Dark/Light Mode

Zelensky Kecam Pembicaraan Telepon Kanselir Jerman Olaf Scholz Dan Putin

Sabtu, 16 November 2024 18:32 WIB
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky (Foto: Instagram)
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky (Foto: Instagram)

RM.id  Rakyat Merdeka - Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengecam pembicaraan telepon antara Kanselir Jerman Olaf Scholz dan Presiden Rusia Vladimir Putin, karena dianggap dapat membuka kotak Pandora yang melemahkan upaya mengisolasi Rusia.

“Inilah yang diinginkan Putin sejak lama. Dia ingin melemahkan isolasi Rusia. Dia ingin memiliki negosiasi normal yang tidak akan berakhir dengan apa pun," kata Zelensky seperti dikutip CNN International, Jumat (15/11/2024).

Pembicaraan Putin dan Scholz adalah yang pertama dalam dua tahun terakhir. Pembicaraan ini terjadi di saat Jerman bersiap menghadapi pemilu, dan Eropa menunggu kepastian rencana Presiden Terpilih AS Donald Trump untuk mengakhiri perang di Ukraina.

Dalam panggilan tersebut, Scholz mendesak Putin untuk menarik pasukannya keluar dari Ukraina dan memulai pembicaraan dengan Kiev. "Itu akan membuka jalan bagi perdamaian yang adil dan abadi," kata pemerintah Jerman, seperti dikutip Reuters.

Kremlin mengatakan, percakapan itu datang atas permintaan Berlin. Putin disebut telah memberi tahu Scholz bahwa perjanjian apa pun untuk mengakhiri perang di Ukraina, harus mempertimbangkan aspek kepentingan keamanan Rusia dan mencerminkan realitas teritorial baru.

Zelensky dan pejabat Eropa lainnya telah memperingatkan Scholz atas tindakannya menelepon Putin. Sumber Reuters yang mengetahui masalah ini percaya, pembicaraan itu lebih untuk konsumsi domestik.

Jelang Pemilu 23 Februari 2025, Partai Demokrat Sosial Scholz berada di bawah tekanan partai-partai populis yang bersahabat dengan Rusia. Kedua sisi spektrum politik berpendapat, pemerintah belum mengerahkan diplomasi yang cukup untuk mengakhiri perang.

Baca juga : Ucapkan Selamat, Biden Telepon Trump Ajak Ketemuan Di Gedung Putih

"Kanselir mendesak Rusia untuk menunjukkan kesediaan membuka pembicaraan dengan Ukraina, dengan tujuan mencapai perdamaian yang adil dan abadi," kata Juru Bicara Pemerintah Jerman.

"Kanselir menekankan tekad Jerman yang tak putus mendukung Ukraina dalam melawan agresi Rusia selama diperlukan," imbuhnya.

Namun, Ukraina menilai percakapan telepon Scholz dengan Putin tidak membawa nilai tambah apa pun untuk mencapai perdamaian yang adil.

"Pembicaraan telepon itu justru memungkinkan Rusia untuk tidak mengubah apa pun dalam kebijakannya, untuk tidak melakukan apa pun pada intinya, dan inilah yang menyebabkan perang," papar Zelensky dalam pidato pada Jumat (15/11/2024) malam.

Pembicaraan telepon Scholz dan Putin terjadi, seminggu setelah Trump terpilih sebagai Presiden ke-47 AS.

Putin menyatakan dapat mengakhiri perang dengan cepat, tanpa menjelaskan caranya. Berulang kali, Putin mengkritik skala bantuan keuangan dan militer Barat untuk Kiev.

"Pembicaraan telepon itu mengirimkan sinyal buruk, terutama setelah pemilihan Trump," kata seorang diplomat Barat.

Baca juga : Berkat Pemberdayaan BRI, Kelompok Petani Durian di Pekalongan Makin Sukses

“Harapan saya, Scholz dapat mengatakan kepada pemilihnya 'lihat, saya telah melakukannya', dan itu membuang-buang waktu karena Putin tidak terbuka untuk apa pun," sambungnya.

Kesepakatan Energi

Kremlin mengatakan, Putin telah memberi tahu Scholz bahwa Rusia bersedia menjalin kesepakatan energi jika Jerman tertarik.

Sebelum perang, Jerman sangat bergantung pada pasokan gas Rusia. Namun, pasokan tersebut langsung berhenti ketika jaringan pipa di bawah Laut Baltik diledakkan pada tahun 2022.

Rencana Scholz

Scholz berencana menyampaikan penjelasan kepada Zelensky, sekutu Jerman, mitra dan kepala Uni Eropa dan NATO tentang pembicaraan telepon dengan Putin pada Jumat (15/11/2024).

Ukraina dilaporkan tengah menghadapi kondisi yang semakin sulit di garis depan di wilayah timurnya. Mereka kekurangan senjata dan personel. Sementara pasukan Rusia, disebut mengalami kemajuan yang stabil.

Pasukan Korut

Melansir Reuters, seorang pejabat pemerintah Jerman mengungkap, Scholz telah memberi tahu Putin bahwa pengerahan pasukan Korea Utara (Korut) ke Rusia untuk misi tempur melawan Ukraina, dipandang sebagai eskalasi serius dan perluasan konflik.

Menurut info Zelensky, saat ini Korut memiliki 11.000 tentara di Rusia. Beberapa di antaranya telah menjadi korban dalam pertempuran dengan pasukan Ukraina, yang saat ini menduduki wilayah Kursk, selatan Rusia.

Baca juga : Kelompok Penerima Bantuan TEKAD Kampung Oransbari Berdaya dengan Olahan Kelapa

Jerman dikabarkan telah menyumbang senilai total 15 miliar euro atau setara Rp 251,42 triliun kepada Ukraina dalam bentuk dukungan keuangan, kemanusiaan, dan militer sejak dimulainya perang skala penuh.

Jerman adalah pendukung terbesar kedua Kiev, setelah AS.

Masa depan bantuan AS ke Ukraina penuh ketidakjelasan setelah Trump memenangkan Pilpres AS 2024.

Scholz dan Putin terakhir berbicara pada Desember 2022, atau 10 bulan setelah Rusia meluncurkan invasi skala penuh ke Ukraina.

 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.