Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Disampaikan Luhut ke Biden Cs, Jokowi & Prabowo Saling Mendukung
Selasa, 1 Oktober 2024 08:58 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Tak hanya di dalam negeri, Menko Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan mengkampanyekan kondusifnya transisi pemerintahan dari Presiden Jokowi ke Presiden terpilih Prabowo Subianto, sampai ke Amerika Serikat (AS).
Rabu (25/9/2024), Luhut bertemu Presiden AS, Joe Biden, saat menghadiri acara Bloomberg Global Business Forum, di AS. Momen pertemuan itu, dibagikan Luhut di Instagramnya, @luhut.pandjaitan, Senin (30/9/2024). Dalam foto yang dibagikan, Luhut dan Biden bersalaman dengan wajah tersenyum menghadap kamera.
Bloomberg Global Business Forum adalah acara tahunan yang diselenggarakan Bloomberg Philanthropies yang mempertemukan para pemimpin bisnis, pemerintahan, dan masyarakat sipil untuk membahas isu-isu global seperti perubahan iklim, perdagangan internasional, kemiskinan, ketidaksetaraan, teknologi, dan kebijakan ekonomi.
Di sela pertemuan itu, Luhut bertemu Biden. Pertemuan dengan Biden terjadi setelah dikenalkan CEO Bloomberg, Michael Bloomberg. Luhut mengaku, bertukar sapa dengan Presiden Amerika Serikat dari Partai Demokrat itu.
"Tak disangka, ternyata beliau masih ingat ketika itu kami pernah berbicara via telepon bersama juga dengan Presiden Jokowi," kata Luhut, dalam keterangan foto di unggahannya.
Baca juga : Bakal Jadi Ketua DPR Lagi, Puan Berbinar-binar
Setelah pertemuan itu, Luhut mengaku langsung terbang menuju Gedung Putih, di Washington DC. Di tempat Biden berkantor itu, Luhut mengaku bertemu Utusan Khusus Amerika Serikat, Amos Hochstein. Luhut menyebutnya tangan kanan Biden. Pertemuan itu untuk berbicara mengenai transisi pemerintahan yang sedang berjalan di Indonesia.
"Dalam kesempatan itu, saya menyampaikan bahwa transisi akan berjalan dengan sangat baik. Karena keduanya (Jokowi dan Prabowo) saling mengenal dan saling mendukung program satu sama lain," terang Luhut.
Mantan Menko Polhukam itu, juga mengaku turut meyakinkan Hochstein bahwa kebijakan luar negeri di era Prabowo nanti juga akan sama bersahabatnya dengan pemerintahan Jokowi. "Kita sama-sama saksikan hari ini Presiden terpilih Prabowo sudah mulai berkunjung ke beberapa negara tetangga," ungkapnya.
Dalam unggahan tersebut, Luhut merasa bangga menyaksikan langkah besar yang diambil untuk masa depan pembangunan berkelanjutan di Indonesia dan dunia.
Di sela-sela Sidang Umum PBB yang digelar di New York, Luhut mewakili Pemerintah Indonesia menandatangani Nota Kesepahaman dengan United Nations Development Programme (UNDP) dan Tony Blair Institute for Global Change (TBI).
Baca juga : Pansus Haji, Galak Di Awal, Letoy Di Akhir
"Dua lembaga ini bergabung dengan Global Blended Finance Alliance (GBFA), platform yang kita gagas sejak Kepresidenan G20 Indonesia dua tahun yang lalu," terang Luhut.
Menurut Luhut, kerja sama ini penting dalam upaya menutup kesenjangan pembiayaan Sustainable Development Goals (SDGs) dan aksi iklim di negara-negara berkembang. "Indonesia, bersama para mitra global, akan terus berada di garda depan untuk memastikan masa depan yang lebih baik bagi semua," tutupnya.
Sebelumnya, Luhut juga mengungkapkan Prabowo akan melanjutkan pembangunan yang sudah dilakukan Jokowi. Hal tersebut disampaikan Luhut usai mengikuti Rapat Paripurna Kabinet, di Ibu Kota Nusantara (IKN), Jumat (13/9/2024).
Luhut mengatakan, dalam Sidang Kabinet itu, Prabowo yang saat ini menjabat Menteri Pertahanan, akan meneruskan apa yang sudah dilakukan Presiden Jokowi. Luhut mengatakan, Prabowo juga tidak ingin ada orang yang memecah belah antara Jokowi dengan Prabowo.
"Karena negara ini sudah maju, semua sudah kompak nggak ada yang perlu dipersoalkan. Menurut saya itu benar sekali,” kata Luhut.
Baca juga : Dasco Soal Susunan Kabinet, Parpol 50%, Profesional 50%
Direktur Pusat Riset Kebijakan Publik dari Institut for Development of Policy and Local Partnership (IDP-LP) Rico Novianto mengamini pernyataan Luhut bahwa transisi kepemimpinan nasional berjalan dengan baik. Salah satunya bagaimana RAPBN 2025 disusun pemerintahan Jokowi dengan mengakomodasi semua program Prabowo.
Menurutnya, kebijakan ini perlu menjadi tradisi. Pemimpin sebelumnya memberikan dukungan terhadap penerusnya, begitu pun sebaliknya. Rico mengungkapkan, transisi yang baik ini pernah dijalankan di Amerika Serikat, saat Presiden George W Bush digantikan Barack Obama.
Rico menambahkan, transisi kepemimpinan yang mulus ini penting mengingat situasi ekonomi global yang sedang mengalami pelambatan. Stabilitas politik di dalam negeri dan iklim investasi yang kondusif, harus terus dioptimalkan demi terciptanya stabilitas nasional.
Situasi ekonomi global itu tidak bisa diremehkan. Dalam situasi itu, perlu penguatan politik luar negeri dengan segala kebijakannya. “Arah kebijakan luar negeri tidak sebatas untuk menjaring investasi bagi kepentingan nasional, tapi juga memainkan peran penciptaan stabilitas regional dan global,” ucapnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya