Dark/Light Mode

Wamenlu Beberkan Peran Strategis Afrika Bagi RI Di Tengah Tingginya Tensi Global

Jumat, 23 Agustus 2024 10:53 WIB
Wamenlu Pahala N Mansyuri (kanan) dalam pertemuan dengan Wakil Menteri Perencanaan Negara dan Investasi Tanzania, Hon. Stanslaus Nyongo. (Foto: dok. Kemlu)
Wamenlu Pahala N Mansyuri (kanan) dalam pertemuan dengan Wakil Menteri Perencanaan Negara dan Investasi Tanzania, Hon. Stanslaus Nyongo. (Foto: dok. Kemlu)

RM.id  Rakyat Merdeka - Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) RI Pahala N Mansyuri menegaskan, negara-negara Afrika adalah mitra strategis bagi Indonesia. Tak hanya dari sisi historis, terapi juga kepentingan di masa depan.

Tahun depan, Indonesia dan negara-negara Afrika akan memiliki momentum Platinum Jubilee, perayaan 70 tahun Konferensi Asia-Afrika yang digelar di Bandung pada tahun 1955.

Indonesia dan Afrika sama-sama punya kepentingan berupa hak atas pembangunan (right to development), hilirisasi dan pengembangan industri nilai tambah tinggi, serta transisi energi berkeadilan.

"Saat ini, kita melihat ada beberapa hal yang menarik, di tengah tensi global yang meningkat. Beberapa negara menghadapi tekanan untuk memilih merapat ke blok mana. Ini kesempatan bagi kita untuk meyakinkan negara-negara Global South, bahwa kita dapat bekerja sama dengan mengurangi tensi politik," kata Pahala dalam pertemuan dengan Pemimpin Redaksi Media Massa di Jakarta, Kamis (22/8/2024), terkait rencana penyelenggaraan Indonesia-Africa Forum (IAF)-2 di Nusa Dua, Bali pada 1-3 September 2024.

Istilah Global South mengacu pada negara-negara di seluruh dunia, yang kerap dideskripsikan sebagai negara berkembang, kurang berkembang atau terbelakang.

Baca juga : Wamenlu: Negara-Negara Afrika Sangat Ingin Belajar Dari Indonesia

Meski tidak semuanya, mayoritas negara-negara Global South ada di belahan Bumi bagian selatan. Sebagian besar di Afrika, Asia, dan Amerika Latin.

Kaya Mineral Kritis 

Pahala menyebut, di masa depan, negara-negara Afrika akan semakin memainkan peran penting. Karena 10 persen cadangan minyak dan 8 persen cadangan gas dunia ada di Benua Hitam.

“Sebanyak 20-25 persen minyak yang digunakan di kilang-kilang kita berasal dari negara Afrika, Nigeria. Kita berharap, pengembangan kerja sama yang baik dengan Afrika dapat membantu mengamankan kebutuhan energi," urai Pahala.

Negara-negara Afrika juga dikenal kaya mineral kritis. Mereka menguasai 55 persen cadangan kobalt dunia, 48 persen mangaan, 22 persen grafit, dan sebagainya.

"70 persen produksi kobalt di Indonesia, berasal dari Kongo. Ini membatu memuluskan kerja sama hilirisasi mineral kritis," kata Pahala.

Baca juga : Bank DKI Salurkan Bantuan Bagi Korban Kebakaran Di Manggarai Jaksel

Afrika juga menguasai 22 persen grafit, salah satu jenis mineral yang digunakan untuk membuat baterai.

"Jadi, Afrika sebagai negara yang kaya mineral kritis, dapat berkontribusi besar dalam membangun ekosistem produksi baterai di Indonesia," lanjutnya.

Populasi 1,4 Miliar

Afrika sebagai benua yang dihuni 1,4 miliar jiwa dengan populasi usia produktif di kisaran 40 persen, menjadi peluang emas bagi Indonesia untuk melebarkan pintu kerja sama, khususnya di bidang ekonomi. Termasuk untuk kelapa sawit, makanan, minuman, dan pakaian.

"Ini kesempatan kita untuk melakukan diversifikasi ke pasar-pasar non tradisional. Diperkirakan, tahun 2050 nanti, populasi Afrika akan tembus 2,5 miliar dengan kategori penduduk middle income mencapai 50 persen. Terutama di market-market tertentu seperti Mesir, Aljazair, Tanzania, Algeria, Afrika Selatan, dan Mozambik," papar Pahala.

"Karena itu, kita harus bisa masuk ke pasar Afrika sedini mungkin. Kita harus bisa memanfaatkan momentum perayaan ke-70 KAA di tahun depan," tandasnya.

IAF ke-2 Bali

Baca juga : HUT ke-79 RI, BRI Kembali Berikan Beasiswa Bagi Paskibraka Tingkat Pusat

Indonesia-Africa Forum (IAF)-2 akan diikuti 28 Kepala Negara/Pemerintahan dari Afrika, 800 peserta dari wakil pemerintah, organisasi internasional dan regional, serta kalangan bisnis dari Indonesia dan Afrika.

Saat ini, sudah ada 6 konfirmasi kehadiran dari Kepala Negara/Pemerintahan dan 18 pembicara setingkat menteri, 8 orang dari Indonesia dan 10 orang dari Afrika.

"Jumlah ini masih akan terus bertambah. Masih ada 4-6 negara lagi yang leaders-nya akan hadir langsung. Mereka ingin melihat Indonesia sebagai brother atau sister yang bisa diajak kerja sama secara win-win," papar Pahala.

Untuk partisipan, kemarin dilaporkan ada 411 delegasi bisnis dan non bisnis yang akan hadir. Tapi siang ini, sudah bertambah menjadi 487. "Cepat sekali ini," cetus Pahala.

 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.