Dark/Light Mode

Quick Count by Litbang Kompas
Anies & Muhaimin
25.23%
Anies & Muhaimin
Prabowo & Gibran
58.47%
Prabowo & Gibran
Ganjar & Mahfud
16.30%
Ganjar & Mahfud
Waktu Update 20/02/2024, 00:17 WIB | Data Masuk 100%

Mayat Berlumuran Darah, Gedung-gedung Rata Dengan Tanah

Gaza 2023 Seperti Hiroshima 1945

Senin, 30 Oktober 2023 08:11 WIB
Foto satelit kondisi Gaza yang hancur. (Foto: CNN)
Foto satelit kondisi Gaza yang hancur. (Foto: CNN)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kondisi Gaza saat ini benar-benar memprihatinkan. Di kanan-kiri terlihat bangunan hancur, rata dengan tanah. Puing-puing bangunan berserakan, menimbun rumah, kendaraan pribadi dan juga korban yang belum bisa dievakuasi. Mayat-mayat berlumuran darah tergeletak di banyak sudut. Gaza di tahun 2023 seperti Hiroshima di tahun 1945.

Sudah 3 pekan tentara Israel membombardir Palestina, tapi belum ada tanda-tanda bakal berhenti. Dunia termasuk Indonesia juga telah bersuara keras mengutuk serangan itu. Namun, Israel tetap tak bergeming. Rudal-rudal tetap saja diluncurkan ke Gaza. Sasarannya macam-macam. Mulai dari pemukiman, gedung bertingkat, sekolah, masjid, gereja dan bangunan lainnya. 

Setiap harinya, ratusan mayat bergelimpangan berlumur darah. Suara sirine ambulans tak henti-hentinya berteriak, membawa setiap korban yang masih bisa diselamatkan ke rumah sakit. Isak tangis jutaan warga Palestina menjadi pemandangan umum di sana.

Berdasarkan catatan otoritas setempat, perang Hamas dengan Israel, sejak Sabtu (7/10/2023) menyebabkan 1.400 korban tewas di pihak Israel dan mayoritas adalah warga sipil. Sementara, menurut Kementerian Kesehatan Palestina, lebih dari 7.700 orang tewas di Gaza, termasuk sekitar 3.500 anak-anak.

Seorang pakar militer bernama Fayez al-Duwairi memprediksi, bahan peledak yang dijatuhkan Israel di Gaza memiliki kekuatan yang sangat besar. Jumlah bahan peledak yang digunakan tentara Zionis itu hampir setara dengan yang dijatuhkan Amerika Serikat ke kota Hiroshima, Jepang.

Fayez menuturkan, jumlah bahan peledak yang dijatuhkan Israel di Jalur Gaza itu mirip seperti pada masa Perang Dunia II. Diketahui, berat bom Hiroshima adalah 15,12 ton. Sementara bom yang dijatuhkan Israel di Gaza adalah 1,5 ton. Namun, bom itu menunjukkan perkembangan peningkatan dan efektivitas bom.

Baca juga : Warga Bekasi Ramaikan HUT RI Dengan Pawai Sepeda Hias

Dengan kestabilan jumlah bahan peledak dapat membuat jumlah ini setara dengan bom Hiroshima. Diketahui, ketika bahan peledak disebarkan ke area yang luas, bahan peledak itu akan lebih kuat ketika jatuh di satu tempat.

Fayed mengatakan, bahan peledak yang dijatuhkan di Hiroshima berjenis TNT. Sedangkan yang digunakan Israel adalah campuran yang dikenal dengan nama RDX atau bahan peledak penuh. Kekuatannya pun setara dengan kekuatan TNT. Sehingga, daya hancur bahan peledak yang dijatuhkan di Gaza melebihi yang dijatuhkan di Hiroshima.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan, ini sebagai fase kedua dari perang tiga minggu yang bertujuan untuk menghancurkan kelompok militan di Palestina. Hasilnya, penduduk Gaza tak bisa mengakses komunikasi dan internet hampir total, imbas bombardir tanpa ampun dari pesawat dan tank tempur Israel.

Para panglima militer Israel memberi isyarat bahwa mereka bersiap untuk melakukan serangan darat yang diperluas. Netanyahu memperingatkan Israel akan menghadapi perang yang panjang dan sulit, tetapi tidak menyebut serangan saat ini sebagai invasi ke Palestina. 

Bukan hanya kondisinya yang mirip Hiroshima pasca dijatuhkan bom atom, kondisi di Gaza bahkan disebut bencana besar oleh lima organisasi di bawah PBB: WHO, UNICEF, WFP, UNDP, dan UNFPA. Mereka menyebut lebih dari 1,6 juta jiwa sangat membutuhkan bantuan kemanusiaan, dengan anak-anak, wanita hamil, dan orang lanjut usia menjadi kelompok paling rentan.

"Gaza berada dalam situasi kemanusiaan yang menyedihkan sebelum terjadinya permusuhan terbaru. Sekarang ini merupakan bencana besar. Dunia harus berbuat lebih banyak," katanya, mengutip Channel News Asia, Minggu (29/10/2023).

Baca juga : KPK Bakal Telusuri Harta Geng-geng Rafael Di Ditjen Pajak

Sekjen PBB Antonio Guterres mengecam aksi Israel. Menurutnya, fakta bahwa dunia internasional telah menemui konsensus untuk melakukan gencatan senjata seharusnya menjadi momentum untuk 'jeda' sejenak.

"Sayangnya, alih-alih berhenti sejenak, saya malah dikejutkan oleh peningkatan pemboman yang belum pernah terjadi sebelumnya dan dampaknya yang menghancurkan. Sehingga melemahkan tujuan kemanusiaan," kata Guterres, Minggu (29/10/2023).

Sebelumnya, pada Jumat (27/10), 120 negara sepakat agar Israel dan Hamas melakukan gencatan senjata kemanusiaan. Hanya saja, 14 negara menolak hal tersebut, termasuk Amerika Serikat dan Israel.

Guterres mengatakan, situasi saat ini harus menjadi tanggung jawab dunia. Karena pada akhirnya, sejarah yang akan menilai perbuatan kita semua. "Ini adalah momen yang nyata. Setiap orang harus memikul tanggung jawabnya. Sejarah akan menilai kita semua," pesannya.

Founder & Chairman Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Dino Patti Djalal memprediksi, perang Israel-Hamas akan semakin buruk. Pasalnya, Israel bertekad menghancurkan Hamas. Sementara, Hamas akan memberikan perlawanan.

Menurut Dino, perdamaian bisa dicapai dengan solusi politik. Sebab, solusi militer tidak akan menyelesaikan masalah. Sedahsyat apapun serangan Israel, tak mungkin membungkam semangat rakyat Palestina untuk merdeka.

Baca juga : Mak Ganjar Jatim Ajak Warga Gresik Hidup Sehat Dengan Senam Ceria

"Israel juga tidak akan mungkin menaklukkan secara militer bangsa Palestina selamanya. Di lain pihak, ribuan rudal dan bom dari Hamas ke Israel secara realistis juga tidak akan mungkin mengakhiri kontrol Israel terhadap Gaza dan tepi barat," ulas Dino.

Ia memandang, harus ada solusi politik berdasarkan perundingan yang disepakati. Seperti status Yerussalem, jutaan pengungsi Palestina di luar negeri, batas wilayah Palestina perlu dikembalikan seperti sebelum tahun 1997, status Masjid Al Aqsa, dan suatu peraturan bersama yang bisa menjamin keamanan masing-masing pihak.

Kata Dino, solusi politik ini sebenarnya sudah ada, yakni solusi dua negara (two states solution). Israel dan Palestina yang merdeka harus hidup berdampingan secara damai, sama-sama mengakui dan menghormati keberadaan dan kemerdekaan masing-masing.

"Namun sayangnya, tidak pernah goal. Karena sama-sama ditentang oleh kelompok keras masing-masing. Akhirnya situasi konflik terus berlanjut dan bahkan semakin merosot," pungkasnya.

Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka, edisi Senin (30/10), dengan judul “Mayat Berlumuran Darah, Gedung-gedung Rata Dengan Tanah, Gaza 2023 Seperti Hiroshima 1945”.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.