Dewan Pers

Dark/Light Mode

Manut AS, Inggris Siap Kirim Sistem Roket M270 Untuk Ukraina

Kamis, 2 Juni 2022 11:53 WIB
Sistem roket M270 milik Finlandia, yang sedang uji coba di dekat kawasan Rovaniemi, 23 Mei 2022. (Foto: Getty Images via CNN)
Sistem roket M270 milik Finlandia, yang sedang uji coba di dekat kawasan Rovaniemi, 23 Mei 2022. (Foto: Getty Images via CNN)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pemerintah Inggris akan segera mengirim bantuan militer berupa sistem roket multi peluncuran (multiple launch rocket system) ke Ukraina, untuk membantu negara tersebut dalam perang melawan Rusia.

Hal ini disampaikan Menteri Pertahanan Inggris Ben Wallace, Rabu (1/6).

"Kami akan mengirim sistem roket M270 yang mampu menyerang target hingga 80 kilometer (49,7 mil). Ini akan meningkatkan kemampuan pasukan Ukraina secara signifikan, dalam menghadapi perang melawan Rusia," demikian pernyataan Kantor Luar Negeri Inggris, seperti dikutip CNN International.

"Langkah ini terkoordinasi erat dengan keputusan Amerika Serikat (AS), yang telah memberikan sistem roket artileri mobilitas tinggi (HIMARS), yang merupakan varian dari sistem roket multi-peluncuran bantuan Inggris," sambung pernyataan tersebut.

Wallace menegaskan, Inggris mendukung Ukraina dan telah mengambil peran utama dalam memasok pasukan heroiknya, dengan senjata vital yang mereka butuhkan untuk mempertahankan negara.

Berita Terkait : Nico Apresiasi Kerja Sama RI & Korsel Untuk Perkuat Pertahanan

"Sistem roket multi-peluncuran yang handal ini akan memungkinkan Ukraina, untuk melindungi diri mereka dengan lebih baik, dari penggunaan artileri jarak jauh yang brutal oleh Rusia. Yang telah digunakan pasukan Putin tanpa pandang bulu, untuk meratakan kota-kota di Ukraina," papar Wallace.

"Agar sistem roket multipeluncur bisa maksimal, kami siap melatih pasukan Ukraina," tandasnya.

Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden mengumumkan bantuan senjata dan peralatan militer terbaru untuk Ukraina, dengan nilai mencapai 700 juta dolar AS atau sekitar Rp 10 triliun.

Bantuan itu mencakup sistem roket artileri mobilitas tinggi (HIMARS), yang dapat mencapai target 80 km (50 mil).

"Amerika Serikat akan mendukung mitra Ukraina. Serta terus mengirim senjata dan peralatan, agar mereka mampu mempertahankan diri," kata Biden seperti dilansir Reuters, Rabu (1/6).

Berita Terkait : Teleponan Dengan Menlu Kuleba, Retno Tegaskan Komitmen RI Bantu Ukraina

Provokatif

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menilai, permintaan pasokan sistem roket canggih dari Ukraina ke negara-negara Barat, telah melampaui batas. Tidak sopan, dan merupakan provokasi langsung.

"Ini jelas provokasi, karena melibatkan pihak ketiga dalam konflik Ukraina. Kiev menganggap perang ini seperti bisnis. Pelanggannya, negara Barat. Ini melampaui batas. Melanggar norma kesopanan dan komunikasi diplomatik. Benar-benar sebuah provokasi langsung, yang ditujukan untuk menarik Barat ke dalam konflik ini," beber Lavrov dalam konferensi pers di Arab Saudi, seperti dikutip CNN International, Rabu (1/6).

"Tentu saja, politisi Barat yang waras memahami risiko ini. Tapi sayang, tidak semuanya begitu," imbuhnya.

Konsekuensi

Berita Terkait : Hasil Liga Inggris: Liverpool Tempel Man City

Soal kekhawatiran Rusia, yang menyebut pengiriman bantuan senjata ke Ukraina akan meningkatkan eskalasi perang, Blinken menyampaikan penjelasan. 

Menurutnya, Presiden Biden telah memaparkan kepada Presiden Rusia Vladimir Putin, tentang konsekuensi invasi Rusia ke Ukraina, yang dilancarkan sejak 24 Februari lalu.

Salah satunya, AS akan mengirim bantuan keamanan ke Ukraina.

“Tidak ada yang menyembunyikan bola. Ini sudah jelas sejak hari pertama. Presiden Biden, bahkan mengkomunikasikannya langsung kepada Presiden Putin. Jadi, kami telah melakukan persis seperti yang kami katakan. Itulah yang kami lakukan," beber Blinken.

"Kami ingin memastikan bahwa Ukraina memiliki peralatan, untuk mendorong kembali agresi Rusia. Sehingga, bisa memiliki posisi kuat di meja perundingan," tegasnya. ■