu masyarakat yang sama.

Situasi ini menunjukkan bahwa kebinekaan bukan sekadar slogan politik, melainkan kenyataan sosial yang harus dirawat. Ia membutuhkan sikap saling menghormati, empati, dan kedewasaan dalam berinteraksi.

Idul Fitri memberikan inspirasi penting bagi upaya merawat kebinekaan. Tradisi saling memaafkan mengajarkan bahwa hubungan sosial tidak harus selalu dibangun di atas kesamaan. Perbedaan justru dapat menjadi dasar bagi terbentuknya solidaritas yang lebih luas. Dalam konteks ini, kebinekaan dapat dipahami sebagai sebuah anugerah sekaligus tantangan. Ia adalah anugerah karena memberikan kekayaan budaya yang luar biasa bagi sebuah bangsa. Namun ia juga menjadi tantangan karena menuntut kedewasaan moral untuk mengelolanya.

Dialog

Filsuf Jerman Jürgen Habermas menekankan pentingnya dialog dalam masyarakat plural. Menurutnya, kehidupan bersama hanya dapat terwujud jika setiap kelompok bersedia membuka ruang komunikasi dan memahami perspektif orang lain. Tanpa dialog, perbedaan mudah berubah menjadi kecurigaan dan konflik.

Baca juga : Catatan Moderasi Beragama Dalam Peringatan Maulid Nabi SAW

Dalam ruang yang sama, berbagai tradisi dan keyakinan akan selalu hadir. Namun justru di situlah keindahan kehidupan bersama. Ketika manusia mampu merayakan perbedaan tanpa kehilangan rasa persaudaraan, maka kebinekaan tidak lagi menjadi ancaman, melainkan menjadi sumber harapan bagi masa depan yang lebih damai.

Dalam semangat itulah, Idul Fitri dapat dipahami sebagai momentum dialog kemanusiaan. Ia mengajak manusia untuk membuka kembali ruang komunikasi yang mungkin sempat tertutup oleh konflik dan prasangka. Melalui sikap saling memaafkan, manusia belajar untuk memulai kembali hubungan sosial yang lebih sehat.

Jika pesan moral Idul Fitri ini benar-benar dihayati, maka kebinekaan tidak lagi dipandang sebagai masalah. Ia justru menjadi sumber kekuatan bagi sebuah bangsa. Dalam masyarakat yang mampu mengelola perbedaan dengan baik, kreativitas sosial akan tumbuh lebih subur, solidaritas akan semakin kuat, dan kehidupan bersama akan menjadi lebih damai.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.