Dark/Light Mode

BAZNAS Dorong Sinergi Filantropi Islam Untuk Kurangi Kemiskinan

Rabu, 24 Juni 2026 11:38 WIB
Wakil Ketua BAZNAS Zainut Tauhid Sa`adi mendorong integrasi zakat, infak, sedekah, dan wakaf untuk memperkuat pengentasan kemiskinan. Dok. Baznas
Wakil Ketua BAZNAS Zainut Tauhid Sa`adi mendorong integrasi zakat, infak, sedekah, dan wakaf untuk memperkuat pengentasan kemiskinan. Dok. Baznas

RM.id  Rakyat Merdeka - Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) menegaskan pentingnya integrasi berbagai instrumen filantropi Islam, seperti zakat, infak, sedekah, wakaf, dan dana sosial keagamaan lainnya. Hal ini sebagai strategi untuk memperkuat pengentasan kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.

Wakil Ketua BAZNAS, Zainut Tauhid Sa'adi menjelaskan potensi besar instrumen filantropi Islam akan memberikan dampak yang lebih optimal apabila dikelola dalam satu ekosistem yang terintegrasi. Menurutnya, setiap instrumen memiliki karakteristik dan fungsi yang berbeda, namun dapat saling melengkapi untuk menciptakan dampak sosial dan ekonomi yang lebih luas.

“Zakat dapat dimanfaatkan sebagai modal usaha produktif untuk membangun kemandirian ekonomi umat, wakaf dapat digunakan untuk penyediaan aset dan infrastruktur produktif, sedangkan infak dapat mendukung program pelatihan dan pendampingan usaha,” kata Zainut seperti dilihat dari kanal YouTube BAZNAS TV, Rabu (24/6/2026).

Baca juga : BAZNAS Salurkan Daging Kurban Untuk 6.700 Pengungsi Palestina Di Suriah

Zainut menambahkan, sedekah juga berperan sebagai bantuan darurat yang menjadi bagian dari jaring pengaman sosial bagi masyarakat yang menghadapi kondisi rentan. Karena itu, seluruh instrumen filantropi Islam perlu disinergikan agar manfaat yang dihasilkan semakin optimal.

“Karena itu, instrumen-instrumen tersebut tidak boleh berjalan sendiri-sendiri, melainkan harus saling menguatkan melalui intervensi yang terintegrasi,” ungkap Zainut.

Zainut menjelaskan, intervensi filantropi Islam dapat dilakukan secara bertahap, mulai dari bantuan darurat dan pemenuhan kebutuhan dasar, pemulihan kondisi masyarakat pascakrisis, pemberdayaan ekonomi, hingga mendorong transformasi sosial dan ekonomi yang berkelanjutan.

Baca juga : ASDP Dorong Konektivitas Dermaga II dan Dermaga I Tanjung Kalian

Menurutnya, pendekatan tersebut dapat memperbesar kontribusi filantropi Islam dalam mendukung pembangunan nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Lebih lanjut, ia mendorong perubahan paradigma filantropi dari sekadar kegiatan amal (charity) menjadi instrumen transformasi sosial yang berkelanjutan. Bantuan yang diberikan, kata dia, tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek mustahik, tetapi juga harus mampu mempercepat pemulihan ekonomi, memperluas inklusi ekonomi, dan meningkatkan kemandirian masyarakat.

“Saat ini, kita masih menghadapi tantangan nyata berupa kemiskinan, masalah kesejahteraan sosial, serta kerentanan ekonomi. Kondisi ini memerlukan solusi yang tidak hanya bersifat ekonomi, tetapi juga harus berbasis pada nilai-nilai solidaritas dan spiritualitas bangsa,” ujarnya.

Baca juga : Sandiana Soemarko, Filantropi yang Konsisten Tebar Kepedulian Sosial

Zainut berharap sinergi dan integrasi seluruh pilar filantropi Islam dapat terus diperkuat sehingga mampu menghadirkan dampak yang lebih luas bagi masyarakat. Dengan demikian, tujuan pembangunan yang berkelanjutan, berkeadilan, dan inklusif dapat terwujud serta manfaatnya dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.