Dark/Light Mode

Terus Perangi Intoleransi

Sikap Religius Rakyat Indonesia Panen Pujian

Jumat, 25 Agustus 2023 03:17 WIB
Duta Besar Belanda untuk Indonesia Dubes Lambert Grijns. (Foto Twitter @iasociety)
Duta Besar Belanda untuk Indonesia Dubes Lambert Grijns. (Foto Twitter @iasociety)

 Sebelumnya 
Grijns menambahkan, menurut data lembaga penelitian Pew Research, Indonesia merupakan salah satu negara paling religius di dunia. Masyarakat Indonesia bisa hidup damai di tengah beragam agama, suku, budaya, bahasa dan lain sebagainya.

“Ada kekayaan dan kekuatan dalam kebhinekaan, dan beragam perbedaan itu bukan ancaman,” puji Dubes yang fasih berbahasa Indonesia itu

Lebih lanjut, Grijns mengatakan, Indonesia dan Belanda mempunyai sejarah panjang dalam hal toleransi. Indonesia memiliki nilai gotong royong yang tak memandang agama serta perbedaan lain.

Dia mencontohkan bagaimana masyarakat yang berbeda agama di Indonesia, saling membantu dan menolong dalam kegiatan tertentu. Di Belanda, Grijns bilang, masyarakatnya secara umum mengesampingkan perbedaan demi kebaikan bersama. Semua warga negara berhak hidup bebas dari diskriminasi.

Dia menekankan, Belanda adalah bangsa yang beragam, yang percaya pada rasa hormat untuk setiap manusia, siapa pun mereka. Menurutnya, ada kekayaan dan kekuatan dalam keberagaman. Hal tersebut tidak akan pernah menjadi ancaman.

Baca juga : Penuhi Pasar Domestik dan Ekspor, Sharp Indonesia Resmikan Pabrik AC

 “Negara kita bisa saling bela￾jar untuk masa depan bersama. Kita dapat berangkat dari ‘Kami’ ke ‘Kita,’ dari eksklusif ke inklusif,” ujarnya.

Menyikapi intoleransi yang semakin meningkat, Utusan Khusus untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Belanda, Bea ten Tusscher bercerita, negaranya selalu mempromosikan dialog pemahaman agama untuk toleransi beragama. Pihaknya, lanjut Tusscher, bekerja sangat aktif untuk memerangi intoleransi dan diskriminasi.

Dia juga mempromosikan masyarakat yang inklusif dan toleran. Lebih lanjut, kata dia, agama minoritas di Belanda, termasuk Islam, pada umumnya merasa aman dan diterima.

Kendati masih ada diskriminasi dan rasisme di banyak negara, terutama yang dilakukan individu, tapi, dia menjamin, Belanda adalah negara yang toleran terhadap semua agama. Baik Muslim, Kristen, Yahudi, Buddha, Hindu, dan lainnya.

Dia menambahkan, satu hal yang menarik dari praktik toleransi di negaranya dalam beberapa tahun terakhir. Yakni, lebih banyak masjid daripada gereja yang dibangun.

Baca juga : Metranet Telkom Dukung Percepatan Transformasi Digital Industri Pangan

“Ada ruang toleransi, kebebasan dan keingintahuan bagi semua agama dan kepercayaan untuk merayakan apapun yang dianggap suci, dan kami secara aktif berupaya memerangi diskriminasi dan rasisme, juga terhadap umat Islam,” ucap Tussher

Meski demikian, dia bilang, negaranya masih terus belajar. Tusscher juga mengaku ingin datang dan melihat langsung bagaimana Indonesia mempromosikan dialog dan toleransi untuk perdamaian.

“Saya berharap bisa ke Jakarta, atau jika nanti Ibu Kota sudah pindah, untuk menghadiri dialog ten￾tang pentingnya proses sederhana untuk meningkatkan pemahaman agama,” ucap eks Dubes Belanda untuk Guatemala, Bangladesh, Norwegia dan Bulgaria itu.

Sementara, Direktur Hak Asasi Manusia (HAM) dan Kemanusiaan, Direktorat Jenderal Kerja Sama Multilateral Kementerian Luar Negeri Indonesia, Achsanul Habib menyebut, Pemerintah telah mengimplementasikan resolusi Perserikatan BangsaBangsa (PBB) 16/18 untuk memerangi intoleransi dan diskriminasi, hasutan untuk melakukan kekerasan serta tindak kekerasan terhadap orang berdasarkan agama atau kepercayaan.

“Indonesia secara aktif mempromosikan fakta bahwa intoleransi beragama dan kebencian berbasis agama adalah sesuatu yang tidak dapat ditoleransi, karena bertentangan dengan ketertiban umum,” ujar Achsanul Habib.

Baca juga : Korupsi Pengadaan Truk Di Basarnas Rugikan Negara Puluhan Miliar

Dalam praktiknya, Indonesia menjunjung tinggi dialog keagamaan dan dialog antaragama dengan berbagai negara serta organisasi. Pemerintah juga menjamin hak tempat ibadah dan syiar keagamaan, melalui surat keputusan bersama Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Agama yang diterjemahkan ke dalam peraturan daerah untuk menjaga kerukunan.

Dia menjelaskan, pada 2017, Mahkamah Konstitusi bahkan mengeluarkan putusan bahwa penganut agama tradisional juga berhak memperoleh hak-hak sebagai warga negara. Dia menambahkan, Indonesia juga mengutuk aksi intoleransi berupa pembakaran kitab suci Al-Quran.

“Indonesia memahami bahwa kebebasan berekspresi bukanlah hak mutlak. Tidak untuk merugikan individu lain, sehingga harus dipastikan ada batasannya,” tegasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.