Dark/Light Mode

Menlu Retno Prihatin Multilateralisme Gagal Tangani Isu Global, Dorong Peran G20

Kamis, 26 September 2024 10:15 WIB
Menteri Luar Negeri Republik Indonesia (Menlu RI) Retno Marsudi menghadiri Pertemuan Para Menteri Luar Negeri G20, di sela Sidang Majelis Umum PBB, di New York, Amerika Serikat, 25 September 2024. (Foto Kemlu RI)
Menteri Luar Negeri Republik Indonesia (Menlu RI) Retno Marsudi menghadiri Pertemuan Para Menteri Luar Negeri G20, di sela Sidang Majelis Umum PBB, di New York, Amerika Serikat, 25 September 2024. (Foto Kemlu RI)

RM.id  Rakyat Merdeka - Menteri Luar Negeri Republik Indonesia (Menlu RI) Retno Marsudi menyampaikan kekhawatirannya terhadap tanda-tanda kegagalan multilateralisme yang semakin terlihat. Retno merujuk situasi kemanusiaan yang semakin memburuk di Palestina sebagai contoh nyata rapuhnya sistem multilateral saat ini.

Pernyataan tersebut dilontarkan Retno dalam Pertemuan Para Menteri Luar Negeri G20, di Amerika Serikat (AS), Rabu (25/9/2024). Pertemuan ini diselenggarakan di sela Sidang Majelis Umum PBB di New York.

“Kegagalan multilateralisme akan berdampak signifikan dan berpotensi membawa dunia menuju masa di mana kekuatan mendominasi keadilan,” kata Retno.

Baca juga : Menperin Agus Gumiwang Raih Gelar Doktor HC, Perprindo Ucapkan Selamat

Genosida di Gaza dan meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, menurut Retno, menjadi pengingat akan urgensi penegakan hukum internasional dan penghormatan terhadap Hak Asasi Manusia (HAM) secara konsisten dan tanpa standar ganda.

“Kita tidak boleh biarkan apa yang terjadi di Ukraina, di Gaza, di Tepi Barat dan di Lebanon menjadi norma (internasional) baru,” ungkapnya.

Namun demikian, Retno tetap optimistis bahwa multilateralisme masih bisa diperbaiki dengan mendorong peran G20. Sebagai informasi, G20 atau Group of Twenty merupakan yaitu forum kerja sama multilateral yang terdiri dari 19 negara dan satu lembaga Uni Eropa. G20 beranggotakan negara-negara dengan perekonomian besar di dunia, baik negara maju maupun berkembang. 

Baca juga : Wamenlu Beberkan Peran Strategis Afrika Bagi RI Di Tengah Tingginya Tensi Global

“Peran G20 strategis untuk mengembalikan kepercayaan terhadap sistem multilateral dan memperkuat tata kelola global yang inklusif dan adil,” tegas Retno.

Sebagai informasi, multilateralisme merupakan istilah yang muncul setelah Perang Dunia II. Multilateralisme memiliki beberapa karakteristik. Di antaranya adalah inklusivitas, totalitas, prinsip non-intenvention, selalu mengedepankan kerja sama, dan prinsip untuk menghormati tatanan hukum internasional.

Lebih lanjut, Menlu perempuan pertama RI itu mengatakan,untuk mencegah kegagalan multilateralisme perlu adanya keterwakilan dalam tata kelola global. Reformasi harus dilakukan agar sistem ini lebih inklusif, representatif, dan efisien, dengan memperhatikan realitas dunia saat ini di mana negara-negara Global South mewakili 85 persen populasi dunia dan memiliki kontribusi ekonomi yang semakin besar.

Baca juga : Gelar Pelatihan Kerajinan Tangan Di Pidie, AMANAH Dorong Generasi Muda Aceh Berinovasi

Retno juga mendorong adaptasi terhadap tantangan-tantangan baru yang muncul. Termasuk kebutuhan akan kerangka baru untuk tata kelola digital, regulasi siber, dan kecerdasan buatan (AI/Artificial intelligence).

"Indonesia mendukung “G20 Call to Action on Global Governance Reform” yang berfokus pada upaya memodernisasi tata kelola global agar lebih siap menghadapi tantangan abad ke-21, serta memastikan bahwa sistem tersebut lebih adil dan inklusif bagi semua negara," pungkasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.