Dark/Light Mode

Quick Count by Litbang Kompas
Anies & Muhaimin
%
Anies & Muhaimin
Prabowo & Gibran
%
Prabowo & Gibran
Ganjar & Mahfud
%
Ganjar & Mahfud
Waktu |

Menggagas Fikih Siyasah Indonesia

Politik Kemanusiaan

Rabu, 9 Agustus 2023 06:00 WIB
Nasaruddin Umar
Nasaruddin Umar
Tausiah Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Inti politik dalam Islam sesungguhnya adalah politik kemanusiaan. Islam menyuguhkan konsep politik bahwa sesungguhnya manusia itu mempunyai rasa kemanusiaan yang sama dan ingin menya­darkan kita bahwa “humanity is only one”, kemanusiaan itu hanya satu.   

Apa pun jenis kelamin, ­etnik, agama, kewarga­negaraan, ­warna kulit, dan status so­sial­nya mempunyai nilai dan harkat kemanuisaan yang sama.

Mereka mempunyai hak-hak asasi yang sama. Mereka ingin dimuliakan dan tidak ingin dihina dan dizalimi. Semua manusia memiliki perasaan yang bisa bahagia, senang, dan tertawa.

Baca juga : Negara Tidak Boleh Mendesakralisasi Agama

Akan tetapi manusia yang sama juga bisa menderita, sedih, dan menangis. Rasa ­kemanusiaan itu bersifat universal, lintas geografis, etnik, kultural, agam, dan status sosial. 

Allah SWT juga sejak awal mengingatkan kita bahwa diri-Nya juga sangat memuliakan anak-anak manusia, sebagaimana ditegaskan dalam ayat: Walaqad karramna Bani Adam (Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam). (Q.S. Al-­Isra’/17:70).    

Ayat di atas mengguna­kan ­istilah karramna (memuliakan), bukannya menggunakan kata fadldlalna (menghormati).

Baca juga : Mewaspadai Ketika Agama Menjadi Legitimasi Politik

Yang pertama menekankan aspek kesakralan manusia dan yang kedua menekankan aspek profanitas manusia.       

Itu artinya Allah SWT me­nem­patkan manusia sebagai makhluk utama, konsisten dan sejalan dengan pernyataannya yang mengatakan manusia diciptakan dalam ciptaan terbaik (ahsan taqwim/Q.S. Al-Tin/95:4).

Ayat di atas juga menggu­nakan kata Bani Adam (anak-anak cucu Adam), ti­dak di­ka­ta­kan wa laqad karramna al-muslimun (Allah ­me­muliakan orang-orang ­Islam).

Baca juga : Tidak Menghilangkan Daya Jihad Agama

 Ayat ini menjelaskan ­bahwa perbedaan etnik, agama, go­longan, dan kewarganegaraan tidak boleh menjadi penghalang untuk berbuat baik antar sesama.

Sebaliknya, perbedaan itu pula tidak boleh menjadi faktor untuk membenci satu sama lain, apalagi kalau hanya perbedaan pilihan dalam politik praktis yang siklus lima tahunan, seperti Pemilu ada yang rutin dilaksanakan di Indonesia.

Allah SWT menegaskan: Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum meng­olok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang meng­­­olok-olok) (Q.S. al-Hujurat/49:11).    
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.