Dark/Light Mode

Veto Lagi Resolusi PBB Soal Gencatan Senjata Di Gaza

AS Nggak Serius Stop Perang Di Timur Tengah

Jumat, 22 November 2024 06:20 WIB
Ilustrasi sidang Dewan Keamanan PBB (Foto: REUTERS/Andrew Kelly
Ilustrasi sidang Dewan Keamanan PBB (Foto: REUTERS/Andrew Kelly

RM.id  Rakyat Merdeka - Amerika Serikat (AS) yang memveto resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) soal gencatan senjata di Jalur Gaza, Paestina, Rabu (20/11/2024), memicu kritik terhadap Pemerintahan Presiden Joe Biden. AS dinilai nggak serius selesaikan konflik dan perang di Timur Tengah.

Resolusi tersebut untuk menghentikan konflik antara Israel dan Hamas yang telah berlangsung selama lebih dari 13 bulan. Resolusi yang diajukan 10 anggota tidak tetap DK PBB menyerukan gencatan senjata segera, tanpa syarat dan permanen serta pembebasan sandera.

Pemungutan suara di DK PBB yang beranggotakan 15 negara itu digelar Rabu (20/11/2024) waktu setempat. Hanya AS yang menolak resolusi itu dengan menggunakan hak vetonya sebagai anggota tetap DK PBB.

Ini adalah veto ke-49 AS untuk membela Israel di PBB. Alhasil, resolusi itu pun gagal disahkan. Hak veto tersebut menandai perlindungan diplomatik AS kepada Israel yang masih terus melancarkan serangan di Jalur Gaza dan meluas ke Lebanon.

Para anggota DK PBB mengkritik AS karena memblokir resolusi yang diajukan oleh 10 anggota tak tetap DK PBB: Aljazair, Ekuador, Guyana, Jepang, Malta, Mozambik, Korea Selatan, Sierra Leone, Slovenia dan Swiss.

Duta Besar (Dubes) Prancis untuk PBB Nicolas de Riviere menyayangkan langkah AS. Dia menganggap Washington tidak serius menyelesaikan konflik di Timur Tengah (Timteng).

“Prancis masih memiliki dua warganya yang disandera di Gaza. Kami sayangkan AS tidak mau mendukung resolusi ini,” ujar Dubes Riviere dikutip Reuters, Kamis (21/11/2024).

Baca juga : Tom Lembong Mengaku Masih Syok Jadi Tersangka Korupsi

Dubes China untuk PBB Fu Cong juga mengkritik veto AS tersebut. Menurut Dubes Fu, perang di Timur Tengah bisa segera selesai jika AS mau menyetujui resolusi dari DK PBB.

“Mau berapa banyak lagi korban nyawa yang harus dikorbankan sebelum AS benar-benar sadar?” tanya Dubes Fu.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres kecewa dengan sikap AS. Juru Bicara Guterres, Stephane Dujarric mengatakan, Sekjen PBB berkomitmen mendukung upaya untuk mengakhiri konflik, mencapai pembebasan tanpa syarat semua sandera dan memajukan implementasi solusi dua negara.

Wakil Dubes AS untuk PBB Robert Wood menjelaskan bahwa Washington hanya mendukung resolusi yang secara tegas menyerukan pembebasan sandera sebagai bagian dari gencatan senjata.

“Akhir perang yang langgeng harus dicapai dengan pembebasan para sandera. Kedua tujuan mendesak ini saling terkait erat. Resolusi ini mengabaikan kebutuhan itu. Karena alasan itu, kami tidak dapat mendukungnya,” terang Wood.

Wood menilai, usulan resolusi tersebut akan memberikan pesan kepada Hamas bahwa mereka tidak perlu kembali ke meja perundingan.

Operasi militer Israel di Jalur Gaza telah menyebabkan sekitar 44.000 orang tewas sejak 8 Oktober 2024. Sementara ribuan lainnya tewas di Lebanon dan Israel.

Baca juga : Nissa Sabyan Sudah Dinikahi Ayus

Presiden Biden yang akan mengakhiri masa jabatannya pada Januari 2025, terus memberikan dukungan diplomatik dan militer kepada Israel. Upaya mediasi untuk mencapai gencatan senjata yang mencakup pembebasan sandera dan tahanan Palestina belum membuahkan hasil.

Dukungan diplomatik untuk Israel dari Washington ini bukanlah hal baru dan telah berlangsung selama beberapa dekade.

Menurut catatan Jewish Virtual Library dikutip Middle East Eye, Kamis (21/11/2024), sebelumnya AS menggunakan hak vetonya terhadap rancangan resolusi DK PBB yang berkaitan dengan Israel sejak pertama kali digunakan pada 1970.

Resolusi pertama yang diblok AS, yaitu S/10784 yang menyatakan keprihatinan mendalam atas memburuknya situasi di Timur Tengah dan ditujukan pada agresi Israel di perbatasan Lebanon.

Resolusi yang dibuat Guinea, Yugoslavia dan Somalia itu diveto AS. Beberapa resolusi serupa juga diveto oleh AS pada tahun-tahun berikutnya.

Pada 1975, tahun pecahnya perang saudara di Lebanon, resolusi S/11898 menyerukan Israel segera menghentikan semua serangan militer terhadap Lebanon. AS satu-satunya negara yang memveto.

Pada 1982, Spanyol mengajukan rancangan resolusi yang menuntut Israel menarik semua pasukan militernya dari Lebanon. AS memvetonya.

Baca juga : Prabowo Dan Jokowi Banyak Kesamaannya

AS juga memveto resolusi serupa pada 1985, 1986, dan 1988. Perang saudara Lebanon berakhir pada 1990 tetapi Israel tidak menarik diri dari wilayah selatan negara itu hingga tahun 2000.

Pada 1976, AS juga memveto resolusi yang menyerukan Israel menarik diri dari semua wilayah Palestina. Dalam hal ini, Inggris, Swedia dan Italia abstain.

Draf dari Tunisia yang diajukan pada 1980 menekankan hak-hak yang tidak dapat dicabut dari rakyat Palestina. AS menentangnya. Inggris, Prancis, Norwegia dan Portugal abstain. DAY

Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 14, edisi Jumat, 22 November 2024 dengan judul "Veto Lagi Resolusi PBB Soal Gencatan Senjata Di Gaza, AS Nggak Serius Stop Perang Di Timur Tengah"

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.