Dewan Pers

Dark/Light Mode

Mau Ketemu Putin & Zelensky

Presiden Kita Jadi Juru Damai

Kamis, 23 Juni 2022 07:57 WIB
Presiden Jokowi di antara Presiden Rusia Vladimir Putin (kiri) dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. (Foto: Istimewa)
Presiden Jokowi di antara Presiden Rusia Vladimir Putin (kiri) dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Presiden Jokowi tak berpangku tangan melihat perang Rusia-Ukraina yang sudah berlangsung lima bulan. Jokowi akan segera menemui Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. Mantan Gubernur DKI Jakarta ini ingin mendamaikan kedua pihak agar perang segera berakhir.

Rencana Jokowi akan menemui Putin dan Zelensky disampaikan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, dalam jumpa pers secara virtual, kemarin. Lawatan ini rencananya dilakukan setelah Jokowi menghadiri KTT G7, di Jerman, 26-28 Juni nanti.

Jokowi akan menemui Putin di Moskow. Sementara, pertemuan dengan Zelensky akan dilaksanakan di Kiev. Jokowi menjadi pimpinan negara di Asia pertama yang melakukan kunjungan ke Rusia dan Ukraina.

Pertemuan dengan presiden kedua negara yang sedang berkonflik itu untuk membahas kemungkinan mengakhiri perang dan mendorong perdamaian kedua negara. Retno mengatakan, kunjungan ini dilakukan dalam situasi yang tidak normal dan masalah yang sangat rumit. Namun, Jokowi ingin berkontribusi.

Berita Terkait : Puan Bukakan Jalan Untuk Gibran

"Meskipun situasinya sulit dan masalahnya kompleks, sebagai Presiden G20 dan salah satu anggota Champion Group dari Global Crisis Response Group yang dibentuk Sekjen PBB, Presiden Jokowi memilih untuk mencoba berkontribusi. Tidak memilih untuk diam," paparnya.

Kunjungan Jokowi itu, kata Retno, menunjukkan kepedulian terhadap isu kemanusiaan dan perdamaian. Selain itu, Jokowi juga mencoba memberikan kontribusi untuk menangani krisis pangan yang mulai terasa di seluruh dunia akibat perang Rusia-Ukraina.

Perang Rusia-Ukraina memang menyebabkan krisis pangan dan energi di banyak negara berkembang. Berdasarkan catatan Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia atau FAO, perang Rusia-Ukraina menyebabkan kenaikan harga pangan. Harga daging naik 8,83 persen, produk susu naik lebih dari 6,7 persen, sereal naik 18,28 persen, minyak nabati naik lebih dari 23 persen, dan harga gula naik lebih dari 6 persen.

Rencana kunjungan Jokowi ke Rusia dan Ukraina mendapat sorotan dari sejumlah media asing. Koran di Singapura, Straits Times, misalnya, mengulas rencana pertemuan Jokowi dengan Putin yang dijadwalkan pada 30 Juni. Media China, South China Morning Post (SCMP), juga menyoroti rencana pertemuan Jokowi dan Putin ini. Media tersebut menduga pertemuan itu kemungkinan terkait dengan KTT G20 yang akan digelar di Bali pada November mendatang. Bangkok Post juga menurunkan berita yang isinya kurang lebih sama.

Berita Terkait : Jimmy & Fadlin Siap Bawa AKPI Jadi Lokomotif Hukum Kepailitan

Di Rusia, rencana kedatangan Jokowi sudah menjadi headline sejumlah media. Kantor Berita Rusia TASS melaporkan, rencana pertemuan Jokowi dengan Putin akan digelar di Kremlin pada 30 Juni. TASS, yang mengutip narasumber dari Kremlin, menyebut kunjungan Jokowi ini sangat penting bagi Rusia dalam menjaga hubungan kedua negara. Sumber Kremlin itu juga menyebut Rusia bakal hadir dalam perhelatan G20 nanti.

Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia Hikmahanto Juwana mengapresiasi rencana kunjungan Jokowi tersebut. Kata dia, ada empat catatan kunjungan itu yang layak diapresiasi. Pertama, Indonesia sebagai Presiden G20 telah mengambil inisiatif untuk menciptakan perdamaian dan menghentikan tragedi kemanusiaan di Ukraina, bahkan mencegah terjadinya tragedi pangan dunia. Soalnya, perang di Ukraina telah menyengsarakan banyak pihak, termasuk negara-negara yang tidak terlibat dalam konflik, dan telah berdampak pada perekonomian dunia.

Kedua, rencana Presiden merupakan inisiatif Indonesia untuk selalu ikut dalam ketertiban dunia sebagaimana diamanatkan UUD 1945. Ketiga, Indonesia melakukan kunjungan ini dengan berpegang teguh pada politik luar negeri bebas aktif. Indonesia tidak berpihak kepada Ukraina maupun Rusia sehingga tidak memberi bantuan senjata kepada Ukraina maupun memberi dukungan kepada Rusia atas operasi militer khususnya.

"Keberpihakan Indonesia adalah pada perdamaian dunia dan mengakhiri tragedi kemanusiaan," kata Hikmahanto, kepada Rakyat Merdeka, tadi malam.

Berita Terkait : Menko Polhukam Benarkan Presiden Jokowi Bakal Temui Putin

Keempat, rencana kunjungan dilakukan dalam upaya untuk mencari tahu dan mendalami hal-hal yang dapat disepakati Rusia dan Ukraina agar tercipta gencatan senjata. "Rencana kunjungan ini sama sekali tidak terlambat mengingat perang di Ukraina masih berlangsung sampai hari ini dan beberapa waktu ke depan," tuntasnya.■